Langsung ke konten utama

Sujudul Qolbi

Woko Utoro

Dalam peringatan Haul Mbah Hamid Pasuruan ke-45 Gus Baha menjelaskan potongan nasihat di Kitab Ithaf karangan Sayyid Zabidi. Kitab Ithaf merupakan syarh atas Ihya Ulumuddin Imam Ghazali. Gus Baha menjelaskan tentang sujudnya hati atau hati yang bersujud. Seperti kita tahu sujudnya anggota badan dijelaskan dalam fikih. Sedangkan fan tasawuf menjelaskan bagaimana hati bersujud.

Kata Gus Baha tentu fikih dan tasawuf tidak bisa dipisahkan. Kedua ilmu tersebut harus beriringan. Bahkan alim fikih harus lebih dahulu dari tasawuf. Memang syariat harus selesai barulah bertahap belajar tentang hati. Intinya sujudnya hati adalah kondisi di mana seseorang begitu yakin dan menikmati tentang tauhid kepada Allah. Jika hati telah bersujud maka tak ada rasa cemas, gundah, takut dan kecewa terhadap sesuatu. Orang yang hatinya bersujud akan mudah bersyukur, sabar dan menerima atas segala ketetapan.

Gus Baha mencontohkan mbah-mbah kita dulu walaupun dalam keadaan dijajah Belanda Jepang tapi masih saja tidak lepas dari sujud, ibadah kepada Allah. Ada orang yang berulang kali gagal dalam hidup tapi ia tetap optimis, tidak tinggal shalat selalu tabah dan semangat itu juga merupakan hati yang bersujud. Kata Gus Baha jika seseorang sudah menikmati ketauhidan kepada Allah maka tidak pernah susah. Makanya kata Gus Baha kadang berdo'a dalam arti lafadz dan amalan seringkali problematik. Orang berharap, orang sering kecewa karena menganggap doanya tidak terkabul. Coba saja hanya murni dengan kalimat Allah insyaallah tidak bisa disalahkan.

Maka dari itu syarat sujudul qolbi adalah memantapkan dulu keyakinan kita kepada Allah, selah itu barulah berdoa. Dalam hal ini Allah tidak ingin dikenal sebagai al mujib tapi juga al jabbar, al qahhar. Allah tidak dibisa diintervensi oleh mahluk apalagi hanya soal urusan duniawi.[]

the woks institute l rumah peradaban 24/8/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Ngaji Ngopi: Edisi Konsep Dakwah di Era Milenial

               (Ngaji Ngopi: doc penulis) Woks Ngaji Ngopi kali ini begitu istimewa sebab acara tersebut kedatangan narasumber yang keren bahkan hingga dipenuhi sesak jamaah. Narasumber tersebut tak lain merupakan founder dari masing-masing orang yang telah memiliki jamaahnya tersendiri dan sesuai bidang kajian yang diampunya. Mereka yaitu Pak Nurwakhidun founder Ngaji Gayeng, Gus Abdillah Subhikin founder Kampung Sufi dan Gus Muhammad Balyahu founder A.T.I (Anak Thariqoh Indonesia). Ngaji Ngopi edisi kali ini tentu membicarakan konsep dakwah dari masing-masing founder tersebut guna mengajak kepada semua orang terutama generasi milenial agar terus membumikan hal-hal baik di kehidupan. Tentu dari masing-masing halaqoh yang mereka nahkodai memiliki ciri khasnya tersendiri sehingga bisa menjadi pilihan anak muda untuk menggali ilmu. Maka dengan adanya mereka dan kelompok binaanya setidaknya menjadi alasan kuat untuk kita terus menc...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...