Woko Utoro
Pada suatu ketika Joko Pinurbo pernah ditanya tentang puisi Pak Sapardi bagaimana mencintai dengan sederhana. Kata Jokpin justru mencintai dengan sederhana itu ya tidak sederhana. Dan memang mencintai dengan sederhana itu sangat sulit. Jadi mengurai kesederhanaan itu memang tidak mudah. Tinggal sudut pandang siapa yang bekerja. Percis dawuh di badan truk, "kebaikan dan keburukan tergantung mulut siapa yang bicara".
Bicara kesederhanaan memang unik. Apalagi jika kesederhanaan menjelma laku. Tidak sedikit laku sederhana ini hadir di tengah-tengah kita. Di antara pejabat glamor ada mereka yang diam-diam berlaku sederhana laiknya orang umum. Di antara pemuda flexing ternyata masih ada yang pelan-pelan berlaku sederhana. Di antara mayoritas orang ingin terkenal ternyata masih ada mereka yang memilih bersembunyi. Jadi kesederhanaan itu di antara alias penyeimbang.
Jika bicara kampus di mana kita bisa menemukan kesederhanaan? Jika mencari di gedung-gedung tentu kesederhanaan tak akan dijumpai. Jika mencari ke setiap gaya hidup hingga pakaian dan kendaraan maka sikap sederhana juga sulit ditemukan. Sebab di era modern ini apapun bersifat semu. Semua bisa saja menipu bahkan yang sering kita anggap selama ini sederhana. Lantas di mana kesederhanaan itu berada. Sederhana saja bahwa kesederhanaan itu laku. Karena laku maka tidak bisa ditentukan oleh bangunan, kendaraan, fashion hingga isi dompet.
Kesederhanaan itu membentuk karakter. Dalam kondisi apapun orang sederhana tidak bisa berbohong. Laku sederhana tidak bisa dimanipulasi. Karena mereka tahu dari mana akar berasal. Jika biasa makan menu sederhana maka hal itu sudah biasa. Jika makan menu mewah hal itu juga disyukuri. Sebab orang sederhana sering tidak nyaman dengan kemewahan. Mereka akan nyaman sebagaimana tradisi sejak kecil yang tertanam lama. Maka jika ada tokoh yang berlaku sederhana tentu jangan aneh. Bisa jadi mereka memang sejak awal tertanam pendidikan bahwa segala sesuatu milik Allah dan hanya numpang lewat. Jika boleh menyebut tokoh saya selalu dengan lantang mengatakan Bung Hatta dan Gus Dur sebagai rujukannya.
the woks institute l rumah peradaban 10/8/26
Komentar
Posting Komentar