Langsung ke konten utama

Nasirun, Ngrumat Ngramut

Woko Utoro

Beberapa hari lalu salah satu maestro lukis Indonesia wafat, namanya Nasirun. Ia sosok yang luar biasa. Sama seperti kebanyakan orang saya pun kaget mendengar berita jika Nasirun berpulang. Padahal kata tetangganya Pak Nasirun masih syahdu menyiram dan menyapu halaman. Saya pun demikian beberapa hari sebelum Nasirun mangkat baru saja melihat ia tampil bersama Kiai Jadul Maula dalan program Menjadi Indonesia NU Online. Tapi itulah duka kadang datang secara tiba-tiba.

Ada hal yang menarik dari sosok Nasirun yaitu penghormatannya terhadap alam. Ia seperti Pramoedya Ananta Toer yaitu suka sekali membakar sampah. Bedanya Nasirun suka menyiram tanaman dan menyapu halaman. Bagi Nasirun kegiatan itu bagian dari bentuk kerendahan hati. Jika kita memiliki ingon-ingon baik hewan maupun tumbuhan maka harus bertanggungjawab. Jika tumbuhan harus disiram. Jika hewan harus dirawat dan diberi pakan. Tentu tugas itu nampak sepele tapi sebenarnya mengandung tanggungjawab besar.

Bayangkan Nasirun itu pelukis terkenal. Nama besarnya pasti membuatnya sibuk. Apalagi jika jadwal pameran nasional hingga internasional pasti akan menghabiskan banyak waktu. Tapi kerennya beliau tidak mau didikte oleh keadaan. Beliau masih tetap menyiram dan menyapu sebagai sebuah tradisi bahkan laku hidup. Tidak salah jika tradisi ngrumat tanduran itu menjadi titik akhir hidupnya. Tapi justru dengan hal itu jelas bahwa sosok Nasirun memang luar biasa. Di balik kebesarannya justru tersimpan kesederhanaan dan kerendahan hati.

Tidak hanya ngrumat tanduran, Nasirun juga pintar ngramut paseduluran. Salah satunya dengan membeli karya orang lain, mensupport seniman muda untuk tampil percaya diri. Nasirun tidak ingin kesuksesan hanya dinikmati sendiri. Justru ketika ia dapat membantu liyan itu adalah sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan yang hakiki adalah kemampuan bersyukur sambil mengangkat kehormatan orang lain. Barangkali itulah warisan Nasirun dari pesan ibunya bahwa yang tak pernah habis adalah, "Bismillah".

Basmallah itulah yang juga Nasirun ugemi (pegang) hingga akhir hidupnya. Baginya pesan ibunya itu luar biasa. Menurut saya ini bagian dari ngrumat tauhid. Jadi Nasirun itu mengamalkan trilogi kehidupan sekaligus yaitu bakti pada Tuhan, alam dan manusia. Ini yang sulit dipraktekkan apalagi ketika seseorang tengah jadi tokoh, naik daun.[]

the woks institute l rumah peradaban 12/8/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...