Woko Utoro
Saya sering digoda mengapa terkadang terlalu baik kepada orang. Misalnya sering membantu menyelesaikan tugas, pekerjaan rumah hingga sekadar meminjamkan uang. Yang terkadang kebaikan itu dianggap dimanfaatkan ke depannya. Kata Prof Naim, akibat tidak enak hati akan bertemu dengan yang tak punya hati.
Memang benar juga terkadang rasa iba sering menipu. Rasa iba membuat kita terjebak. Tapi jika soal kebaikan saya kadang tidak berpikir dua kali. Prinsip saya selama bisa membantu mengapa tidak. Jika pun bantuan itu membuat saya rugi tapi tak mengapa.
Ada prinsip lain mengapa saya sering membantu selain itung-itung amal. Yaitu prinsip 2,5% bahwa di setiap kebaikan yang kita miliki ada hak orang lain. Makanya jika soal kebaikan saya sering berpikir demikian. Jangan-jangan atas yang menimpa kita walaupun itu pahit bisa jadi karena ada 2,5% nya yang belum dikeluarkan. Maka dari itu anggap saja bantuan yang kita keluarkan sama dengan sedekah.
Dalam al Qur'an pun dijelaskan jika membantu ya membantu saja. Karena menolong itu adalah bagian dari takwa. Tidak ada istilah membantu melihat identitas, status atau kemungkinan untung rugi. Tidak ada membantu harus berpikir dahulu. Bantuan kita semata adalah titah Allah. Semua atas kehendaknya.[]
the woks institute l rumah peradaban 15/8/26
Komentar
Posting Komentar