Langsung ke konten utama

Sindrom OIOE atau PPOP




Woks

Salah satu hal yang paling dikenal dalam sistem sosial adalah tingkah laku. Tingkah laku memang hal vital yang paling nampak di masyarakat. Misalnya sikap dingin seorang ayah atau cerewetnya ibu-ibu akan diingat oleh anak-anak. Bahkan sikap arogansi dari pejabat akan selalu diingat seumur hidup oleh mereka para kaum tertindas.

Salah satu sikap yang bisa diamati di masyarakat adalah kehilangan rasa empati atau tidak kooperatif. Teman-teman di lapangan sering menyebutnya sindrom OIOE (Ora Iyo Ora Embuh) atau PPOP (Planga Plongo Ora Puguh). Dua istilah itu sangat mudah ditemui khususnya pada generasi muda saat ini. Umumnya sindrom ini ditemukan saat terjadinya interaksi baik antar individu maupun kelompok.

Ciri-ciri orang mengidap sindrom OIOE atau PPOP adalah: jika ditanya wajahnya tidak fokus pada yang bertanya, jika diajak bicara tidak nyambung, belum bisa membedakan pembicaraan serius atau guyon, secara personal mudah menganggukan kepala tanda paham padahal aslinya tidak, terlalu sibuk dengan gadget, mudah memalingkan wajah, sering acuh dan bodo amat terhadap sekelilingnya. Ciri-ciri tersebut tentu teridentifikasi berdasarkan pengalaman saya di lapangan. Walaupun nampak subjektif akan tetapi ciri-ciri sindrom tersebut nampak nyata di tengah-tengah sosial saat ini.

Membahas tentang dua sindrom ini mungkin sama halnya dengan krisis etika dalam berkomunikasi. Bahkan bisa kita temui juga saat seseorang melakukan komunikasi interpersonal. Mereka cenderung tidak kooperatif dalam menentukan sikap. Padahal komunikasi adalah elemen penting dalam hidup. Ada istilah penting soal komunikasi yaitu, "kesan pertama begitu mengena". Persoalan komunikasi memang selalu berkaitan dengan kesan. Maka dari itu ilmu ini digunakan saat seorang personalia atau HRD mewawancarai karyawan baru atau seorang PSDM menilai micro teaching pada guru baru.

Mengapa dua sindrom itu terjadi dan mengapa banyak ditemukan di era kekinian. Tentu jawabannya sangat kompleks di antaranya: problem psikologis yang terjadi dalam diri, tidak adanya komunikasi interpersonal, kurang perhatian orang tua, kurang asupan pengetahuan, sistem sosial yang keruh, pengaruh media sosial, dunia semakin individual, tidak mengetahui sikap sosial yang bersifat indigenous, serta kurangnya bacaan.

Lantas bagaimana cara menyembuhkan sindrom ini? pertama, kita harus memahami bahwa komunikasi dan sikap adalah hal yang terus diperbaiki. Karena dua hal itu yang paling nampak di keseharian kita. Maka tidak salah jika Nabi Muhammad saw diperintahkan oleh Allah bukan untuk pintar tapi untuk penyempurnaan akhlak. Pintar saja tidak cukup dan di masyarakat yang dinilai adalah kecakapan dalam bersosialisasi alias tingkah laku.

Kedua, seringlah berdiskusi dengan diri sendiri. Berdiskusi dengan diri sendiri membuat seseorang jernih dalam melihat realitas sosial. Dengan cara itu seseorang akan melihat dirinya menjadi lebih berharga. Dengan begitu orang akan menyesuaikan ketika akan berbuat sesuatu di masyarakat. Ketiga, belajarlah untuk menghayati masyarakat. Pembelajaran pengamatan itulah yang disebut membaca fenomena. Pembacaan tersebut lebih dari sekadar membaca buku.

Maka dari itu sindrom ini harus segera diberantas dengan mengikuti ragam kegiatan positif dan ekspresif. Jangan buat tubuh berdiam diri tak berkegiatan sehingga kita harus terus mengevaluasi diri apakah sudah baik atau belum. Jangan mudah tertarik dengan permasalahan orang lain. Kata Abi Ihya Ulumuddin orang yang sering kepo tidak akan mendapatkan "salamatus sadr" atau keselamatan hati.

Hal yang paling penting dari catatan tersebut adalah mari kita kurangi bermain gadget. Karena sindrom ini justru diciptakan karena penggunaan gadget yang berlebihan. Oleh karenanya interaksi dengan orang menjadi penting daripada berdiam diri terpaku di depan gawai sampai-sampai lupa segalanya. Mari belajar waras dan mawas.

the woks institute l rumah peradaban 21/9/22

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...