Langsung ke konten utama

Postingan

Al Qur'an dan Sebuah Jalan Cerita

Woks Bulan Agustus pasca panen raya usai, tepatnya sekitar 7 tahun yang lalu aku memiliki keinginan sederhana. Selain ingin memiliki hp Nokia X2, aku juga ingin memiliki sajadah dan al Qur'an sendiri. Alhamdulillah waktu beranjak dan semua keinginan sederhana itu terwujud. Sebenarnya keinginan itu bagi orang lain adalah hal yang remeh tanpa pernah meninggalkan arti, tapi berbeda bagi diriku keinginan itu adalah hal yang berarti. Harga memang mudah untuk digapai tapi di mata kebutuhan semua itu belum ada apa-apanya. Kadang saat mengingat momen itu aku merasa ingin tertawa. Betapa tidak, al Qur'an dengan harga 30 ribu baru bisa terbeli saat aku duduk dibangku Aliyah. Apakah uang 30 ribu begitu mahalnya sehingga tidak bisa membeli al Qur'an sendiri? Jawabnya sebenarnya sederhana bahwa aku hanya ingin mendapat hal-hal yang diinginkan karena usahaku sendiri, bukan karena belas kasihan orang lain. Pada akhirnya memang ada yang aneh yaitu sajadah ku miliki dari pemberi...

Senandung Reranting

Woks Orang-orang menghinaku karena tak berguna. Jatuh lalu terbang tergeletak lalu terinjak hingga tak ternilai. Di hadapan sang kekasih akulah senandung yang tak pernah usai. Ahh dunia memang menyuguhkan semangkuk cobaan untuk selalu dilewati. Saat aku berpisah dari pohon itu pertanda bahwa rindu harus berakhir sebab Tuhan tak mau ada rindu selain untuk Dia. Ehh Tuhan itu maha cemburu. Kamu tahu bahwa shalatmu, puasamu, zakatmu semua hanya menerbangkan amalmu yang tak seberapa. Tapi cintamu kepadaNya justru mempersatukanmu. Semua tak akan ada artinya apa-apa dalam sebuah kecintaan. Cinta yang tak mengenal tanda titik. Dalam perjalanan panjang itu angin berhembus menerbangkan cobaan ke setiap ranting kehidupan. Bahkan hujan yang deras mematahkan tangkai cita-cita. Maka sebelum musim berganti, kuatkanlah, teguhkanlah segala angan dan cita-cita. Jangan hiraukan badai menerpa, jangan iri dengan kebahagiaan semu. Teruslah berproses dan berkarya tiada henti. Percayalah esok daun...

Menyulam Peradaban Kekancan Pasca Covid-19

        (sumber gambar :Panjoel Potret) Woks Tidak terasa sekarang kita hidup dalam kenyataan bahwa ramadhan kali ini terasa sangat berat. Di satu sisi menerima amanat untuk menjalankan serangkaian ibadah ramadhan seperti puasa, tarawih, dan zakat di sisi yang lain kita masih terus berjuang melawan Covid-19 yang masih mewabah. Sebenarnya sejak dulu kita sudah mengerti bahwa ritualitas puasa bukanlah suatu beban bahkan syariat sendiri telah memberi pilihan seperti orang tua renta, perempuan yang menyusui anaknya, musafir, orang hilang akal dan lainya boleh meninggalkan puasa atau lebih tepatnya ruhsoh (keringanan). Selama ibadah puasa ini tentu rasa khawatir terkait penyebaran Covid-19 masih menghantui kita. Lebih lagi terkait longsoran ekonomi yang begitu terasa dalam kebutuhan sehari-hari. Harga-harga bahan makanan pokok sudah biasa naik saat ramadhan tiba sedangkan perusahaan tempat bekerja dihentikan sementara. Darisanalah hampir tiap hari kita mendeng...

Islam yang Toleran?

Woks Sebagai agama mayoritas, Islam memiliki zona yang luas untuk terus mengembangkan nilai-nilai keagamaanya. Islam yang sejatinya lahir di Mekah tentu pernah merasakan betapa kerasnya menjadi minoritas. Pada saat itu untuk berdakwah saja Nabi Muhammad saw masih belum berani terang-terangan. Akan tetapi seiring berjalannya waktu sejarah telah membuktikan bahwa Islam kini menjelma menjadi salah satu agama besar dunia. Selain karena banyak pemeluknya Islam juga besar karena secara historis pernah melewati berbagai macam rintangan. Terutama dakwah periode Mekahlah yang begitu terasa perjuanganya. Kini Islam telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tentu di setiap wilayah memiliki tantangan tersendiri dalam menyampaikan pesan dakwahnya. Salah satunya saat Islam masuk ke Indonesia yang mayoritas penduduknya pada saat itu sudah menganut agama-agama besar dunia seperti Hindu dan Budha serta sudah menganut aliran kepercayaan lokal setempat. Secara pendekatan Islam masuk ke wilayah...

Satpam, Pengetahuan dan Bahasa

Woks Saya dapat cerita menarik siang ini yaitu saat berada di Bank tempat di mana saya akan transaksi dan menabung. Siang itu keadaan Bank tidak seperti biasanya, kali ini ramai dan padat. Maklum pasca lebaran Bank buka langsung diserbu nasabah. Padahal masih dalam keadaan melawan Covid-19 akan tetapi masyarakat tidak menghiraukan itu, mereka masih enjoy dengan keadaan seperti biasanya tanpa jarak. Cuma bedanya mereka mencuci tangan dan bermasker. Bank begitu ramai karena bertepatan dengan banyaknya masyarakat yang mengambil pencairan dana BLT, PKH, KIP dan Prakerja. Keadaan yang ramai itu saya pun menyaksikan beberapa hal menarik yang perlu saya abadikan dalam sebuah catatan kecil. Hal yang menarik saya temui di bagian depan Bank, tepatnya pada seorang satpam dan mesin antrianya. Saya mencoba mengilustrasikan betapa cekatanya seorang satpam tersebut. Menurut penuturan pak satpam tugas sebagai seorang pengaman itu tidak mudah. Ia harus memiliki keahlian tambahan lainya sepe...

Cerita dari Desa Penghasil Susu Sapi

Woks Hari keempat pasca lebaran saya dan seorang teman memberanikan diri untuk bersilaturahmi ke salah seorang kenalan teman saya saat KKN dulu. Sebenarnya saya paham bahwa keadaan seperti saat ini silaturahmi secara fisik tidak lebih baik dilakukan. Akan tetapi apa mau dikata kami juga tidak bisa menolak undangan dari tuan rumah untuk berkunjung ke sana. Dengan mengendarai Vespa kami pun segera berselancar ke sana. Walau di tengah jalan sempat diguyur hujan setidaknya kami masih sanggup menembus jalananan licin sebelum hari semakin malam. Suasana alam yang indah sepanjang jalan cukup untuk memanjakan mata kami dari sumpeknya kehidupan di rumah saja. Sehingga momen perjalanan ini saya nikmati betul sebagai sebuah cara bertahan hidup dari balik sunyinya kehidupan. Terutama bagi saya tidak bisa mudik maka perjalanan ini adalah obat pelipur lara. Walaupun efeknya hanya sementara setidaknya saya sudah bahagia. Terbantu secara psikis untuk tetap kuat bertahan di tengah dunia yan...

Lebaran di Kampung Orang

Woks Ramadhan tahun ini memang begitu berbeda dari tahun sebelumnya. Tahun di mana kita merasakan hal yang sama yaitu beribadah di tengah pandemi. Merasakan saat-saat khusyuk bersamaNya tanpa seremonial keramaian. Memang hampir dua bulan lebih dunia terasa terbalik. Akan tetapi mau protes kepada siapa, selain lakukan saja yang terbaik. Dunia mungkin hanya sedang ingin istirahat sejenak dari hiruk-pikuk yang seperti robot ini. Jadi jangan aneh jika seluruh mahluk termasuk manusia sedang berlomba-lomba bertahan dalam ujianya. Bagi perantau seperti saya kini tengah menerima kenyataan bahwa tahun ini kita tidak bisa mudik/pulang kampung atau apalah istilahnya. Yang jelas kini kita belum bisa bertemu keluarga kecuali sesekali melalui layar monitor HP. Saya tidak peduli sudah seberapa lama dan sejauh mana saya di negeri orang, yang jelas semua itu terasa sesak di dada. Menahan rasa rindu memang sama-sama tidak menyenangkannya. Sehingga kata Eka Kurniawan seperti halnya dendam rin...