Langsung ke konten utama

Postingan

Perjumpaan dengan Ramadhan

Salah satu momen sakral tentang perjumpaan adalah kita dan Ramadhan. Saking sakralnya sampai-sampai di beberapa tempat melahirkan tradisi seperti munggahan, megengan, nyadran, nyekar hingga padusan. Tradisi itu bermuara pada penyucian jiwa melalui simbol menyucikan fisik misalnya membersihkan bangunan, menyuci gaman, ziarah ke makam keluarga hingga membuat makanan seperti apem dll. Ramadhan memang teristimewa. Saking istimewanya tradisi sastra maupun Qur'an dan hadits jiga turut memujinya. Bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan. Bahwa siapa yang beribadah di dalamnya maka pahala dilipatgandakan. Bahwa siapa yang gembira atas kehadirannya akan mendapat surga. Perjumpaan dengan Ramadhan memang berbeda dengan bulan lain. Walaupun nampaknya tiap tahun serasa sama sejatinya Ramadhan selalu terasa berbeda. Perbedaan yang mencolok adalah terdapat pada aura, rasa dan aroma. Fisik mungkin bisa saja bohon tapi perasaan hati tak pernah dibohongi. Suasana Ramadhan selalu menghembusk...

Membentuk Pondasi Anak di Era Modern

Woko Utoro Di era modern saat ini mendidik anak tentu tidak mudah. Jika dulu anak bisa belajar dengan alam langsung. Maka hasil yang dirasakan anak lebih menyatu dengan lingkungan. Tapi di era modern anak sudah bersatu dengan gadget. Sehingga kegiatan sosial mereka sangat minim. Akibatnya anak kehilangan empati dan kepekaan sosial. Hal itu tentu dirasakan hampir semua orang tua di era digital ini.  Walaupun jaman silih berganti tapi ada saja solusi agar anak tetap menjadi manusia utuh. Solusi tersebut datang dari Imam Ghazali melalui banyak kitab adabnya. Kata Imam Ghazali jaman seperti apapun ingat soal anak ada 6 hal yang harus diterapkan. Pertama , biasakan adab. Soal adab ini menjadi mutlak, tidak boleh tidak. Adab adalah hal wajib yang tidak bisa ditawar. Seseorang yang kehilangan adab berarti kehilangan seluruh dunianya. Karena adab itu lebih utama dari ilmu. Tentu seperti yang kita tahu orang yang kehilangan adab laksana hidupnya seperti hewan.  Kedua , diajari ilmu adab. Ini ma...

Seni dan Kekuasaan

Woko Utoro  Sudah beberapa kali kita saksikan kekuasaan selalu takut dengan seni. Saking takutnya kekuasaan pada seni maka pembredelan menjadi tindakannya. Ketakutan kekuasaan dalam hal ini pemerintah menjalar seolah tak pernah reda. Korbannya sudah banyak terjadi pada karya lukisan, musik, lagu, tari, patung hingga cuitan. Bahkan kekuasaan kalang kabut jika berhadapan dengan humor. Sejak dulu negeri ini pun tidak pernah move on terhadap ketakutan kepada seni. Misalnya pelarangan karya Pramoedya Ananta Toer, bui pada lagu Iwan Fals dan yang terbaru yaitu lukisan Yos Suprapto, Tikus Garuda karya Rokhyat hingga Bayar-bayar ala Sukatani. Bagi penguasa karya seni tersebut berbahaya dan harus diamankan. Termasuk juga bagi masyarakat diminta untuk tidak kritis. Sebenarnya ketakutan tersebut juga dipengaruhi oleh politik ala kolonial. Di mana masyarakat tidak boleh kritis terhadap kekuasaan. Sehingga dari itu seni bagi penguasa adalah ancaman. Hal senada juga disampaikan Gus Dur lewat putrin...

Ajip Rosidi: Buku, Membaca dan Sejarah Lokal

Woko Utoro Dalam Buku Surat-surat Ti Jepang, Ajip Rosidi membuai pembaca dengan kisahnya. Saya akan bagikan kepada anda cuplikannya yaitu tertanggal 21 Januari 1982. Surat tersebut Ajip tujuan untuk salah seorang karibnya yaitu Omeng Abdurrahman. Surat tersebut ditulis dan dikirim dari Osaka ke Bandung Jawa Barat. Dalam surat tersebut Ajip memberi pesan kepada Omeng perihal membaca, buku dan mengarsipkan sejarah lokal. Bagi Ajip melakukan aktivitas sekali dayung itu mengasyikkan. Terutama dalam hal membaca dan memiliki buku adalah hal utama. Apalagi bagi mahasiswa sastra seperti Omeng, membaca buku sastra adalah kewajiban. " Bari henteu macaan karya-karya sastra mah, taya gunana diajar teori jeung kritik sastra teh ". Kata Ajip kepada Omeng, mahasiswa sastra itu wajib rajin baca buku sastra. Apalagi mendalami kritik sastra itu butuh waktu lama. Jika mahasiswa sastra tidak mau membaca buku sastra maka tak ada gunanya segala macam teori yang dipelajari. Ajip Rosidi juga berpesa...

Resep Hidup ala Mbah Suparni

Woko Utoro Pada Kamis kemarin saya berkesempatan silaturahmi ke ndalem Mbah Suparni. Beliau kebetulan salah satu pendengar setia Radio Berlian FM. Pada kesempatan tersebut beliau meminta dikirimkan salah satu produk obat herbal. Akhirnya saya meluncur ke sana sekaligus bersilaturahmi.  Rumah Mbah Suparni lumayan cukup jauh yang jarak tempuhnya sekitar 1,5 jam. Rumah beliau yaitu sekitar 500 meter ke timur dari Candi Penataran Nglegok Blitar tepatnya di Dusun Bulu Desa Modangan. Walaupun sempat salah arah akan tetapi akhirnya saya menemukan juga rumah beliau dengan bertanya pada beberapa orang.  Sampai di sana saya langsung dipersilahkan masuk. Di rumah yang sederhana dan asri kami pun ngopi ditemani beberapa buah gorengan. Di sinilah kami pun bercengkrama sejenak. Mbah Suparni yang usianya 87 tahun bercerita dengan penuh semangat. Bahkan kisah-kisah beliau begitu lengkap dan tidak menunjukkan jika usianya sudah sepuh.  Mbah Suparni berkisah panjang lebar terutama ketika tahun 1957 beli...

Laki-laki Tidak Bercerita Tapi Menulis

Woko Utoro Kita mungkin sering bertanya mengapa laki-laki minim bicara. Seolah-olah hanya bicara seperlunya saja. Sedangkan perempuan bicara itu menjadi hal utama. Termasuk juga mengapa laki-laki jarang terlihat menangis. Berbeda dengan perempuan justru menangis adalah salah satu metode aktualisasi emosi. Secara psikologis mengapa laki-laki jarang bercerita. Dibanding dengan perempuan laki-laki cenderung diam. Hal ini sebenarnya hanya soal media komunikasi terhadap perasaannya. Media penyalur emosi perempuan adalah curhat. Bahkan sejak kecil tangis bagi perempuan adalah hal wajar. Tapi berbeda dengan laki-laki. Sejak kecil laki-laki terkena stigma tidak boleh menangis. Bahkan laki-laki cengeng itu seperti haram hukumnya. Hal demikian lah yang kelak ketika dewasa memberi jarak bahwa laki-laki itu kaku, tidak peka dan tak berperasaan. Padahal faktanya tidak demikian. Hal itu hanya soal karakter tradisional laki-laki yang cenderung melindungi. Sedangkan karakter tradisional perempuan adal...

Guru adalah Safinah

Woko Utoro Saya tidak tau misalnya hidup tanpa guru akan jadi seperti apa. Hidup tanpa guru sepertinya adalah kesalahan. Karena guru ibarat tongkat bagi si buta. Guru adalah kendaraan bagi si pejalan. Guru adalah lentera bagi hati yang mudah gelap. Dan guru adalah perahu bagi kita untuk sampai ke dermaga. Dalam sebuah maqola bijak dijelaskan jangan sampai santri merasa mandiri untuk menghadap Allah SWT sendiri. Kata Mbah Abdul Karim, mungkin bisa saja santri melebihi gurunya tapi soal kedekatan dengan Allah SWT menjadi perkara lain. Demikian lah penting nya seorang guru bagi muridnya. Karena sifat guru itu selalu mengkhawatirkan santrinya kelak ketika mereka berpisah. Dalam panjangnya perjalanan sebenarnya tidak ada guru yang ingkar terhadap santri. Hanya saja tugas memberi ridho dan restu harus tepat guna. Karena guru ingin mengajarkan pada santri bahwa ridho pangestu bukan legitimasi atas apa yang diperbuat. Sungguh keridhoan guru adalah lebih kita butuh kelak ketika kehilangannya. M...