Langsung ke konten utama

Aku, Buku dan Membaca

Woks

Buku "Aku, Buku dan Membaca" merupakan buku yang ditulis secara keroyokan. Penulisnya terdiri dari berbagai macam kalangan dari mulai pelajar, mahasiswa, pekerja kantor, dosen, guru bahkan sampai tenaga kerja di luar negeri. Anggap saja antologi tersebut sedikit persen masyarakat yang menyukai dunia literasi. Terbukti Dr Ngainun Naim (Ketua LP2M IAIN Tulungagung) sebagai inisiator telah berhasil menghimpun tulisan mereka dalam satu buku, padahal penulisnya mulai dari warga lokal, Malaysia hingga Saudi Arabia.

Buku tersebut termasuk kategori buku tebal dengan banyak halaman. Isinya terdiri dari kiat, tips, hobi, cerita, kesan pesan hingga apapun yang berkaitan dengan dunia literasi. Termasuk kegemaran dalam hal membaca dan menulis. Kemampuan baca tulis termasuk kegemaran bagi mereka, maka dari menuangkan dalam bentuk narasi pada buku  termasuk tujuan utamanya. Sehingga lengkaplah buku tebal plus dengan isi bacaan yang beragam.

Bagi sebagian orang mungkin sadar bahwa tingkat membaca di Indonesia tergolong rendah. Dikutip dari berbagai sumber, menurut data UNESCO minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Itu pun masih bisa digolongkan lagi menjadi minat baca serius atau hanya iseng. Mungkin inilah yang kadang membuat kita tertawa. Dari sanalah salah satu ide mengapa buku ini hadir. Setidaknya para penulis ikut ambil bagian dalam upaya persuasif kepada semua orang untuk gemar membaca. Secara aplikatifnya memang ada beberapa yang terjun langsung dalam sebuah komunitas, sanggar kepenulisan atau taman baca masyarakat (TBM).

Rerata tulisan dalam buku ini sebenarnya sama yaitu merespon untuk berbagi pengalaman sekaligus mengajak betapa pentingnya kegiatan membaca dan menulis. Terutama membaca bagi sebagian orang selalu berbenturan dengan waktu dan serangkaian aktivitas, apalagi yang sudah mengurus keluarga pasti terlihat sekali usaha gigihnya demi untuk bisa meluangkan waktu membaca. Setelah itu belum usai, kita juga akan dituntut untuk menuliskanya. Karena apabila hanya mampu membaca saja tanpa mau menulis hal itu juga sama-sama kurang pas. Karena kegiatan baca tulis adalah satu kesatuan yang tak boleh dipisahkan.

Usaha para penulis dari berbagai kalangan ini tentu menarik untuk disimak dalam buku ini. Seperti ada yang demi keistiqomahan membaca ia rela ke mana saja membawa buku, mungkin sekarang bisa diakses melalui online book atau pdf. Ada juga yang selalu membaca buku satu sampai dua lembar sebelum tidur dan lainya. Termasuk juga menulis, kisah mereka unik salah satunya selalu membawa catatan kecil dan penanya, ada juga yang menggunakan note hp dan menuliskannya. Apa saja ditulis dari mulai yang mereka lihat, rasakan dan dari sebuah cerita. Tulisan itu terangkai dalam sebuah metode re-writing. Kebebasan dalam menulis adalah hak mutlak pribadi. Termasuk apa saja yang akan ditulis, sebelum lupa mereka coba untuk meminjam istilah Hernowo Hasyim yaitu "mengikat makna".

Sebagai penutup tulisan tersebut berisi harapan untuk membumikan literasi di mana saja. Apalagi sekarang di zaman digital upaya mengetahui sumber ilmu sangat penting sekali. Karena agar masyarakat paham dan tidak mudah salah paham. Terutama untuk generasi muda ayo kobarkan semangat untuk ambil bagian dalam pengentasan kemiskinan dan keterbelakangan. Ajarilah anak-anak mu membaca agar mereka tak salah arah, ajarilah mereka menulis agar tau bagaimana cara bersuara. Menulis dan membaca adalah dua sisi mata uang yang akan menerangi dari kebodohan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...