Langsung ke konten utama

Masyarakat Kuno tapi Modern

Woks

Melihat secara total manusia modern yang ada di masyarakat rasanya tidak mungkin. Itu membuktikan bahwa masyarakat kita memang begitu heterogen. Dalam hal pemikiranpun tidak semua orang berpikir visioner atau selalu berpikir kedepan. Ada juga orang-orang yang masih memegang erat corak pemikiran masa lampau. Anggap saja sampai hari ini mereka masih bertahan dalam pusaran arus modernisasi yang mengakar. Walaupun jumlahnya memang tidak banyak.
 
Masyarakat kita terutama di Indonesia mungkin berbeda dari penduduk di negara lain. Di Indonesia ini merupakan tempat yang tidak bisa didefinisikan secara instan termasuk kategori apa masyarakatnya. Sebab jika disebut manusia modern, nyatanya masih ada beberapa orang yang hidupnya masih mempercayai klenik atau sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan di luar kendali manusia. Juga termasuk mereka yang masih hidup di pedalaman. Di sana mereka hidup dengan memanfaatkan hutan serta berusaha keras agar mempertahankan kehidupan ala rimba raya. Sehingga alam adalah guru sekaligus dapur yang bisa memberi mereka kehidupan.

Walaupun tidak tinggal di pedalaman ada beberapa kelompok orang yang masih memegang erat tradisi leluhur mereka oleh sebagian orang masuk pada kategori kaum tradisional. Salah satu identifikasi sederhana yaitu masih berpikir tentang sekarang dan kemarin. Mereka bahkan dianggap kuno karena belum mampu berpikir secara luas maju ke depan. Orang dalam kategori ini masih meyakini bahwa tradisi lama masih relevan walaupun zaman telah silih berganti. Sebenarnya persoalan tradisional atau modern itu hanya klaim sebagian orang saja sebagai sebuah pendefinisian. Selebihnya tidak ada yang mengakui akan hal itu.

Tapi jika dianalisis ternyata masih banyak masyarakat kita yang mewarisi pemikiran kuno padahal zaman telah modern. Misal saja ada orang memaksakan kehendak untuk   berpikir bahwa segala macam ibadah harus sesuai dengan sunnah Nabi saw, yang diluar itu dianggap bid'ah dan tidak sesuai dengan sunnah. Padahal jika dilogika untuk sama percis di zaman ini pastinya sangat sulit. Termasuk cara berpikir demikian tidak lebih dari sebuah corak pemikiran yang kurang menjiwai esensi. Seperti halnya anggapan bahwa membawa keris itu dianggap syirik sedangkan ketergantungan dengan HP dan ATM tidak menjadikan apa-apa. Padahal sebenarnya esensinya sama. Sehingga berpikir kita tidak dangkal. Hal itu seharusnya digarisbawahi agar setiap orang berpikir dengan proporsional.

Di zaman modern ini kadang manusia memang menyalahi pemikiranya sendiri. Di satu sisi kecanggihan sudah digenggaman tapi di sisi yang lain pikiran kuno masih saja dipegang erat. Bukankah teknologi hadir sebagai media untuk mempermudah kegiatan manusia. Tapi dewasa ini malah justru terbalik, semua itu malah memperbudak manusianya. Alih-alih demikian lah ketergantungan telah mengikis kepribadian dan pemikiran. Sehingga manusia mudah sekali untuk terhegemoni sekaligus digiring untuk menjadi mahluk yang konsumtif. Coba bandingkan jika orang pedalaman berkegiatan menanam lalu mereka berpikir untuk kebutuhan kedepanya, sebab dikhawatirkan pangan habis apakah berpikir demikian tidak dikategorikan modern? Sehingga darisanalah kita paham bahwa sebenarnya nenek moyang dudu telah berpikir jauh melampaui zamannya. Mereka justru telah berpikir modern sejak lama. Sedangkan kita malah tertinggal di zaman yang sebenarnya telah modern.

Dari sini sekarang kita membuka mata lagi bahwa masyarakat kuno atau modern bukan didasarkan pada tempat atau waktu, melainkan pada bagaimana cara mereka berpikir, bagaimana cara mereka memberlakukan sesuatu dan menggunakan pandangan yang luas. Jika pandangan kita terhadap sesuatu masih kaku atau tidak luwes mungkin itulah yang disebut menjadi kuno di tengah kecanggihan zaman. Sekarang kita harus segera sadar bahwa zaman telah berganti dan pikiranpun segera berganti tapi tidak terbawa arus, minimal masih mewadahi sesuatu yang lama tapi masih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...