Langsung ke konten utama

Cantik, Romantika Absurd, dan Pendefinisian

Woks

Suara mayoritas mengatakan bahwa cantik merupakan sifat yang melekat pada perempuan. Akan tetapi kecantikan masih terlalu membingungkan untuk dipahami oleh setiap orang. Selama ini orang-orang hanya paham kata cantik dari suara mayoritas salah satunya yang diwakili oleh KBBI. Konsepsi cantik menurut KBBI adalah elok, molek (berkaitan dengan wajah perempuan), indah dalam bentuk dan buatanya. Jika mayoritas orang mengamini pengertian cantik tersebut maka jelas bahwa cantik itu hanya milik perempuan dan wajahnya. Lalu bagaimana dengan cantik dalam perspektif lainya?

Kecantikan selama ini selalu direpresentasikan oleh fisik khususnya kepada perempuan. Jika cantik hanya terkait bentuk fisik lalu bagaimana jika fisik tersebut telah berubah, entah karena bertambahnya usia atau karena benturan, kecelakaan. Atau bagaimana jika ada rekayasa kecantikan melalui alat make up dan vermak wajah berupa operasi plastik? Sesungguhnya make up hanya sebatas penunjang kebutuhan semata. Ia hanya sebagai salah satu produk pelengkap agar tampilan terasa berbeda.

Jika cantik diukur dari bentuk fisik lalu mengapa budaya Islam memerintahkan untuk menutup aurat. Jika cantik hanya melekat pada wajah maka sesungguhnya ia berdurasi. Dalam bahasa lain dikenal dengan hak guna pakai. Jadi ada saatnya kecantikan yang disandarkan pada wajah akan luntur. Kecantikan fisikal memang tidak mampu mengakomodir waktu. 

Bagaimana dengan kecantikan yang disandarkan pada perilaku, kecerdasan atau intelektualitas? Mayoritas orang-orang sepakat bahwa kecantikan sesungguhnya adalah terletak pada perilakunya. Akan tetapi yang jadi pertanyaan adalah jika seseorang pintar dan cerdas apakah ia juga otomatis cantik? Ternyata hanya segelintir orang yang mengukur kecantikan dari fisik. Mereka menganggap bahwa kecantikan fisik hanya mengelabui mata. Sedangkan kecantikan perilaku dan kepribadiannya selalu mengundang daya tarik.

Selama ini cantik selalu menjadi objek pada kaum wanita. Lalu apakah ada bahayanya juga terhadap ketampanan yang melekat pada laki-laki? Sebenarnya antara cantik dan tampan sama saja. Yang membedakan adalah batasan atas ruang gerak yang selama ini disalah artikan. Antara yang maskulin dan feminim selalu meruang dan waktu, ia begitu berjarak dan selalu mendiskreditkan salah satunya.

Soal cantik dalam masa yang panjang akan berakibat pada ego narsistik, di mana seseorang akan memuja dirinya sendiri termasuk ketampanan pada laki-laki. Bahkan kecantikan itu bisa mencelakakan dirinya sendiri. Salah satunya Eka kurniawan dengan apik menulis bahwa cantik itu luka. Singkatnya bahwa ada seorang perempuan cantik yang dipaksa menjadi pelacur hingga melahirkan 3 anak. Sedangkan ia berharap anak ke empatnya terlahir dengan buruk rupa. Pikiran Eka mungkin saja dengan menjadi buruk rupa hal-hal yang sifatnya melecehkan tak akan pernah terjadi. Akan tetapi dengan menjadi buruk kehidupan seseorang bukan berarti terbebas dari masalah. Justru akan muncul masalah baru yaitu diskriminasi, bullying, body shaming dan kejahatan lainya.

Jika melihat Novel Eka tentu kita bisa menerka bahwa ada narasi cantik fisikal yang tergambar melalui tubuh, wajah dan daya sensual. Akan tetapi permasalahannya timbul bersamaan dengan emosi dan syahwat lelaki atas superioritasnya. Kecantikan seolah-olah menjadi bencana besar yang mengundang petaka. Padahal semua itu persoalan control dari setiap individu. Alih-alih demikian yang salah bukan sifat cantiknya, tapi ada narasi superioritas yang ingin menguasai second sex dengan anggapan lebih inferior.

Kata cantik memang tak pernah menemui titik temu. Hampir tidak ada perempuan yang mengatakan dirinya jelek. Akan tetapi kecantikan yang selama ini berkonotasi pada mereka mengalami distorsi pengertian yang konsumtif. Kecantikan menjadi milik media dengan segala kebuasanya. Bayangkan saja, cantik pada perempuan harus memiliki standarisasi seperti bentuk tubuh molek, hidung, bibir seksi, alis tersulam, pipi merah merona dan tentu menarik perhatian. Standarisasi itu tak lain merupakan kemauan media dalam memarketing tubuh. Inilah salah satu kejahatan media yang selama ini tidak banyak kita sadari. Ukuran kecantikan fisikal itu menuntut seseorang mengikuti kemauan pasar, dengan begitu para artis rela melakukan perawatan apa saja demi menjaga tubuhnya agar tetap tampil cantik. Maka tak aneh jika industri yang menunjang kecantikan selalu laris manis terjual.

Faktanya walaupun mayoritas laki-laki menganggap bahwa perempuan cantik itu dilihat dari perilakunya, akan tetapi masih saja bahwa wajah dan tubuh selalu menjadi ukuran pertama. Cantik menjadi kemauan yang patriarki sehingga kecantikan berdasarkan pada kemauan laki-laki. Sehingga para perempuan begitu repot dalam mengurusi wajah dan tubuhnya. Sehingga ada istilah menarik dan tidak menarik. Termasuk cantik dan tidak cantik pada akhirnya adalah definisi yang menciptakan batas diskriminasi sekaligus penilaian subjektif. 

Sebenarnya tanpa di eksplorasi, perempuan memiliki sense of beauty. Karena sense of beauty merupakan sifat yang berasal dari dalam diri perempuan. Sifat inilah yang menjadikan perempuan memiliki harga diri yang sama dengan laki-laki. Bahkan soal kesamaan dalam batas-batas norma, Islam mengajarkan untuk perempuan menjaga auratnya dan laki-laki menjaga pandanganya.

Pada kesimpulannya cantik atau tampan semua telah melekat pada diri seseorang. Persoalan lain seperti jelek, kurang menarik, tidak cantik atau pendefinisian lainya tidak lebih dari konstruk lingkungan yang tolok ukurnya adalah pandangan mata, sesuai atau tidak sesuai. Jadi semua mengandung unsur relatif, tergandung siapa yang memandangnya. Jika kita sadari lebih jauh kecantikan itu bersifat indegenous dan sangat membudaya. Sehingga secara geografis setiap suku bangsa memiliki pengertian cantiknya sendiri. Kita tidak bisa memaksakan cantik dalam bentuk apapun.

*Tulisan ini pernah dimuat pada Buletin Ngaji Sing Kenceng edisi 2, 3/3/20.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...