Langsung ke konten utama

Mata Yang Enak Dipandang


Woks

Saya harus menuliskan "mata yang enak dipandang" sebagai sebuah cerpen buah karya Ahmad Tohari. Cerpen dengan judul yang sama dalam sebuah kumpulan cerpen terbitan Gramedia tersebut selalu membuat saya tertarik. Walaupun saya akui belum membaca teks aslinya. Akan tetapi saya memberanikan diri menulis isinya yang saya dapat dari sebuah film dokumenter karya Santosa Amin.

Pada film hasil saduran cerpen tersebut sutradara mengemas adegan pemainnya sangat begitu apik. Scane yang sederhana dengan baksound yang sederhana pula mampu menggaet penonton awam seperti saya. Dalam film tersebut pembukaan berawal dari sebuah warung kecil di emperan Jakarta mempertemukan seorang dengan jas hitam, tampak kaya namun ramah dengan pedagang kecil tersebut.

Si pedagang nampak heran dengan pembeli tersebut seolah-olah ia pernah mengenalnya tapi entah kapan dan di mana. Akhirnya film pun flash back membawa mereka pada sebuah gelak tawa yang keras. Tarsa si pemuda gondrong dengan yoyo di tangannya begitu tertawa terpingkal-pingkal karena menyaksikan kang Mirta menginjak tahi anjing. Sambil menahan marah kang Mirta mengutuk dirinya sendiri "sialan" juga Tarsa yang seharusnya membantu malah mengejek. Kang Mirta sadar orang buta seperti dirinya mudah sekali ditertawakan.

Tarsa dan kang Mirta terus saja menyusuri jalan, melewati gang sempit hingga tiduran di emperan. Mereka sambil merenung memikirkan nasib yang tak karuan. Bahkan sesekali Tarsa menyuruh agar kang Mirta mengemis. Mendapatkan uang dari hasil iba banyak orang. Akan tetapi kang Mirta selalu menolak bahwa ia ingin pensiun dari pekerjaan itu. Beberapa kali Tarsa mengajak kang Mirta mendatangi pasar, di halte, hingga ingin masuk ke dalam kendaraan umum agar orang lain memberi mereka uang. Namun sayang sejak kang Mirta dituntun oleh Tarsa uang tersebut tak kunjung datang. Padahal uang akan mampu membeli makanan untuk perut mereka yang lapar.

Sesekali Tarsa pun ingin merebut tas putih milik kang Mirta. Yang menurutnya tas itu tak berisi apa-apa. Padahal sesekali kang Mirta memberi Tatsa makan yang diambil dari tas putih itu. Kang Mirta yang buta itu memang nampak dermawan lagi mengalah. Demi seseorang yang kelaparan ia rela berbagi, padahal ia sendiri belum makan. Dalam panjangnya perjalanan kang Mirta selalu memberi wejangan hidup pada Tarsa, saat mereka lelah emperan yang kumuh menjadi tempat melepas penat.

Beberapa waktu Tarsa merasa heran sambil mengatakan "goblok dan tolol" pada kang Mirta mengapa hingga kini mereka tak kunjung mendapat uang. Padahal kang Mirta yang buta dengan tongkat di tanganya itu tak membuat orang lain iba. Kang Mirta pun tak mau kalah justru kamulah yang "goblok dan tolol" sebab orang waras pun sadar bahwa Tarsa tidak buta. Mengapa ia tidak menggunakan akal sehatnya termasuk fisik yang sempurna. Akan tetapi Tarsa masih saja mengelak bahwa buta atau tidak sama saja karena intinya kita butuh uang untuk makan.

Kata kang Mirta mengapa ia ingin pensiun dari pengemis karena tak lain ia sudah puluhan tahun menggeluti profesi itu. Ia bahkan memberi tips kepada Tarsa jika ingin mendapat uang dari mengemis ciri orang yang suka memberi adalah mereka yang "matanya enak dipandang". Orang dengan mata yang enak dipandang lebih berhati mulia, ia meyakini betul soal itu. Walaupun Tarsa lagi-lagi tak pernah percaya apa yang dikatakan kang Mirta. Maka tak salah jika kang Mirta memberinya petuah untuk menggunakan hati. Rasakanlah bahwa orang yang matanya enak dipandang pasti ada di sekitar kita. 

Sampailah pada saat Tarsa memaksa kang Mirta untuk mengemis dengan cara mencari orang dengan mata yang enak dipandang. Namun akhirnya Tarsa tidak menemukanya satu orang pun. Tiba-tiba mereka rehat sejenak di sebuah trotoar bawah flyover. Suasana begitu panas sedangkan kang Mirta semakin menggigil dan pucat barangkali efek belum makan sejak pagi. Tarsa hanya diam saja mematung sambil terus memainkan yoyo di tangannya. Tarsa tidak peka jika kang Mirta begitu kesulitan bernafas. Lantas mereka pun hanya diam di bawah panas mentari yang menyengat itu.

Tiba-tiba kang Mirta memberikan tas putih itu kepada Tarsa. Entah apa maksud dari semua itu kecuali kang Mirta sesekali menggigil sambil memeluk tongkatnya. Beberapa saat setelah tas itu ada pada Tarsa, kang Mirta pun tergeletak tak sadarkan diri. Suasana semakin tak karuan sedangkan Tarsa hanya bisa membangunkan kang Mirta, "kang bangun kang, bangun". Kang Mirta akhiranya menghembuskan nafas terakhirnya. Ia pergi untuk selamanya meninggalkan jejak teladan.

Tarsa amat terpukul sahabat yang juga ia anggap gurunya itu telah tiada. Fisiknya mungkin buta tapi mata hatinya menembus semesta. Ia kadang malu sebagai manusia sempurna fisiknya tapi akalnya mati. Bahkan untuk membuang sampah saja masih disembarang tempat. Sedangkan kang Mirta melakukan sebaliknya. Atau untuk sekadar mencari orang dengan mata yang enak dipandang ternyata Tarsa tak mampu. Sedangkan mata buta kang Mirta telah melewati semua. Selamat jalan kang, kata Tarsa dengan linangan air mata. Engkau lebih tau mana orang yang matanya enak dipandang. Engkau pasti akan menemukan orang dengan mata yang enak dipandang di alam sana.

the woks institute l rumah peradaban 30/12/20

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...