Langsung ke konten utama

Mengapa Kita Perlu Menulis


Woks

Sesekali saya ditanya apa urgensinya menulis bagi perkembangan sosio akademik seseorang. Menulis tak lain merupakan cara seseorang untuk menyatakan pendapat, memberi gagasan, mewarnai pemikiran, dan menyimpan pengetahuan. Begitulah kiranya tentang menulis, kita bisa menuliskan tentang apa saja yang ditemui. Termasuk banyak hal menarik di dunia ini yang sayang jika dilewatkan.

Pentingnya menulis adalah karena kita adalah mahluk yang pelupa. Kata Imam Ali Karramallahu Wajhah setelah membaca maka menulislah, sebab bacaan adalah pengetahuan yang diibaratkan binatang buruan dan cara mengikatnya adalah dengan mencatatnya. Jika pun ada manusia yang kuat ingatanya pasti mereka hanya mampu mengingat sampai 8 jam saja setelah itu lupa lagi. Lupa tersebut adalah bencana agama yang struktural sehingga bisa merusak. Maka jika tidak menulis menghafalah solusinya. Bahkan menghafalpun masih dianggap lemah saat si penghafal tersebut meninggal dunia ia akan mati bersama hafalanya. Hal inilah yang menjadi musabab terjadinya kodifikasi al Qur'an yang pada saat itu di zaman Khulafaur Rasyidin banyak sahabat huffadz yang tewas di medan perang.

Dalam hal hadir di majelis ilmu misalnya banyak orang yang hanya hadir jasadnya tapi secara ruhani mereka tertinggal. Terutama persoalan ilmu yang didapat tentulah para pencatat lebih baik dari yang hanya menjadi samiin (pendengar). Dari riwayat Sulaiman bin Musa ia berkata bahwa di antara orang yang beruntung dalam majelis ilmu adalah mereka yang mencermati lalu mencatat ilmu tersebut bahkan mereka layak disebut alim.

Saya sendiri senang menulis karena bagi saya kita itu harus iri dengan para orang tua telah lama meninggalkan jejak lewat tulisan. Mereka menyusun kata demi kata, menjadi kalimat, diwarnai gagasan, dasar berupa literatur dan pendapat tokoh serta banyak pengetahuan yang diolah di sana. Proses itulah yang hingga kini masih concern di lingkungan akademik. Kadang saya iri dengan Prof Imam Suprayogo, Prof Khirzin, Prof Musdah Mulia, Nyai Masriyah Amva, Okky Madasari, Dewi Lestari, Asma Nadia, Prof Azumardi Azra, Prof Mujamil Qomar, KH Husein Muhammad, Gus Mus, Ulil Absar Abdala, Bandung Mawardi, KH Kuswaidi Syafii, Dr Haidar Bagir, Dr Ngainun Naim, Edi AH Iubenu, Iqbal Aji Daryono, Puthut EA, Agus Mulyadi dan banyak nama lainya. Mereka masih terus menulis hingga saat ini. Tulisan mereka masih terus mewarnai media baik cetak maupun digital. Tulisanya penuh dengan kritik, kesejukan dan pengetahuan. "Orang sesibuk itu kok masih menyempatkan diri untuk menulis", gumam saya dalam hati.

Sehingga saya berpikir bagaimana dengan tokoh masa lalu seperti para Imam madzhab, ahlus sufi, para penemu, para filsuf serta banyak lagi yang mereka dikenal karena produktivitas akan karya tulisnya. Karya tersebut lahir bahkan hingga berjilid-jilid tebalnya. Karya tersebut abadi bersama penulisnya walaupun jasad mereka telah menyatu dengan tanah. Sabda Pramoedya masih mahsyur hingga kini bahwa menulis untuk keabadian. Maka tak aneh jika karya dan nama para ulama tersebut masih terus hidup hingga saat ini. Padahal mereka telah wafat ratusan tahun silam.

Mungkin terlalu jauh bayangan saya tentang para pendahulu. Bahkan untuk sekadar menyamai para dosen dan beberapa kawan pun saya belum mampu. Hal ini bukan soal karya tulis baik berupa buku, jurnal atau tulisan ilmiah. Tapi soal seberapa istiqomahnya kita dalam memulai menyemai gagasan lewat tulisan itu. Selama ini untuk menulis sekitar 2 paragraf per hari saja saya belum mampu apalagi seperti para guru besar tersebut yang hampir tiap hari kontinyu menuangkan gagasannya secara panjang lebar. Fakta membuktikan Prof Imam Suprayogo yang sepuh itu tampak enerjik karena rutin menulis bada shubuh. Pengalaman itulah akhirnya membuat beliau diganjar MURI karena menulis tiap hari selama 3 tahun tak pernah putus bahkan hingga saat ini. Lantas jika saya berhenti menulis maka kalahlah saya sebagai generasi muda.

Para nabi mewariskan ilmu dan akhlaknya kepada para ulama sedangkan para ulama mewariskan ilmunya lewat tulisan. Sehingga tulisan adalah warosatul ulama. Warisan itulah jejak yang mengintrepretasikan laku profetik. Tanpa tulisan tersebut mungkin kita tak ubahnya binatang yang tersesat. Kita tak akan pernah tau peradaban yang mencerahkan dengan segudang pengetahuan dari tulisan mereka. Tulisan yang termaktub dalam sebuah kertas yang dulu dari kulit kayu, tulang, tembikar, hingga batu dapat menjadi pijakan kita mengetahui masa lalu. Sejarah masa lalu adalah obor masa depan yang terus menerangi peradaban.

Setelah saya tahu demikian lalu apa yang akan kita lakukan selain menulislah sekarang juga. Sayangi pikiran yang cemerlang pemberian Tuhan ini jika harus nganggur di pojokan jalan. Biarkan ia berjalan menerawang setiap imaji lalu mendorong agar hati, pikiran, dan tangan beradu menghasilkan tulisan. Tulislah apa yang kau temui, apapun itu. Biarkan ia dianggap remeh temeh menurut orang lain, tapi selama itu bermanfaat lakukan terus. Seperti pesan Gus Dur kepada kang Maman Imanulhaq bahwa kita harus menulis karakter para kiai dan momen-momen penting di pesantren seperti haul. Sebab scripta manent verba volant, tulisan itu abadi, sementara lisan cepat berlalu bersama derai angin. Mau kapan lagi kita berdalih untuk tidak menulis?

the woks institute l rumah peradaban 6/12/20

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...