Langsung ke konten utama

Kuli dan Kenangan




Woko Utoro


Seseorang di hadapan kenangan adalah kuli. Sekuat apapun mereka berupaya mengangkut kenangan tak bisa dibawa. Kenangan akan selalu parsial. Kita hanya bisa memungut yang tercecer. Kenangan tak akan bisa dibawa, tak mampu dipindahkan juga tak kuasa diulang. Kenangan tak bisa digantikan. Kenangan tak bisa dimusnahkan. Kenangan itu abadi bagi mereka yang menolak lupa. 


Sekeras apapun orang berupaya memungut kenangan toh tak akan mampu. Karena bagaimanapun juga kenangan selalu tertinggal. Jika pun bisa diangkut kenangan hanya separuh saja. Sebab separuh lain telah tinggal dan menetap di hati. 





Siapa orang yang mengingkari kenangan ia tak tau hak asasi. Karena kenangan itu dibentuk, dirumuskan oleh mereka yang tak ingin amnesia. Jika pun orang tak ingin mengenang pengalaman pahit toh semua bukan kesalahan. Tapi kenangan menjelma tragedi, memusatkan pikiran pada perjalanan. 


Lantas seberat apapun kenangan yang tersimpan berusaha saja memikulnya. Walaupun seandainya bukan pengalaman indah toh hidup memang demikian selalu menyuguhkan bahagia dan derita. Hidup memang tak harus selalu beruntung. Hidup hanya soal berproses, mencoba, berjuang tanpa henti. 


Jika hidup sudah tak kuasa dieja, juga sulit dibaca. Lantas apa hendak dilakukan selain berpasrah kepadaNya. []


The Woks Institute rumah peradaban 14/8/24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...