Langsung ke konten utama

Postingan

Ketika Seseorang Lahir Dari Masjid

Woko Utoro Dulu ketika saya bertolak ke Tulungagung salah satu pesan unik dan hingga hari ini terus diingat adalah berkaitan dengan masjid. Pesan tersebut berisi tentang anjuran memakmurkan masjid. Guru saya Ustadz Kusnata dan Ustadz Khariri pernah berpesan demikian, jika di tempat orang carilah masjid. Di rumah Tuhan itulah hati kita akan tenang. Lambat laun hingga saat ini saya selalu ingat pesan dua beliau. Ternyata pesan tersebut begitu mendalam. Terlebih lagi ketika saya tahu bahwa Prof Dr Kutbuddin Aibak, alias Pak Ibek juga dibesarkan dari masjid. Bahkan hingga hari ini Pak Ibek tidak pernah jauh dari dunia permasjidan. Dunia masjid dan takmir ternyata membawa berkah sampai Pak Ibek menjadi guru besar di UIN SATU Tulungagung. Kita pernah dengar penggalan lagu Ujung Aspal milik Iwan Fals. Dalam lagu terdapat kamar di mana tempat bocah loper koran lahir. Intinya bukan soal tempat tapi berkaitan dengan awal mula seseorang berpijak. Termasuk juga masjid dan bahkan ada orang yang mer...

Pertarungan Melawan Hawa Nafsu

Woko Utoro  Dalam berbagai pertandingan olahraga entah itu bulu tangkis atau sepakbola, nafsu dan ambisi kadang sering bercampur. Ada hasrat misalnya ingin mencetak gol agar disebut pahlawan atau keren atau menghindar dari bullying. Semua itu tampak wajar karena tanpa ambisi kita tak akan termotivasi. Hanya saja ambisi itu bagian dari hawa nafsu. Bagian yang membuat kita terlena lalu lupa bahwa terpenting adalah bermain bagus. Ya, kadang kekalahan bukan karena lawan bermain bagus. Tapi justru kadang karena kita sering membuat kesalahan sendiri. Itulah yang kadang harus kita pelajari. Bahwa untuk menaklukkan lawan adalah menaklukkan diri sendiri. Bahwa memahami orang lain adalah memahami diri sendiri. Bagaimana mungkin kita membaca orang lain sedangkan diri sendiri saja belum selesai. Benar kata Nabi bahwa peperangan besar di akhir jaman adalah bukan perang Badar atau perang Uhud tapi perang melawan diri sendiri. Itulah nafsu yang sejatinya harus kita jinakan tiap hari. Nafsu yang berge...

Bersyukur, Nikmat akan Ditambah

Woko Utoro  Sebenarnya jika boleh jujur dalam hati yang cukup segala nikmat yang diberikan Allah sudah terlampau cukup. Bahkan lebih dari cukup. Hanya saja ego, nafsu dan segala keinginan mengkonversi menjadi selalu kurang. Padahal esensi hidup jika diperas salah satunya terletak pada kata syukur. Dalam Al Qur'an jelas bahwa orang yang pandai bersyukur maka nikmat akan ditambah. Sebaliknya orang yang kufur alias ingkar maka bersiap saja azabnya teramat pilu. Lantas bagaimana cara kita bersyukur. Sederhana saja bahwa syukur itu harus mengosongkan keinginan. Jadi makin kita tak berpikir objek keinginan maka akan mudah nikmat dikabulkan. Dalam bahasa Mbah Nun bersyukur itu jangan seperti dagang. Anda mungkin tahu orang dagang itu orientasi utamanya adalah laba. Nah, dalam konten bersyukur jangan demikian. Mbah Nun mencontohkan mengapa orang mudah gagal secara mental. Sebab doa, amalan, sholawat bahkan sholatnya hanya untuk menambah keuntungan. Jika semua ibadah itu tak berdampak denga...

Menulis Adalah Jalan Pulang

Woko Utoro  Dunia kini makin hari semakin patriarki. Dunia yang tidak ramah dengan tangis, curhat, mengeluh hingga depresi. Kita tentu tahu segala emosi yang keluar dari diri merupakan respon tubuh alami. Setiap orang memiliki problematika dan tidak setiap kita memahami. Kadang di sanalah kita ingin di dengar tanpa takut dihakimi, ingin curhat tanpa khawatir disalahkan atau ingin mendapat perhatian tanpa perlu memelas. Tapi bagaimana dengan nasib laki-laki yang menangis atau perempuan yang curhat. Kadang dua hal itu menjadi berbeda dalam pandangan orang lain. Seringkali justru dianggap melankolis cuma karena tangis, atau bahkan cengeng dan lemah hanya karena curhat. Emosi tersebut selalu menjadi sanksi menurut orang lain dan kita selalu mencari cara agar minimal dimengerti diri sendiri. Dari hal itulah akhirnya saya memilih menulis. Bagi saya menulis bukan untuk dianggap pintar, atau ingin dikenal karena ide dan gagasan. Bagi saya menulis adalah cara mendengarkan problem diri. Menulis ...

Mendewasakan Batin

Woko Utoro  Dalam cara haul Gus Miek ke-33, Gus Robert Miek melempar canda kepada Gus Kautsar yang tak lain misanan nya. Kata Gus Robert, usia dhohir Gus Kautsar mungkin bisa lebih tua darinya tapi usia batinnya belum tentu. Dari guyonan tersebut kita jadi turut berpikir mungkin benar juga bahwa usia dhohir seseorang kadang bertolak belakang dengan usia batinnya. Misalnya ada orang yang nampak masih muda tapi ternyata usia batinnya sudah matang dan dewasa. Dari guyonan tersebut saya jadi ingat sepenggal kisah dari pewayangan yang dimainkan alm. Ki Seno Nugroho. Singkat kisahnya Pakdhe Darmokusumo marah karena dicegah naik ke Kahyangan dan merubah dirinya menjadi Buto alias Dewa Amral. Darmokusumo pun dicegah oleh Gatutkoco dan Ontorejo tapi tidak bisa. Darmokusumo pun mengobrak-abrik istana para Pandawa. Akhirnya Ontoseno si bungsu membohongi Prabu Bolodewo karena Dewa Amral menghina pusaka Kiai Nenggolo dan Kiai Alugoro. Tapi ternyata Prabu Bolodewo pun tidak bisa menghentikan Buto t...

Ya Kariimal Akhlak

Woko Utoro  Nampaknya potongan video Mbah Nun melantunkan Tarhim gubahan Syeikh Mahmud Khalil Hussary begitu syahdu terdengar. Walaupun beberapa kali saya putar rasanya justru makin merindu. Pasalnya shalawat yang diputar sebagai penghantar adzan itu begitu mendayu. Terkhusus saat kita mencoba memahami makna di dalamnya. Saya tentu tidak akan mencuplik teks Tarhim di sini. Saya hanya ingin menghayati apa yang disampaikan Mbah Nun. Kata Mbah Nun tak ada yang bisa menandingi kerinduan kita kepada Rasulullah SAW. Bahkan uang milyaran pun tak akan mampu membeli nikmatnya bisa bermakmum bersama Rasulullah SAW. Sosok yang tinggi akhlaknya lagi penyayang. Sosok yang penuh wibawa lagi dapat diandalkan di akhirat kelak. Kata Mbah Nun, jangan silau dengan dunia. Dunia itu tidak ada artinya. Jika dibandingkan dengan shalat bersama Rasulullah sungguh dunia itu hina. Bagaimana pun juga sumber penyakit itu berasal dari makanan. Sedangkan makanan disimpan di dalam perut. Makanan tersebut adalah urusa...

Manusia Terpercaya

Woko Utoro  Di Indonesia menjadi pemimpin itu harus kaya dan memiliki banyak pengikut. Akibatnya kepemimpinan berorientasi pada politik dagang sapi kata Gus Dur. Padahal siapa saja bisa jadi pemimpin asalkan memenuhi kriteria, berkarakter dan berintegritas, serta menjunjung tinggi supremasi hukum. Dalam acara yang dihelat oleh PB PMII, Prof Nasaruddin Umar menjelaskan tentang Surah Al Qashash ayat 26 yang intinya pemimpin itu setidaknya memiliki dua kriteria yaitu Al Qawiy (kuat) dan Al Amin (Terpercaya). Dalam ayat tersebut tidak terdapat konotasi berapa usianya, berapa aset hartanya, atau bagaimana kondisi fisiknya. Ayat tersebut menjelaskan bahwa kadang usia biologis tidak sama dengan usia spiritual. Dalam makna lain usia batin lebih tua daripada usia fisik. Dari itulah tidak salah jika dalam sejarah Rasulullah SAW pernah memilih Usamah bin Zaid menjadi panglima perang padahal usianya baru menginjak 19 tahun. Termasuk kisah Nabi Musa muda yang diambil mantu oleh Nabi Syu'aib kar...