Langsung ke konten utama

Manusia Terpercaya




Woko Utoro 

Di Indonesia menjadi pemimpin itu harus kaya dan memiliki banyak pengikut. Akibatnya kepemimpinan berorientasi pada politik dagang sapi kata Gus Dur. Padahal siapa saja bisa jadi pemimpin asalkan memenuhi kriteria, berkarakter dan berintegritas, serta menjunjung tinggi supremasi hukum.

Dalam acara yang dihelat oleh PB PMII, Prof Nasaruddin Umar menjelaskan tentang Surah Al Qashash ayat 26 yang intinya pemimpin itu setidaknya memiliki dua kriteria yaitu Al Qawiy (kuat) dan Al Amin (Terpercaya). Dalam ayat tersebut tidak terdapat konotasi berapa usianya, berapa aset hartanya, atau bagaimana kondisi fisiknya.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa kadang usia biologis tidak sama dengan usia spiritual. Dalam makna lain usia batin lebih tua daripada usia fisik. Dari itulah tidak salah jika dalam sejarah Rasulullah SAW pernah memilih Usamah bin Zaid menjadi panglima perang padahal usianya baru menginjak 19 tahun. Termasuk kisah Nabi Musa muda yang diambil mantu oleh Nabi Syu'aib karena alasan kuat dan terpercaya.

Kekuatan dan kepercayaan seolah menjadi satu paket yang tidak boleh terlewatkan. Pemimpin itu tidak boleh lemah baik akal pikiran, kekuatan dan keputusannya. Pemimpin harus berani walaupun mungkin fisiknya kecil. Paling penting pemimpin itu harus terpercaya. Karena kadang pintar saja tidak cukup. Banyak orang pintar justru khianat. Maka dari itu kepercayaan adalah yang paling mahal harganya. Tinggal esok kita akan disodorkan pemimpin model apa? jika mereka selalu bersama rakyat barangkali boleh kita uji untuk diberi kepercayaan. Pemimpin yang baik selalu lahir dari rakyat yang baik pula.[]

the woks institute l rumah peradaban 22/7/25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...