Langsung ke konten utama

Menek Jambe





KH Purnawan Bukhori menyampaikan kisah menarik seputar menek jambe dalam peringatan Haul Akbar Pondok PETA ke-56. Menek jambe seperti yang akrab kita tahu yaitu plurutan jambe atau bahasa di rumah saya Pucang adalah permainan khas saat Agustusan. Permainan tersebut ternyata mengandung banyak filosofi salah satunya gambaran atas pelaku thariqah.

Kata Kiai Pur, suatu hari Mbah Yai Djalil dawuh bahwa permainan menek jambe sangat nasionalis sekali bahkan cocok sebagai ilustrasi bagi pengamal thariqah. Kata Mbah Yai Djalil coba lihat orang menek jambe itu perlu perjuangan karena walaupun jalannya lurus tapi menanjak dan licin. Gambaran orang berthariqah pun demikian bahkan banyak di antara mereka hanya mengira. Misalnya baru berjalan setingkat tapi sudah mengira berada di atas.

Banyak juga yang mengira mereka sudah bijak dan penuh hikmah. Padahal mereka baru saja menaiki tangga pertama dan bahkan banyak yang mlorot hingga terjatuh. Maka dari itu seperti naik jambe orang thariqah juga harus bersama-sama agar bisa sampai ke atas. Jika kita naik sendiri sudah pasti tak akan sampai. Kita butuh pemandu dalam hal ini guru mursyid untuk bisa sampai ke atas. Sampai ke atas pun bukan balapan. Tapi tentang mahabbah, kerinduan dan penghambaan kepada Allah.

Walaupun perjalanan tersebut menanjak ke atas dan licin. Tapi tidak mustahil kita bisa sampai ke sana. Dan sudah jelas jika sampai di atas nikmat nya bukan kepalang. Di sana banyak hadiah dan ragam makanan. Akan tetapi seperti sang peserta, pengamal thariqah pun tidak butuh hadiah tersebut. Mereka akan membuang nya atau melempar kepada orang lain. Itu gambaran seperti dunia justru ketika sudah digenggam maka harus dilepaskan. Dan hanya Allah lah yang harus kita pegang teguh sampai kapanpun.[]

the woks institute l rumah peradaban 2/7/25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...