Woko Utoro
Entah mimpi apa aku semalam bisa sampai ke rumahnya. Lebih tak mengerti lagi aku bisa meminangnya sebagai calon istri. Dia yang ku pilih sebagai tambatan hati. Dan aku menyebutnya sebagai bidadari bermata bening. Seorang gadis sederhana dari ujung Pulau Jawa tepatnya Dusun Talkandang Desa Kota Anyar Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.
Aku mengenalnya sekitar September 2024. Hingga detik ini komunikasi kami sudah berjalan hampir satu tahun. Sebuah waktu yang pastinya akan membutuhkan lebih lama lagi. Karena kami tahu saat kenal pertama hubungan ini ingin berlanjut ke jenjang lebih serius. Bagi kami yang ternyata satu almamater di jurusan Tasawuf Psikoterapi hubungan baik harus dirawat bersama. Karena bagaimanapun juga terkadang dewasa itu lahir dari kebersamaan.
Hingga detik ini kami berdua diam-diam saling memahami. Dia yang kadang kesulitan mengenali diri sendiri mencoba untuk mencari solusi. Sedangkan aku sendiri belajar memahaminya sambil menghayati lingkungan. Aku sadar bahwa semua butuh proses dan ikhtiar itu akan memakan waktu lama bahkan sepanjang usia.
Tapi aku sadar bahwa Allah itu memiliki nama Sunnaya artinya maha menyatukan perbedaan. Walaupun kita banyak memiliki perbedaan tapi hal itu bukan problem. Justru semakin berbeda maka kita akan tahu persamaan. Kata orang tua pernikahan itu bukan tentang persamaan tapi berkaitan dengan perbedaan yang disatukan.
Baik aku dan dia sama-sama saling memiliki kunci. Yaitu sebuah upaya untuk tumbuh bersama. Bukan untuk saling mendominasi. Tapi untuk kerjasama, bermitra dalam kebaikan. Kata keluarga berpesan pada kami untuk saling belajar dan sabar. Karena hanya dengan sikap sabarlah kita akan sampai.
Satu dengan lainnya harus pandai mengenali diri. Saling menghormati dan memahami. Belajar menjadi orang tua dan sering introspeksi. Saat ada problem mencoba untuk tenang dan bermusyawarah. Jangan lupa untuk sering bicara dan terbuka. Intinya semua itu harus dijalankan berdasarkan ilmu, niat baik dan mencari ridho Allah.
Seperti kita tahu saat akad tiba pintu-pintu tanggungjawab terbuka lebar. Kita akan menuju ke sana bersama. Dan pasti harus dipersiapkan sejak dini. Ketakutan, khawatir dan rasa cemas mungkin ada. Akan tetapi yakin saja semua pasti ada jalannya. Seperti halnya pertemuan ini yang kita sendiri masih tidak percaya hingga kini. Kita hanya bisa berikhtiar, berdoa dan berkarya bahwa kehidupan ini berharga. Maka dari itu kerjasama ibarat dua mata sayap yang berkepak, terbang hingga sampai ke tujuan.
Sampai di fase ini tentu aku sangat senang, bahagia dan bersyukur. Akan tetapi tugas kita belum usai. Kita masih terus berusaha menjaga, merawat dan meneruskan bahwa hubungan ini masih berjalan. Maka dari itu hingga akad tiba kita akan berupaya sekuat tenaga untuk meraih ridhoNya. Ibarat sebuah lagu dari Payung Teduh, "Bila nanti saatnya tlah tiba. Ku ingin kau menjadi istriku. Berjalan bersamaku dalam terik dan hujan. Berlarian ke sana kemari dan tertawa".[]
The Woko Institute | Rumah Peradaban 13/7/25

Komentar
Posting Komentar