Langsung ke konten utama

Bapak Membaca Kahlil Gibran




Woko Utoro

Setiap orang tua punya jalan istimewa. Terutama dalam memperlakukan anak-anaknya tak terkecuali bapak. Bagi saya bapak itu unik salah satunya berkaitan dengan pola asuh. Tipe pola asuh yang beliau terapkan adalah demokratis. Bapak tak pernah memaksa dan cenderung bermain logika.

Salah satu hal yang saya ingat adalah beliau selalu mengajak berpikir. Misalnya jika melakukan aktivitas A beliau tidak langsung melarang "jangan" tapi lebih reflektif. Jika kita melakukan A nanti akibatnya B maka dari itu akhirnya kita ikut berpikir. Mungkin apa yang dikatakan bapak benar juga dan seterusnya.

Termasuk soal pilihan hidup pola pikir bapak sederhana. Beliau tidak neko-neko dan semua berjalan apa adanya. Tapi titik poinya semua diserahkan pada Allah. Kata beliau hidup yang disandarkan pada Allah itu akan terasa nikmat. Hidup menjadi terarah dan tidak usah mengkhawatirkan apapun. Saya menduga pikiran bapak terpengaruh banyak hal salah satunya melalui puisi Khalil Gibran yang bertema anak.

Puisi Kahlil Gibran termuat dalam buku the Prophet yang diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono dengan judul Almustafa. Menurut saya puisi tersebut tentu sangat lekat dengan gaya berpikir bapak. Penggalan puisi tersebut yaitu :

Anakmu bukanlah anakmu.
Mereka adalah putra putri kerinduan kehidupan terhadap dirinya sendiri.
Mereka terlahir lewat dirimu, tetapi tidak berasal dari dirimu.
Dan, meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu.

Puisi tersebut mengisyaratkan bahwa bapak selalu menyerahkan segala sesuatu pada anak. Sembari beliau menuntun sekaligus memberi jalan anak untuk melangkah sesuai kehendaknya. Bapak sadar bahwa anak tidak bisa sesuai keinginan orang tua. Karena anak adalah titipan Tuhan dan amanah kepada orang tua.

Anak tidak bisa dipaksakan dalam hal apapun. Anak memiliki pikiran, perasaan dan keputusannya tersendiri. Sehingga dari itu anak memiliki masa depannya untuk mereka rengkuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...