Woko Utoro
Hampir tiap hari pondok kami sepi. Sepi karena memang hanya menyisakan beberapa santri atau karena hakikatnya kesepian tiap hari. Pertama, banyak dari mayoritas penghuni sedang melakukan pengabdian di luar pondok. Kedua, memang tiap hari pondok mengalami sepi bukan karena tiada santri tapi tiada yang mengaji.
Setiap hari yang mengikuti ngaji Abah hanya tiga orang santri. Tiga orang santri itu pun masuk kategori santri lawas yang beberapa bulan lagi boyongan. Bagaimana jadinya jika tiga spesies santri itu benar-benar boyong. Bagaimana kondisi pondok ketika mereka sudah berada di rumah. Lantas siapa yang akan meramaikan pondok ke depannya.
Ramainya pondok sebenarnya sederhana yaitu selain adanya santri secara kuantitas juga adanya santri secara kualitas. Artinya santri kualitas adalah mereka yang selalu mengikuti ngaji. Karena ruhnya pondok adalah ubudiyah dan ta'lim. Jika santri banyak secara kuantitas tapi mereka malas ibadah dan ngaji maka pondok sama dengan sepi. Lebih bahaya lagi pondok yang mati.
Jangankan pondok diri kita sendiri jika sudah sepi maka bersiap mati. Bisa dilihat siklus hidup manusia di ujung senja alias mbah-mbah sepuh. Para mbah tak ada cita-cita lain selain ingin hidup bersama anak-anaknya. Mereka tidak ingin kesepian di akhir hidupnya. Jika sepi adalah teman maka mati adalah tujuan. Pondok pun demikian, jika sudah tiada aktivitas ngaji lebih lagi tiada santri maka tinggal menunggu waktu saja. Kematian dini tak bisa dihindarkan.
Mengapa tolok ukur ramainya pondok terletak pada ngaji dan jama'ah. Sederhana saja seperti diungkapkan banyak ulama bahwa siapa manusia itu? manusia adalah mereka yang memiliki kepedulian terhadap ilmu. Jadi jika orang sudah tidak minat dengan ilmu, ngaji dan diskusi maka bisa dikatakan sebagai bukan manusia. Manusia dalam pandangan Allah ialah yang paling besar takwanya sedangkan ketakwaan hanya diperoleh dengan semangat keilmuan.
Di sinilah tantangan kita di mana ramainya dunia tidak menjamin ramainya dunia pesantren. Justru sebaliknya kini dunia memalingkan para santri dengan gemerlapnya. Santri lebih senang dengan hiburan dunia yang sesaat daripada ngaji.
Alasan santri tidak senang ngaji yaitu, "percuma ngaji jika tidak sampai memahami". Padahal kalimat itu salah besar. Bahwa ngaji bukan soal paham tapi soal bekal. Setidaknya dari ngaji kita sadar bahwa tugas manusia adalah berikhtiar. Urusan paham dan bermanfaat semua ada pada kehendak Allah. Jadi intinya soal kesepian ini apakah sama dengan apa yang sudah diprediksi Rasulullah SAW sejak ribuan tahun silam bahwa Islam datang dari keterasingan dan esok akan kembali asing, bahkan mungkin tak dikenal.[]
PP. Himmatus Salamah Srigading
the woks institute l rumah peradaban 21/7/25

Komentar
Posting Komentar