Woks
Kita mungkin sering mendengar banyak sahabat, keluarga atau tetangga yang meninggal dalam usia muda. Lebih lagi ketika di awal pandemi orang meninggal silih berganti tiap pagi, siang dan sore seperti minum obat. Hal itu pun tidak mengenal usia semua sama di mata kematian baik yang muda maupun tua.
Beberapa di antara kita sering mendengar keterangan dari para penceramah Nabi pernah berkata bahwa usia umatnya nanti tak akan jauh dari usia beliau ketika wafat. Rerata memang percis seperti dawuh nabi bahwa umatnya meninggal di usia 63 tahun baik itu belum genap maupun lebih sedikit.
Apa yang didawuhkan nabi tentu bukan tanpa alasan justru banyak faktor yang beliau sendiri sudah memprediksinya sejak ribuan tahun silam. Beberapa alasan di antaranya: di masa mendatang usia dunia semakin tua alias akhir zaman oleh karenanya kita dituntut untuk bersiap-siap dalam hal apapun termasuk amal baik. Selanjutnya makanan yang dikonsumsi sudah tidak sehat seperti dulu, banyak pengaruh zat kimia yang sebenarnya tidak baik untuk tubuh.
Pola hidup dan gaya hidup termasuk juga mempengaruhi karena selama ini manusia modern hidup dengan semaunya. Secara geografis dan klimatologi saat ini pun sudah banyak lingkungan yang tercemar sehingga banyak menimbulkan kontaminasi bagi tubuh. Gaya hidup yang glamor dan suka iri dengki terhadap sesama juga menyumbang tumbuhnya penyakit hati. Kehidupan nan sederhana dan zuhud sudah ditinggalkan sehingga penyakit hati justru mudah menjangkiti.
Selain itu kesehatan mental dan sosial sudah tidak lagi menjadi urusan utama. Jika soal kesenangan hidup dan kepuasan nafsu semua dituruti. Shalat, puasa, shadaqah tidak menjadi bagian dari ritual nan membudaya sehingga jauh dari nilai-nilai agama menjadi faktor yang justru menjauhkan manusia dari penciptanya.
Tapi faktor-faktor tersebut hanya sebagian kecil dari logika formal yang dibangun selebihnya adalah kehendak pencipta. Otoritas Tuhan sebagai pencipta lebih besar daripada faktor-faktor yang ada. Oleh karena itu banyak logika jumping yang kita sendiri tak akan mampu menangkapnya. Faktor kematian unik bahkan sering terjadi dan tidak menyinggung faktor-faktor yang telah disebutkan. Misalnya ada orang yang ikhlas, secara agama baik, secara kehidupan sosial, pola hidup sehat juga baik tapi Allah mengambilnya masih muda. Ada juga seorang mbah sepuh yang sepertinya tak berdaya, hidup ditopang tongkat dan alat medis akan tetapi Allah masih memberinya panjang umur juga tidak sedikit. Ada seorang anak yang riang gembira saat bermain seketika di rumah ia tertidur lalu meninggal juga ada. Jadi banyak hal yang tak terduga jika menyangkut kematian, pun termasuk perjodohan.
Fenomena kematian memang tidak bisa ditebak. Banyak mata dadu yang manusia sendiri tidak bisa menentukan dengan tepat. Semua hanya faktor peluang dan pikiran induktif alias ilmu titen. Kita hanya bisa belajar dari fenomena yang ada. Misalnya jika Allah memanggil ahli ibadah itu tanda bahwa bunga terbaik harus segera bersiap disambut lebah. Jika Allah memanggil ahli maksiat lebih lama itu tanda bahwa Dia masih memberikan pintu taubat buat mereka. Intinya, Allah ingin kita selalu bersyukur dan husnudzon kepadanya. Manusia hanya bisa berusaha sedangkan hasilnya mutlak di tanganya (takdir).
Penting kiranya dalam hal ini seperti judul di atas agar kita persiapkan bekal sebelum ajal. Maka dari itu kata pepatah Jawa sak beja-bejane wong kang lali iseh apik wong kang eling lan waspada.
the woks institute l rumah peradaban 7/2/22
Komentar
Posting Komentar