Langsung ke konten utama

Ngaji Ayo Ngaji (4)




Woks

Dunia sudah makin tua. Banyak orang yang menggelar pengajian. Tujuannya sederhana yaitu mengamalkan pesan al Qur'an mengajak kembali kepada Allah. Jika kita bergelimang dosa janganlah putus asa selalulah kembali pada Allah karena pintu rahmatnya terbuka luas bagi hambanya yang mau bertaubat.

Pengajian dengan segala macam varian memang sangat beragam di era modern ini. Karena kalangan muslim urban sangat butuh siraman ruhani, dengan keadaan mereka yang kering spiritual maka ngaji menjadi solusi utama. Kita ingat kisah Habib Mundzir Fuad Al Musawa pendiri Majelis Rasulullah Saw menaklukkan metropolitan Jakarta hanya demi membuat ibu kota tersebut sejuk dan damai. KH. Nur Muhammad Iskandar SQ alumni Lirboyo merantau ke Jakarta lalu mendirikan Pondok Pesantren Shidiqiyyah demi menyelamatkan generasi muda Betawi.

Mengapa ngaji sangat penting? karena lewat ngajilah ilmu bisa digelar. Anda pasti tau bedanya orang ngaji dengan orang bodoh pasti sangat jauh. Orang ngaji itu ibarat mendekat pada cahaya sedangkan semakin jauh dengan ngaji hidup akan semakin gelap. KH. Muhammad Djamaluddin Ahmad berpesan kamu tidak usah khawatir kehilangan sesuatu dari mahluk. Karena kehilangan sesuatu dari mahluk akan ada gantinya, tapi jangan sampai engkau kehilangan Allah. Karena kehilangan Allah tak ada gantinya. Bagaimana bisa kita terus bersama Allah tentu kuncinya dengan ilmu dan memperolehnya lewat cara mengaji.

Kata Gus Baha budaya oral masyarakat kita sudah akut maka perlulah ngaji sebagai tempat berpijak. Artinya orang akan bertindak hanya berasaskan ilmu dan bukan karena dorongan nafsu. Jika orang berlandaskan ilmu dalam hal perbedaan pun akan tetap membawa berkah. Misalnya barokahnya ustadz beda pendapat maka mereka akan membuat lembaga pendidikan atau pengajiannya tersendiri. Akibatnya majelis ngaji akan ada di mana-mana.

Ngaji mulai dari fikih, belajar tajwid di TPQ atau belajar adab jangan dianggap remeh. Karena ngaji tersebut justru esok hari akan sangat bermanfaat. Apalagi era kekinian orang sudah merasa ngaji bahkan meneriakan hijrah sebagai tagline utamanya. Jika niat hijrah untuk memperbaiki diri tak mengapa lah. Yang menjadi masalah jika timbul takabur, merasa diri paling benar dan suci serta menganggap orang lain hina, kotor berdosa. Patutlah kita renungkan pesan Gus Mus bahwa, "menganggap diri paling benar justru tidak benar".

Mari mengaji, hanya itulah yang bisa kita teriakan dalam diri untuk terus berbenah. Dengan ngaji seseorang akan meningkatkan kualitas diri. Ibadah tanpa ilmu tak akan ternilai. Maka ngaji adalah sarana untuk menunjang sarana ibadah. Dengan ngaji ilmu akan didapat dan cara itulah yang bisa membawa kita wushul kepada Allah.

Banyak pengajian di luaran sana tak lain hanya untuk terus dalam jalan Allah yang lurus. Fenomena the new pseudo sufi order dalam bahasa Prof. Rubaidi sangatlah menarik karena afiliasi tarekat dalam majelis dzikir dan sholawat sangat berjamuran di mana-mana. Para guru mursyid serta para pendakwah ruhani sudah turun gunung sejak lama tujuannya untuk menyemai benih moderasi dan menanamkan akhlak yang baik. Selama ini sebagian masyarakat kita terutama di medsos masih sering menggunakan akhlak jalanan. Sehingga perlu ada orang yang mengingatkan.

Ilmu seluas samudera, guru juga banyak di manapun terutama di pesantren-pesantren tinggal sekarang bagaimana kita mau mengaji atau tidak. Ingat pesan Mbah Sahal Mahfudz,"jika orang ingin jadi baik itu mudah cukup dengan diam akan tetapi jika ingin benar itu butuh perjuangan". Mari mengaji sebelum terlambat, sebelum kiamat.

the woks institute l rumah peradaban 28/2/22

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...