Woks
Malam itu aku tidak bisa tidur. Entah apa yang menyebabkanya. Jika karena kafein kopi yang menyebabkannya insomnia nyatanya hal itu sering aku lakukan. Malam itu udara terasa dingin. Diselingi gemericik hujan aku merasa ada yang berbeda. Hati terasa kosong dan pikiran melayang memikirkan sesuatu yang aku sendiri tak menemukan pangkalnya. Dalam kegundahan itu benar dugaanku tetiba aku ingin memutar video Cak Nun dan Kiai Kanjeng di laman Facebook.
Ya, Cak Nun dengan lantunan suluk sholawatnya membuat aku rindu. Entah rasa apa yang baru saja menyeruak ini. Yang jelas malam itu aku putar berbagai syair sholawat Cak Nun, Mas Zainul dan kawan-kawan Kiai Kanjeng. Suara merdu yang khas dengan cengkok Jawanya mampu membuatku tertahan sejenak. Suara itu berhasil menusuk qolbuku. Mungkin inilah pengertian rindu sebagai sebuah rasa yang tidak bisa dimengerti.
Syair lagu seperti Suluk Pambuko, Lizziyarah Qosshidiina, Sidnan Nabi, Hasbunallah, Sholawat Nariyah, Sholawat Badr, Sholawat Tibbil Qulub, Sholawat Asyghil, Tombo Ati, Ilir-ilir, Ya Thoyyibah, Ya Rasulullah, Duh Gusti dan Kuncine Lawang Swargo menjadi menu utama kegundahan itu. Entah aku merasa hati yang gersang dan tandus itu seketika tersirami dengan sholawat tersebut. Iringan rampak, harmoni seruling dan gamelan serta gesekan biola seperti cukup untuk mengikis rinduku. Ditambah lagi sebuah puisi rindu selalu didengungkan Cak Nun dalam beberapa kesempatan ketika perpindahan lagu.
Sudah dua tahun lebih pandemi mengaburkan semua termasuk pagelaran Maiyah Cak Nun yang sudah berjalan 3597 kali lebih itu. Sehingga dampak pandemi ini barangkali yang membuat kerinduan itu menumpuk. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hening, rindu dalam diam. Cak Nun dan Kiai Kanjeng memang masih menjadi magnet dan daya tarik. Di kala diam ia justru menampakan kharismanya. Di saat jauh justru ia mendekat lewat berbagai macam hal barangkali angin-angin pun berhembus menerbangkan rindu lewat Cak Nun dan petuah sejuknya.
Aku kadang selalu berpikir Mbah Nun yang sudah usia senja itu masih menjadi punjer bagi para bocah Maiyah yang mudah tersesat. Sejak tahun 70an hingga kini Cak Nun rutin keliling dari satu daerah ke daerah, dari panggung ke panggung demi merajut kebhinekaan. Cak Nun telah melewati banyak hal dalam sejarah terutama melawan arus deras rezim orde baru yang otoriter itu.
Mungkin saja dugaan kita benar jika Cak Nun tidak dibacking dengan yang spiritual rasanya sulit beliau bertahan. Aku kadang mengamati cara duduk beliau dari sejak muda hingga dipanggil mbah beliau masih tegak berdiri. Padahal panggung beliau telah ribuan silih berganti sejak sore hingga dinihari. Walau begitu sepertinya tidak ada rasa lelah bagi Cak Nun untuk membersamai umat nabi itu. Semua beliau lakukan demi "anak-anak" agar tetap rukun damai dan sejahtera. Mbah Nun memang terus bekerja, bergerak menyemai kebahagiaan.
Salah satu hal menarik dari Cak Nun yaitu soal kecintaan beliau kepada Kanjeng Nabi Muhammad yang menjadi topik utama dalam tulisan ini. Ya, Cak Nun adalah sedikit sosok manusia yang mengekspresikan cintanya kepada Kanjeng Nabi. Sampai-sampai sebagai sesama pecinta nabi beliau dipertemukan dengan banyak orang dengan visi yang sama salah satunya Gus Dur, Buya Kamba, Kiai Muzammil hingga Bunda Cammana dari tanah Mandar.
Cak Nun memang bukan habib. Beliau tidak memakai imamah, surban, gamis atau atribut dan simbol agama selain peci merah putih warna kebanggaan tanah kelahiran Indonesia. Beliau adalah orang Jawa asli yang tidak kebetulan cinta nabi tapi justru beliaulah cinta itu dan nabi adalah kekasihnya. Tapi walaupun begitu spirit cinta nabi beliau ekstraksikan dalam bentuk transmisi kebudayaan. Dengan syair, tulisan buku, aransemen musik, keilmuan dan spiritual beliau membuktikan kedekatannya kepada umat dengan berbagai lapisan dan latarbelakang. Cak Nun selalu memposisikan dirinya sebagai sahabat laiknya nabi dan sahabatnya.
Cak Nun terbukti berhasil menjadi sahabat bagi mereka yang papa. Beliau juga selalu membumi di saat orang lain sibuk mencari panggungnya sendiri. Beliau memang ikhlas sehingga tidak salah jika Tuhan menggerakan jutaan manusia itu di tanah lapang atau bahkan di manapun jika beliau kehendaki. Spirit kecintaan pada nabi selalu beliau gemakan tidak hanya di panggung melainkan di dalam kehidupan sehari-hari. Coba kita lihat ketika mikrophone beliau bergerak ke kanan dan kiri itu tanda bahwa kita sedang diajak oleh si juru kemudi untuk memuji Allah dan kekasihnya Nabi Muhammad.
Cak Nun memang tahu betul bahwa hanya dengan gondelan klambine Kanjeng Nabi Muhammad kita bisa selamat. Lewat ajaran Kanjeng Nabi itu Cak Nun melebur dengan tradisi Jawa dan keindonesiaan, semua demi menanamkan semangat juang tiada henti. Kata Cak Nun, Tuhan tidak menyuruh kita sukses tapi Dia menyuruh kita berjuang tanpa henti. Tetap jadi manusia sederhana akan tetapi maju dalam hal pemikiran dan tetap luwes dengan perbedaan.
Terakhir dalam catatan sederhana ini aku benar-benar merindu. Beliau yang frekuensi ruhani dan kecintaan pada Kanjeng Nabi benar-benar telah membuktikan bahwa persatuan kadang membuat kita saling terkoneksi. Entah seberapa naifnya diri ini yang jelas kecintaan kepada Kanjeng Nabi harus menjelma sikap welas asih pula kepada umat. Sehingga dengan begitu kita akan tetap bersatu sebagai sesama pecinta nabi dan Cak Nun lah juru kemudinya. Lewat persatuan kita tidak mudah dipecah belah apalagi diperbudak oleh kepentingan. Ya Allah aku bersyukur kepadamu telah menganugerahkan orang seperti Cak Nun buat negeri ini. Sehat terus Mbah Nun. Aku merindu engkau malam itu.
the woks institute l rumah peradaban 5/2/22
Komentar
Posting Komentar