Langsung ke konten utama

Santri dan Dunia Sastra (2)




Woks

Untuk menelurkan sastrawan santri tentu tidak mudah. Akan tetapi tidak sulit jika ditempa secara serius. Berkaitan dengan hal itu berbagai hal pernah didiskusikan di forum-forum di antaranya membahas bagaimana menelurkan kembali sastrawan dari dunia pesantren.

Kita tentu gundah jika salah satu lahan basah ini justru dikuasai oleh orang lain. Maka tidak salah jika pada 2018 diadakan Muktamar Sastra di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Asembagus Situbondo dengan mengangkat tema, "Menggali Kenusantaraan Membangun Kebangsaan". Acara tersebut diinisiasi oleh Lora Azaim Ibrahim dan beberapa kolega serta menghadirkan narasumber seperti Gus Mus, Cak Nun, Kiai Dzawawi, Kiai Mutawakkil dll.

Di medan dakwah tentu kita tahu saat ini pergulatan sastra sebagai medianya sangatlah kental. Orang-orang bisa dengan mudah menggaet masa hanya dengan provokasi lewat kebahasaan. Bisa dibayangkan lewat bahasa dan sastra ternyata membawa daya ledak yang luar biasa. Orang-orang mudah terindoktrinasi oleh hal-hal yang berbau jihadi.

Jangan sampai hanya karena tidak bisa menulis santri kesulitan dalam membuat kontranarasi terhadap kubu sebelah yang cenderung lebih kreatif. Oleh karenanya pesan sejuk para kiai dan tradisi khas pesantren seharusnya dimunculkan misalnya dalam karya sastra. Tujuannya sederhana yaitu membendung penetrasi dari arus utama Islam transnasional yang masif dengan gerakan indoktrinasi.

Apa yang mereka lakukan kecuali menulis sekaligus penggiringan opini bahwa Islam yang bergandengan dengan lokalitas harus dijauhi. Selain itu narasi islamisme menjadi bumbu penyedap utama yang terus digelorakan. Akibatnya ideologi jihadi seolah tak pernah padam akibat mispersepsi dalam hal mengartikan konsep yang tidak sesuai dengan konteknya. Maka dari itu adanya muktamar sastra tak lain menjadi counter attack terhadap orang-orang yang asal bicara dan mudah menuduh.

Dalam kajian sastra tentu orang dengan sumbu pendek sangat berbahaya jika terus bermanuver. Pasalnya mereka akan memperkeruh gerak sosial dan kebangsaan yang majemuk ini. Narasi-narasi akan mudah disemai misalnya melalui literatur populer keislaman salah satunya sastra, novel dan cerpen. Jika santri tidak bisa memfilter akan literatur dan bacaan tersebut maka mudah untuk dipecah belah.

Jangan dikira sastra hanya berkaitan dengan karya berupa tulisan atau bahasa lisan melainkan juga sikap. Setidaknya lewat sastra seseorang dapat lebih memahami bahwa di balik benda ada makna, di balik realitas ada esensi, di balik sesuatu adalah fakta dan kebenaran. Oleh karenanya sastra sejatinya tengah mengajari kita tentang sikap ilmiah. Sikap di mana seseorang akan berpikiran sebelum bertindak, orang akan berbuat sesudah bermusyawarah, orang akan bicara by data bukan omong kosong belaka.

Jika kita tanya orang Eropa mengenai Islam mereka pasti akan mengatakan "Rumi" sufism and love. Begitulah, Islam dikenal salah satunya lewat Rumi dengan ajaran cintanya dan hal ini juga diajarkan dalam konsep kasih al Masih. Salah satu penggalan puisi Rumi yaitu;

Jika kau ingin melihat wajah-Nya, maka tengoklah pada wajah sahabatmu tercinta.

Puisi ini berarti bahwa bagi Rumi kecintaan pada Tuhan juga harus berelasi dengan sikap cinta kepada mahluknya. Tidak masuk akal jika fanatisme mencintaiNya tapi mengorbankan darah ciptaanya. Oleh karenanya Rumi melalui sastra selalu mengajak pada kita akan cinta dan kerukunan. Hidup saling menghormati dan melengkapi. Alangkah indahnya hidup ini bila selalu diisi dengan semangat cinta.

*Artikel ini dipost juga di blog PSP UIN SATU Tulungagung

the woks institute l rumah peradaban 2/3/22


Komentar

  1. Tulisan ini bagus sekali d baca jg oleh para santri milenial secara luas. wacana yang mampu membangkitkan semangat literasi para santri dalam dunia sastra dan literasi. keren bang woks

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...