Woks
Saya sangat senang ketika melihat masih banyak anak-anak ngaji, mondar-mandir di antara masjid mushola. Di zaman yang sudah makin modern dan memperturutkan rasio ngaji barangkali bukan menjadi pilihan apalagi jika berhadapan dengan hal-hal pragmatis. Ngaji bagi sebagian orang masih dianggap sebelah mata padahal dari ngajilah esok menjadi wasilah keselamatan.
Bu Nyai Nita Yuliana, pengasuh kami di pondok PPHS sangat menyayangkan kepada mereka para orang tua yang mendidik anaknya dengan tidak serius. Mereka cenderung acuh terhadap pendidikan ngaji (qur'an, kitab, akhlak) bahkan sering dibiarkan main dan memburu kesenangan lainya. Padahal nanti jika orang tuanya sudah meninggal barangkali do'a anak adalah yang utama. Akan tetapi jika sudah sering dibiarkan dan tidak tegas maka apa yang mau diharapkan.
Salah satu fungsi ngaji adalah penyeimbang di tengah gempuran modernitas. Selain sebagai sangu hidup ngaji adalah senjata zaman yang ampun sekalipun waktu silih berganti. Dengan mengaji berarti kita telah mengamankan satu tiket menuju masa depan. Bahkan saking pentingnya ngaji orang tua sepuh yang mau meninggal dunia masih perlu dituntun untuk melafazkan kalimat thayyibah dan hal itu merupakan ngaji.
Pada akhirnya nanti ngaji dibagi menjadi dua; pertama ngaji syariat yang terdiri dari ngaji pada umumnya menggunakan kitab, buku, Qur'an dll. Sedangkan kedua, ngaji hakikat memasuki dimensi ngaji diri dan ngaji kedua ini sangat luas serta membutuhkan guru khusus. Baik ngaji syariat maupun ngaji hakikat sejatinya sama yaitu mendidik manusia agar menjadi pribadi yang berkualitas, pribadi yang berilmu serta arif terhadap perubahan zaman.
Zaman sekarang ngaji Qur'an, akhlak dan fikih sangat penting untuk anak-anak. Karena dengan ngaji tersebut anak akan mendapat bekal kelak untuk mereka dewasa. Jika anak-anak sudah tidak mau mengaji lantas bagaimana dengan masa depannya. Dulu atau sekarang ngaji memang mengalami tantangannya tersendiri. Ngaji selalu mengalami pasang surut dan tidak semua orang menganggap aktivitas ini penting.
Jika anak dulu ngaji dengan gegap gempita walaupun penerangan dan sarana belum memadai sedangkan ngaji di era kekinian akan berhadapan dengan godaan kemapanan, teknologi dan media sosial. Di sinilah tantangan kita untuk terus mengaji tanpa henti. Memposisikan ngaji sebagai kebutuhan ruhani adalah bagian dari menjaga diri dari pergaulan bebas yang tak terkendali.
the woks institute l rumah peradaban 25/2/22
Komentar
Posting Komentar