Woks
Saya merasa bahagia ketika ada orang tua yang sangat memperhatikan ngaji sebagai kebutuhan utama anaknya. Bahkan beberapa orang di desa selalu gigih jika berkaitan dengan kebutuhan anak mengaji. Tidak jarang juga mereka rela membeli buku, kitab dan atk agar anaknya mau mengaji. Bahkan saat khataman tidak sedikit pula orang tua yang bersusah payah memberinya hadiah.
Sejak dulu orang tua selalu mendambakan ngaji kepada anaknya. Mereka berpandangan bahwa ngaji menimba ilmu adalah harta berharga yang diwariskan buat anak. Selama ini mereka telah paham bahwa mewariskan harta terbukti malah jadi perebutan atas kuasa. Tapi beda dengan warisan ilmu justru hidup semakin adem dan terarah.
Memondokan anak ke pesantren barangkali masih menjadi tradisi di desa sebagai upaya orang tua memberi pendidikan terbaik buat anaknya. Saking semangatnya orang tua melihat anaknya mondok sampai-sampai niat menimba ilmu sedikit bergeser. Misalnya dulu anak pulang dari pondok itu minimal harus bisa baca kitab kuning jika sekarang anak mau betah (krasan) di pondok saja syukurnya bukan main. Jadi standarisasi anak mondok sudah turun level. Akan tetapi hal itu sebuah kewajaran artinya masih lebih baik daripada di luar pondok dengan pergaulan bebasnya.
Ngaji ke pesantren tentu merupakan level kedua setelah mereka mendapat pendidikan ngaji di langgar (mushola) dekat rumah. Atau masuk madrasah diniyyah dengan berbagai macam kajian keilmuan mulai dari fikih dasar, akhlak hingga aqidah. Setelah itu mereka baru berpikir ngaji berbagai hal yang kini banyak tersedia lewat fasilitas pesantren. Bahkan saat ini orang tengah gandrung dengan pesantren tahfidzul qur'an.
Dalam rangka merapal zaman pesantren pun berbenah. Tentu respon tersebut dalam rangka agar banyak anak tetap mau mengaji. Baik itu pesantren tahfidz, berbasis alam, ekonomi, hingga teknologi yang jelas metode vokasi pesantren sangat tepat untuk memfasilitasi anak agar mau mengaji. Walaupun tingkat keprihatinan santri dulu dengan sekarang berbeda yang jelas ngaji lebih memiliki keutamaan daripada tidak ngaji sama sekali.
Jika anak mau mengaji rasanya dana sebesar apapun bagi orang tua tidak begitu masalah. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah kini lebih banyak orang tua yang semangat mengaji sedangkan anaknya tidak. Lunturnya niat anak dalam mengaji tentu kesedihan tersendiri bagi orang tua. Oleh karenanya dalam perkembangan zaman seperti saat ini pesantren berbenah guna membantu orang tua agar mereka bisa meyakinkan anak agar tetap mau mengaji.
Pesantren bukan selalu yang terstigmakan udik, tradisional akan tetapi lembaga ini juga bisa memfasilitasi anak dengan berbagai latar belakang agar tetap ngaji. Semoga saja seiring berjalannya waktu anak akan terbuka hatinya bahwa menimba ilmu dengan ngaji adalah sebuah keunggulan tersendiri dan bisa dipastikan mampu bersaing di tengah gempuran zaman. Lebih-lebih mereka mau ngaji dan mukim di pondok itu akan lebih memiliki keutamaan. Karena di pondok anak akan dididik menjadi santri berjiwa ikhlas, semangat dan pejuang.
the woks institute l rumah peradaban 26/2/22
Mari terus gelorakan semangat ngaji
BalasHapus