Woks
Dulu orang ngaji sangat bersusah payah. Mereka rela berjalan jauh, membawa obor atau naik sepeda onthel. Suasana jalanan yang gelap, hawa dingin dan fasilitas ngaji yang kurang memadai bukan menjadi alasan mereka untuk tetap mengaji. Orang ngaji pada saat dulu memang menjadi kebutuhan utama hingga ada pepatah, "gunung tinggi kudaki lautan ku sebrangi, aku tak peduli", semua demi ngaji.
Saat ini segala fasilitas sudah tersedia. Sarana prasarana memadai orang tinggal ngaji kapanpun bisa. Akan tetapi ternyata di luar dugaan ngaji justru masih menjadi kendala bagi mereka dengan segenap alasannya. Padahal jika mau orang-orang menggelar pengajian di mana-mana salah satunya lewat media sosial seperti Facebook, Instagram hingga YouTube.
Kita bisa memilih ngaji di mana pun dan kapan pun, asal punya niat dan paketan ngaji sudah tersaji. Asal selektif dalam memilih pengajian tentu saat di kendaraan umum pun kita bisa mengaji walaupun sebatas ngaji kuping. Saat ini di era medsos ngaji lewat pendakwah di internet bukan kepalang banyaknya. Tinggal niat dan tepat dalam memilih guru akan lebih baik daripada tidak mengaji. Misalnya rekomendasi guru-guru yang menyiarkan pengajianya di internet bisa kita akses dan nikmati.
Para guru-guru yang berafiliasi dengan NU atau yang jelas sanad keilmuannya merupakan rekomendasi utama dalam mengikuti kajian di medsos. Gus Mus, Gus Baha, Gus Ulil, Gus Ghofur Maimun, Gus Najih Maimun, Buya Syakur, Buya Arrazy, KH. Aniq Muhammadun, KH. Ahmad Asnawi, KH. Nurul Huda, Prof. Quraish Shihab, Prof. Nasaruddin Umar, KH. Lukman Hakim, KH. Sahidin Sladi dll. Mereka adalah contoh-contoh guru-guru yang mengaji dengan membedah kitab, tentu berbagai fan keilmuan. Berbeda dengan ngaji ceramah tanpa membawa kitab seperti Gus Miftah, Gus Ulin, Ustadzah Mumpuni, hingga para pengasuh majelis sholawat seperti Gus Ali Gondrong, Cak Nun, Habib Anis Sholeh Baasyin dll. Intinya semua bisa kita konsumsi dengan baik dan diniatkan ngaji.
Selektif barangkali adalah kunci saat kita ngaji di media sosial. Jangan sampai menerima pengajian dengan leterlek. Tetap saja ada banyak hal yang harus dipahami dan semua itu harus bersandar pula pada guru, sanad, literatur dan ilmu. Maka dari itu ngaji sebenarnya komplek dan tidak instan seperti mie kuah. Jika ngaji sekadar ngaji tentu setiap orang bisa. Bahkan kini hanyak orang mendaku ustadz padahal tidak memiliki kapasitas keilmuan yang memadai.
Fenomena tersebut sejak lama sudah diprediksi oleh Kuntowijoyo sebagai istilah muslim tanpa masjid. Bagi Kunto orang dulu ngaji harus di masjid dengan guru dan sanad keilmuan yang jelas akan tetapi kini ngaji bisa dengan siapa saja dan bisa melalui kanal ngaji di internet. Jika tidak selektif dalam memilih pengajian akibatnya kita akan terperosok kepada mereka para pendakwah dadakan yang minim pengetahuan.
Jika sudah berhadapan dengan media di internet tentu tantangannya juga luar biasa. Kadang kita akan temui pengajian provokatif yang disebar lewat pengampu ngaji dengan afiliasi islamisme, islam transnasional hingga tahriri jihadi. Ngaji di internet, medsos memang sangat perlu kehati-hatian karena jika tidak alih-alih jamaah akan paham justru malah pahamnya salah.
Selain selektif, kunci ngaji di internet adalah harus kaya dengan bacaan penunjang lainnya. Artinya literatur aslinya berupa kitab juga tak kalah pentingnya agar orang memiliki kendali. Yang lebih penting dari itu semua tentu paradigma bahwa belajar agama itu bukan dari internet tapi dari guru-guru, para kiai ulama yang jelas sanad keilmuannya.
the woks institute l rumah peradaban 27/2/22
Ngaji itu susah... Tapi kita tertuntun oleh ilmu agama yang didapat dari ngaji..
BalasHapusAkan lebih susah dan sengsara kita bila tidak bisa ngaji