Langsung ke konten utama

Ngaji Ayo Ngaji (3)




Woks

Dulu orang ngaji sangat bersusah payah. Mereka rela berjalan jauh, membawa obor atau naik sepeda onthel. Suasana jalanan yang gelap, hawa dingin dan fasilitas ngaji yang kurang memadai bukan menjadi alasan mereka untuk tetap mengaji. Orang ngaji pada saat dulu memang menjadi kebutuhan utama hingga ada pepatah, "gunung tinggi kudaki lautan ku sebrangi, aku tak peduli", semua demi ngaji.

Saat ini segala fasilitas sudah tersedia. Sarana prasarana memadai orang tinggal ngaji kapanpun bisa. Akan tetapi ternyata di luar dugaan ngaji justru masih menjadi kendala bagi mereka dengan segenap alasannya. Padahal jika mau orang-orang menggelar pengajian di mana-mana salah satunya lewat media sosial seperti Facebook, Instagram hingga YouTube.

Kita bisa memilih ngaji di mana pun dan kapan pun, asal punya niat dan paketan ngaji sudah tersaji. Asal selektif dalam memilih pengajian tentu saat di kendaraan umum pun kita bisa mengaji walaupun sebatas ngaji kuping. Saat ini di era medsos ngaji lewat pendakwah di internet bukan kepalang banyaknya. Tinggal niat dan tepat dalam memilih guru akan lebih baik daripada tidak mengaji. Misalnya rekomendasi guru-guru yang menyiarkan pengajianya di internet bisa kita akses dan nikmati.

Para guru-guru yang berafiliasi dengan NU atau yang jelas sanad keilmuannya merupakan rekomendasi utama dalam mengikuti kajian di medsos. Gus Mus, Gus Baha, Gus Ulil, Gus Ghofur Maimun, Gus Najih Maimun, Buya Syakur, Buya Arrazy, KH. Aniq Muhammadun, KH. Ahmad Asnawi, KH. Nurul Huda, Prof. Quraish Shihab, Prof. Nasaruddin Umar, KH. Lukman Hakim, KH. Sahidin Sladi dll. Mereka adalah contoh-contoh guru-guru yang mengaji dengan membedah kitab, tentu berbagai fan keilmuan. Berbeda dengan ngaji ceramah tanpa membawa kitab seperti Gus Miftah, Gus Ulin, Ustadzah Mumpuni, hingga para pengasuh majelis sholawat seperti Gus Ali Gondrong, Cak Nun, Habib Anis Sholeh Baasyin dll. Intinya semua bisa kita konsumsi dengan baik dan diniatkan ngaji.

Selektif barangkali adalah kunci saat kita ngaji di media sosial. Jangan sampai menerima pengajian dengan leterlek. Tetap saja ada banyak hal yang harus dipahami dan semua itu harus bersandar pula pada guru, sanad, literatur dan ilmu. Maka dari itu ngaji sebenarnya komplek dan tidak instan seperti mie kuah. Jika ngaji sekadar ngaji tentu setiap orang bisa. Bahkan kini hanyak orang mendaku ustadz padahal tidak memiliki kapasitas keilmuan yang memadai.

Fenomena tersebut sejak lama sudah diprediksi oleh Kuntowijoyo sebagai istilah muslim tanpa masjid. Bagi Kunto orang dulu ngaji harus di masjid dengan guru dan sanad keilmuan yang jelas akan tetapi kini ngaji bisa dengan siapa saja dan bisa melalui kanal ngaji di internet. Jika tidak selektif dalam memilih pengajian akibatnya kita akan terperosok kepada mereka para pendakwah dadakan yang minim pengetahuan.

Jika sudah berhadapan dengan media di internet tentu tantangannya juga luar biasa. Kadang kita akan temui pengajian provokatif yang disebar lewat pengampu ngaji dengan afiliasi islamisme, islam transnasional hingga tahriri jihadi. Ngaji di internet, medsos memang sangat perlu kehati-hatian karena jika tidak alih-alih jamaah akan paham justru malah pahamnya salah.

Selain selektif, kunci ngaji di internet adalah harus kaya dengan bacaan penunjang lainnya. Artinya literatur aslinya berupa kitab juga tak kalah pentingnya agar orang memiliki kendali. Yang lebih penting dari itu semua tentu paradigma bahwa belajar agama itu bukan dari internet tapi dari guru-guru, para kiai ulama yang jelas sanad keilmuannya.

the woks institute l rumah peradaban 27/2/22

Komentar

  1. Ngaji itu susah... Tapi kita tertuntun oleh ilmu agama yang didapat dari ngaji..
    Akan lebih susah dan sengsara kita bila tidak bisa ngaji

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...

Pesan Untuk Temanten

Woko Utoro  Beberapa waktu lalu saya diminta oleh Widayanti untuk hadir dipernikahannya. Saya bilang tidak bisa, selain karena kesibukan tentu sebagai artis jadwal bookingnya mahal (kami pun tertawa). Widayanti adalah adik kelas kami sejak di MTs, Aliyah hingga kuliah. Kebetulan kami satu almamater yaitu Nurul Hikmah Squad baik di Gantar maupun Haurgeulis. Singkat kisah Widay sapaan akrabnya mengabari saya jika ia pamit untuk menikah. Saya bilang oke ndak papa, semoga lancar dan berkah. Lantas ia pun langsung meminta agar saya memberi nasihat. Tanpa berlama-lama saya pun menuliskan spesial buatnya. Dan memang hanya itu yang saya mampu. Pesan ini tentu tidak hanya untuk Widay tapi semua orang dan saya secara pribadi. Pertama,  berkaitan dengan nikah sudah jelas yaitu bertujuan untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya. Melahirkan generasi terbaik dan tujuan menggapai ridha Allah SWT. Tidak ada pesan lain kecuali segala sesuatu bersandar kepada Allah SWT. Kedua , saya dapat pe...