Langsung ke konten utama

Pesan Luhur Untuk Para Santri


Sudut depan PP. Himmatus Salamah Srigading

Woks

Dalam panjangnya perjalanan berinteraksi di pesantren aku mendapat banyak pengalaman hidup termasuk petuah-petuah teduh dari para kiai dan santri senior. Beberapa hari ini pesan-pesan menyejukan itu aku kumpulkan dalam sebuah catatan kecil.

Pertama, jika jadi santri yang sering menundukkan badan di hadapan kiai jangan lupa tundukan juga hatinya. Saat ini banyak santri yang seolah-olah ta'dim di depan kiai tapi jika soal sami'na wa athona mereka tidak mau.

Kedua, jadi santri itu yang hidup hatinya. Jangan sampai hati kita mati untuk mengingat Allah. Salah satu ciri hatinya hidup selain mendawamkan dzikir, kita juga murah untuk mendoakan orang lain. Jika tak sempat membantu setidaknya berikan doa kepada mereka berharap Allah yang akan memberinya jalan keluar.

Ketiga, jadi santri itu harus rekasa alias tahan banting. Jangan sampai cuma karena ada ujian kecil kita langsung menyerah. Ingat bahwa ujian itu datang sebagai sarana pendewasaan. Barangkali lewat ujian Allah ingin kita berubah secara sikap, mindset dan perilaku.

Keempat, jika kita memiliki masalah atau kehendak apapun jangan lupa berkonsultasi, memusyawarahkan kepada ahlinya. Di pondok tentu kita tahu kiai bu nyai sebagai orang tua yang perlu kita mintakan petuahnya. Jangan sampai apapun yang kita lakukan karena pikiran sendiri. Mencobalah bersandar pada pikiran yang sudah berpengalaman dalam hidup dan dekat dengan Allah.

Kelima, dalam hal ilmu kita harus menghayati apa kata syiir Alala yaitu memiliki niat yang kuat, cerdas, sabar, butuh biaya, petunjuk guru, dan membutuhkan waktu. Dengan memperhatikan syaiir ini diharapkan santri bisa memahami dan akan serius dalam menimba ilmu, bukan malah tura turu tok.

Keenam, santri itu harus ikhlas berkhidmah, harus kuat riyadhoh, harus sabar belajar dan jangan mudah menyerah.

Ketujuh, santri itu harus rajin mencatat dan jangan malas-malasan dalam memutholaah kitab, syukur-syukur bisa hafalan. Jika santri malas mencatat maka tradisi keilmuan ulama akan hilang. Kata Ahmad Baso, bahwa pesantren tanpa tradisi menulis hanya seperti lukisan di pantai mudah terhapus ombak.

Kedelapan, santri itu harus mengerti waktu kapan saatnya bercanda, ngaji, ngopi atau istirahat. Kita harus memanajemen dan mengatur otonomi diri. Jangan sampai egois dan hanya demi keuntungan pragmatis belaka. Santri harus berkarakter, berkomitmen dengan ngajinya, ro'anya, amaliahnya dan pekerjaannya. Jangan sampai santri itu plin-plan dan mudah terbawa angin, terseok-seok tak punya pendirian.

Kesembilan, santri itu harus memahami medan di masyarakat. Nah, selama di pondoklah kita sedang belajar hidup dalam miniatur masyarakat. Di sana kita berdekatan dengan tetangga kamar, bagaimana bercengkrama dengan orang baru, menghormati yang lebih tua dan menerapkan sistem nilai yang berlaku. Maka santri harus sadar atau dalam bahasa Mbah Yai Ali, "kudu pinter nyelehke awak".

Kesepuluh, jika punya barang apapun misalnya sabun lantas barang itu dipakai oleh temannya maka niatkan saja shadaqah. Jangan sampai cuma karena barang kecil itu kita menjadi marah. Niatkan saja barang yang habis itu sebagai shadaqah sirr dan hanya Allah saja yang menilainya.

Perlu diingat bahwa pesan tersebut sangat penting untuk dicatat dan diperhatikan. Para santri harus selalu aktif dalam memperhatikan pesan-pesan sejuk tersebut. Tentu anda sendiri memiliki pesan tersediri dari para kiai bu nyai oleh karenanya ayo sama-sama ditulis untuk mengabadikannya. Demikianlah sepuluh pesan luhur untuk para santri dari ku semoga bermanfaat.

the woks institute l rumah peradaban 1 rajab 1440


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...