Woks
Dalam panjangnya perjalanan berinteraksi di pesantren aku mendapat banyak pengalaman hidup termasuk petuah-petuah teduh dari para kiai dan santri senior. Beberapa hari ini pesan-pesan menyejukan itu aku kumpulkan dalam sebuah catatan kecil.
Pertama, jika jadi santri yang sering menundukkan badan di hadapan kiai jangan lupa tundukan juga hatinya. Saat ini banyak santri yang seolah-olah ta'dim di depan kiai tapi jika soal sami'na wa athona mereka tidak mau.
Kedua, jadi santri itu yang hidup hatinya. Jangan sampai hati kita mati untuk mengingat Allah. Salah satu ciri hatinya hidup selain mendawamkan dzikir, kita juga murah untuk mendoakan orang lain. Jika tak sempat membantu setidaknya berikan doa kepada mereka berharap Allah yang akan memberinya jalan keluar.
Ketiga, jadi santri itu harus rekasa alias tahan banting. Jangan sampai cuma karena ada ujian kecil kita langsung menyerah. Ingat bahwa ujian itu datang sebagai sarana pendewasaan. Barangkali lewat ujian Allah ingin kita berubah secara sikap, mindset dan perilaku.
Keempat, jika kita memiliki masalah atau kehendak apapun jangan lupa berkonsultasi, memusyawarahkan kepada ahlinya. Di pondok tentu kita tahu kiai bu nyai sebagai orang tua yang perlu kita mintakan petuahnya. Jangan sampai apapun yang kita lakukan karena pikiran sendiri. Mencobalah bersandar pada pikiran yang sudah berpengalaman dalam hidup dan dekat dengan Allah.
Kelima, dalam hal ilmu kita harus menghayati apa kata syiir Alala yaitu memiliki niat yang kuat, cerdas, sabar, butuh biaya, petunjuk guru, dan membutuhkan waktu. Dengan memperhatikan syaiir ini diharapkan santri bisa memahami dan akan serius dalam menimba ilmu, bukan malah tura turu tok.
Keenam, santri itu harus ikhlas berkhidmah, harus kuat riyadhoh, harus sabar belajar dan jangan mudah menyerah.
Ketujuh, santri itu harus rajin mencatat dan jangan malas-malasan dalam memutholaah kitab, syukur-syukur bisa hafalan. Jika santri malas mencatat maka tradisi keilmuan ulama akan hilang. Kata Ahmad Baso, bahwa pesantren tanpa tradisi menulis hanya seperti lukisan di pantai mudah terhapus ombak.
Kedelapan, santri itu harus mengerti waktu kapan saatnya bercanda, ngaji, ngopi atau istirahat. Kita harus memanajemen dan mengatur otonomi diri. Jangan sampai egois dan hanya demi keuntungan pragmatis belaka. Santri harus berkarakter, berkomitmen dengan ngajinya, ro'anya, amaliahnya dan pekerjaannya. Jangan sampai santri itu plin-plan dan mudah terbawa angin, terseok-seok tak punya pendirian.
Kesembilan, santri itu harus memahami medan di masyarakat. Nah, selama di pondoklah kita sedang belajar hidup dalam miniatur masyarakat. Di sana kita berdekatan dengan tetangga kamar, bagaimana bercengkrama dengan orang baru, menghormati yang lebih tua dan menerapkan sistem nilai yang berlaku. Maka santri harus sadar atau dalam bahasa Mbah Yai Ali, "kudu pinter nyelehke awak".
Kesepuluh, jika punya barang apapun misalnya sabun lantas barang itu dipakai oleh temannya maka niatkan saja shadaqah. Jangan sampai cuma karena barang kecil itu kita menjadi marah. Niatkan saja barang yang habis itu sebagai shadaqah sirr dan hanya Allah saja yang menilainya.
Perlu diingat bahwa pesan tersebut sangat penting untuk dicatat dan diperhatikan. Para santri harus selalu aktif dalam memperhatikan pesan-pesan sejuk tersebut. Tentu anda sendiri memiliki pesan tersediri dari para kiai bu nyai oleh karenanya ayo sama-sama ditulis untuk mengabadikannya. Demikianlah sepuluh pesan luhur untuk para santri dari ku semoga bermanfaat.
the woks institute l rumah peradaban 1 rajab 1440
Komentar
Posting Komentar