Langsung ke konten utama

Santri dan Dunia Sastra (3)




Woks

Bicara tentang sastra dalam dunia santri tentu tidak bisa dipisahkan dengan NU sebagai organisasi yang lahir dari rahim pesantren. Orang NU yang mayoritas lahir dari pesantren sangatlah unik. Di beberapa wilayah pernah dicatat bahwa banyak orang NU yang tidak mondok di daerah Timur tengah akan tetapi penguasaan bahasa Arab tidak bisa dianggap remeh.

Mereka telah membuktikan secara kapasitas keilmuan sejajar dengan pengarang dari dunia luar. Misalnya Mbah Fadhol Senori Tuban dengan banyak karyanya seperti Ahlal Musamaroh fi Auliya' Asyroh, Durrul Farid ala Tauhid Mbah Fadhol, Kawakibul Lama'ah fi Tahqiqi Ahlissunnah wal Jama'ah, Mbah Ihsan bin Dahlan Jampes Kediri dengan karya besarnya Sirajuth Thalibin syarah Minhajul Abidin Imam Ghazali dan Irsyad al-Ikhwan fi Syurbati al-Qahwati wa al-Dukhan.

Ada satu lagi yang tak kalah menarik yaitu sosok KH. Ahmad Yasin Asmui Pethuk Semen Kediri. Beliau tercatat sebagai santri Lirboyo dan beberapa pesantren di Jawa timur akan tetapi lebih dari 200 kitab pernah beliau tulis. Dari banyak kitab itu adalah ulasan berbagai fan keilmuan seperti tasawuf, ilmu alat, tafsir, fikih hingga tauhid dan semuanya berbahasa Arab. Salah satu kitabnya yang terkenal yaitu Tafsir Bismillahirrahmanirrahim, Tafsir Muawwidzatain, Tafsir Al-Ikhlas, dan Tafsir Ayat Kursi bahkan beliau terkenal dengan kitab makna pethuk.

Mbah Fuad Hasyim Buntet Pesantren, kendati beliau tidak mengarang kitab akan tetapi karya syair untuk Nahdlatul Ulama terbilang sangat indah salah satunya "Ya Nahdlatul Ulama, Fii Mahabbah Nahdlatul Ulama". Tidak hanya itu banyak juga tokoh-tokoh NU yang secara transenden melahirkan syair, sholawat dan dibaca terus hingga kini. KH. Bisri Mustofa lewat Syair Ngudi Susilo, Syair Sekar Cempaka, Syair Kedaton, Syair Mitra Sejati, KHR. As'ad Syamsul Arifin lewat karya Syair Aqoid Seket, KH. Ali Manshur Banyuwangi pencipta Sholawat Badr, KH. M. Nizam As Shofa Syair Tanpo Wathon, hingga syair Muktamar ke-34 Lampung KH. Afifuddin Muhadjir.

Banyak juga di antara para tokoh kita selain mendirikan pesantren dengan memberi porsi sastra pada santrinya ada juga yang mewadahi melalui majelis sastra di antaranya Bhenning diasuh oleh Lora Azaim Ibrahim, pesantren Kiai Zainal Arifin Thoha, pesantren Maulana Rumi Kiai Kuswaidi Syafii, Pesantren Darun Nun Ustadz Halimi Zuhdi dan pesantren Guluk-guluk Sumenep Madura KH. Abdul Wahid Warits.

Peran para sastrawan santri pun tidak bisa dikesampingkan. Mereka juga terus berusaha bagaimana sastra santri bisa diterima di berbagai kalangan dan lapisan misalnya Usman Arrumi lewat sastra Arab populer ia sering menggubah puisi Sapardi ke dalam bahasa Arab, Gus Raedu Basha, Ning Khilma Anis dan Ning Najati Sharma adalah novelis yang lahir dari bilik pesantren serta banyak lagi nama lainnya.

Dunia kesusastraan pesantren sebenarnya merupakan bagian dari subkultur pesantren dan tidak bisa dipisahkan. Maka melalui menulis sastra sesungguhnya adalah bagian dari tradisi lama yang mengakar. Sastra sudah terbukti sejak era Walisongo sebagai media dakwah penyebaran ajaran Islam. Tentu kita sangat hafal dengan beberapa karya seperti Lir-Ilir, Lingsir wengi, rumeksa ing wengi, kidung wahyu kalasebo Sunan Kalijaga, Cublak Suweng Sunan Sunan Giri, Suluk Wijil Sunan Bonang hingga Tombo Ati Sunan Ampel.

Dengan begitu saat ini kita sadar betapa urgensi sastra sebagai tradisi santri di pesantren harus terus dilestarikan. Alasan sederhana mengapa kita perlu menggali lebih dalam soal keilmuan ini karena selama ini pesantren tidak lepas dengan 3 tradisi keilmuannya yaitu pengajaran kitab fikih, akhlak dan ilmu alat (gramatikal/bahasa).


*Artikel ini dipost juga di blog PSP UIN SATU Tulungagung

the woks institute l rumah peradaban 3/3/22

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...