Langsung ke konten utama

Bus, Terminal dan Kehidupan




Woks

Suatu hari dalam pagelaran Kiai Kanjeng, Mbah Nun mengatakan jika ingin melihat dunia sesungguhnya lihatlah di terminal. Mbah Nun mencontohkan suatu ketika di Terminal Bungurasih Surabaya. Di sanalah kita melihat parade dunia yang berputar begitu kerasnya. Orang-orang dari berbagai daerah tumpah ruah mengais rezeki dan pergi ke suatu tempat.

Kita akan disuguhkan penjelasan Mbah Nun begitu faktual dan nyata betapa bus dan terminal tidak sekadar mengangkut penumpang. Di sana ada tangis haru biru, bahagia bercampur tawa semua bercampur dalam geliatnya kompetisi. Lihatlah ketika kedatangan bus, mereka berjajar rapi. Para kernet alias kondektur saling berebut menjajakan kemampuan marketing untuk menggaet penumpang.

Tidak hanya itu para pengamen alias musisi jalanan berpacu dalam melodi yang kadang terasa sumbang. Para pedagang asongan berlarian menjajakan makanan dan minuman. Belum lagi para pengemis berlomba perpacu menjajakan iba. Semua hanya demi sesuap nasi, ibadah dan bertahan hidup. Ada dapur yang harus mengebul, ada anak istri yang harus dihidupi. Serta banyak hal lain yang akan terus diperjuangkan.

Banyak hal yang kita temui di tempat bersandarnya bus itu. Ada orang-orang renta yang masih terus bekerja, ada pemungut sampah, ada porter yang menjajakan jasa angkutnya serta banyak lagi manusia pekerja di sini. Bahkan tak jarang ada pencopet melancarkan aksinya. Semua sisi hidup itu tersedia di tempat ini.

Tapi ada hal menarik lain yang kadang menyentuh batin kita. Betapa pertemuan dan perpisahan adalah garis pemisah antara kehidupan. Sering kita menyaksikan seorang ibu menangis saat melepas anak tercinta pergi sekolah, mondok atau merantau, seorang nenek melepas cucunya nan lucu, dan seorang istri berpisah dengan suami untuk bekerja. Hal-hal demikian itu yang selalu dijumpai terutama di hari lebaran tiba.

Bus dan terminal memang hanya tempat singgah. Tempat menepi lalu pergi dan meninggalkan senyum awal sekaligus akhir. Kadang di sinilah aku secara pribadi tak kuasa menahan air mata melihat sanak keluarga melepas semua dengan merdeka. Semua seperti tanpa pernah diinginkan akan tetapi hal itu adalah bagian dari suratan takdir. Entah kapan waktunya perpisahan dan pertemuan direkatkan oleh buncah-buncah kerinduan. Waktu barangkali menjadi penentu seseorang untuk kembali. Walaupun begitu tanpa perpisahan tak akan melahirkan peluk cium.

Di sinilah barangkali segala aktivitas serta prestis apapun tak pernah berguna jika di hadapan kenangan dan harapan. Hanya untaian doa yang terus mengepul, menyelinap sekaligus menjadi tali ikatan yang kuat. Walaupun raga tak lagi bersama akan tetapi ruhani selalu erat mengikat tak mau lepas. Manusia memang akan terus belajar dari bus yang membawa penumpang ke tepian, tempat tujuan. Terminal sebagai tempat miqat, berpijak kaki hingga berjalan melewati batas yang ditentukan takdir. Manusia hanya sekadar singgah setelah itu pergi lagi atau pulang.

Anak-anak harus rela berpisah dari orang tuanya demi secercah harapan berupa senyum kebahagiaan. Entah beginilah dunia yang hanya sesaat percis seperti tempat persinggahan bus. Terminal hanya bagai dunia sekejap dan sementara. Sedangkan bus-bus adalah sarana sekaligus media yang membawa ke tempat sesungguhnya. Walaupun kadang di jalanan kita tak pernah tau akan ada sesuatu yang jelas perjalanan bus, penumpang dari terminal ibarat menuju taman keabadian. Semua hanya sesaat dan memang titipan. Manusia hanya sekadar berusaha sedangkan Tuhan di atas segalanya.

Menuju Magelang, 4 Syawal 1443 H

the woks institute l rumah peradaban 5/4/22

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...