Langsung ke konten utama

Sindrom Celeng




Woks

Sejak dulu aku mendengar dengan lantang para tetangga berdesas-desus bahwa pondok pesantren adalah bengkel ruhani. Bengkel di mana pun berfungsi sebagai servis kendaraan demikian juga dengan manusia. Jika di pesantren mungkin lebih kepada santri dengan ragam karakter. Maka pesantren, kiai dan santri merupakan komponen tak terpisahkan dari proses servis tersebut. Salah satu hal menarik yang perlu ditangani di pesantren adalah ketika ada santri mbeling alias terkena sindrom.

Sindrom dan penyakit mental barangkali sebuah kesatuan yang menghambat santri berproses. Akibatnya mereka mengalami kegagalan dalam sosialisasi di lingkungan pondok pesantren. Para santri tersebut terjangkit oleh dunia pop yang merayu baik lewat fashion, style, maupun nafsu sesaat lainnya. Oleh karenanya itu berakibat santri menjadi berani dan tak pernah takut mengambil resiko. Dalam hal itu santri justru menjadi berkonotasi negatif. Salah satu penyakit yang ada di pesantren adalah sindrom celeng.

Anda mungkin tahu celeng (baca: babi) merupakan istilah yang digunakan di pesantren karena alasan seorang santri tidak taat aturan. Ciri-ciri santri celeng adalah berkata tidak sesuai dengan faktanya atau mencla-mencle. Alasan ini sama dengan munafikun alias orang munafik. Ciri tersebut bukan hanya dari ucapannya melainkan dari sikapnya yang juga sering bermuka dua. Celeng yang diberi sufiks (imbuhan di akhir) menjadi celeng-an juga bagian dari ciri santri ini yaitu mereka selalu berurusan dengan uang atau syahriyah pondok. Mereka akan selalu menjadi bulan-bulanan pengurus padahal syariyah adalah kewajiban. Alasannya bukan karena ketiadaan biaya melainkan sering berdalih tak punya yang tak lain hanya untuk berfoya-foya. Mereka juga dengan berani membohongi orang tua dengan ribuan alasannya. Sindrom celeng memang menjangkiti santri saat ini dan entah memang tak pernah khawatir akan karma dalam istilah Hindu. Maka dari itu Mahbub Djunaidi dalam Binatangisme Goerge Orwell mengistilahkan manusia lebih binatang dari binatang.

Sindrom celeng memang selalu ada di tengah-tengah kita bahkan begitu dekat. Maka dari itu pesantren bukan tempat orang baik tapi tempat orang yang ingin menjadi baik. Santri-santri dengan beragam karakter termasuk celeng ini bisa dengan mudah diterima di pesantren karena lembaga ini selalu terbuka bagi siapa saja, liberal, hidden curriculum dan keikhlasan kiainya. Bahkan sikap husnudzon selalu hadir di pesantren seperti kisah seorang santri yang awalnya ingin maling di rumah warga akan tetapi ia bermalam di pesantren untuk mensiasati. Alih-alih demikian otomatis ia berkamuflase menjadi santri. Suatu saat sang kiai menyuruh mereka berwudhu lalu bekas air wudhu itu ternyata diambil oleh sang kiai. Ternyata air itu menjadi air kesembuhan bagi anak kiai yang sedang sakit. Alangkah terkejutnya santri yang berniat maling tersebut dan akhirnya ia menyerah lalu bertaubat.

Kita memang tidak pernah tau bagaimana nasib santri-santri celeng tersebut. Yang jelas di pesantren semua santri mendapat do'a dari para kiai tanpa membedakan status sosialnya. Dengan do'a ikhlas para kiai itu harapannya santri yang terjangkit sindrom celeng segera sadar bahwa apa yang mereka lakukan tidaklah menguntungkan. Justru dengan meneruskan praktek penipuan tersebut membuat hidup mereka bangkrut di masa depan.

the woks institute l rumah peradaban 22/5/22

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...