Langsung ke konten utama

Magelang Suatu Ketika




Woks

Alhamdulillah lebaran tahun ini aku memang kembali menjadi Bang Toyib karena tidak pulang ke kampung halaman. Akan tetapi aku bersyukur karena bisa mudik ke rumah Mbah di Magelang Jawa tengah. Tepatnya di Desa Dampit Kecamatan Windusari Magelang. Di sanalah dulu aku lahir lalu besar di Indramayu. Bagi ku walaupun di sana hanya numpang lahir akan tetapi ada sejarah yang harus aku penuhi dan ada kisah yang harus ku catat. Barangkali perjalanan kali ini merupakan napak tilas yang harus dibayar. Seperti halnya hutang semua harus dibayar lunas.

Perjalanan kali ini barangkali merupakan yang pertama dan sebelumnya selalu bersama keluarga. Aku memberanikan diri karena memang momentumnya pas ada waktu, sangu dan waktu. Biasanya aku hanya dimakan oleh buasnya kesibukan. Akhirnya setelah berkomunikasi dengan bapak di rumah aku akhirnya berangkat ke Magelang.




Aku berangkat sekitar pukul 10:00 pagi dan sampai di sana pukul 02:00 dinihari. Walaupun sempat terjadi insiden berupa mogoknya mobil akan tetapi aku sangat menikmati. Lebih lagi ketika berangkat dan pergi aku bagaikan musafir di mana aku tidur di masjid dan trotoar jalan. Bagiku hal ini sudah lebih dari perjalanan di mana kerinduan harus diperjuangkan.




Sesampainya di rumah Magelang aku singgah di Klegen tempat Lek Roi. Dulu di sinilah bapak ku hidup termasuk ikut mendirikan mushola dekat pertigaan pasar. Setelah dari sini aku langsung ke Drepan tempat Wo Sarwiyah dan keluarganya tinggal. Di sini aku istirahat sejenak lalu shalat Jum'at dan langsung berziarah ke makam Wo Sarwiyah binti Kusno Pawiro. Sayang aku dulu belum sempat tajiyah ke beliaunya maka hari itu juga aku membayarnya dengan tuntas.

Setelah dari sini aku langsung ke rumah Mbah, tempat tujuan utama. Di sini aku menginap selama 2 malam dan menerima kunjungan dari banyaknya keluarga. Sepanjang hari aku hanya bersilaturahmi dari rumah ke rumah utamanya saudara yang aku kenal. Dengan dibantu keponakan aku singgah menjadi tamu ke rumah paman, bibi, pakde dan mbah lainnya.




Banyak pelajaran dan pengalaman yang ku catat dalam perjalanan singkat tersebut. Pertama, secara umum orang Magelang utamanya yang hidup di desa orangnya ramah-ramah dan egaliter. Mereka selalu menampakan solidaritas dan kebersamaannya. Hal itu terbukti ketika mereka mendengar berita kematian dan menerima tamu serta perayaan di desa.

Kedua, orang di sana itu mengamalkan filosofi orang Jawa utamanya dalam memperlakukan tamunya. Mereka akan selalu bersikap ramah dan memberikan pelayanan terbaik misalnya disilahkan, diberi hidangan, disuruh makan hingga diberi jemputan dan penginapan.

Ketiga, mereka tipe pekerja keras utamanya dalam mengolah pertanian. Hidup di bawah gunung Sumbing yang subur memang mengharuskan mereka hidup survive. Mereka akan terus menaklukkan udara dingin dan kontur tanah yang ekstrim. Di sini hampir tidak ada air putih dan memang wedangan selalu menjadi sajian utama.

Keempat, orang di sini masih memegang erat budaya lokal. Tidak hanya tradisi berupa seni akan tetapi juga tradisi silaturahmi. Di sini mereka akan berkunjung kepada yang lebih sepuh untuk meminta maaf. Tidak peduli betapa jauhnya yang jelas tradisi sungkeman harus dilakukan.

Kelima, di sini banyak tradisi yang berkaitan dengan makanan. Misalnya tradisi lebaran, syawalan, saparan, muludan dan rajaban semua selalu ada hidangan makan. Bagi orang desa makanan merupakan suatu yang tak boleh dilewatkan. Karena dari makan kita akan diajak untuk hidup rukun.

Keenam, di sini rerata perempuannya ayu-ayu. Faktornya sederhana yaitu selain alami tanpa dempul kecantikan, di sini juga dipengaruhi oleh iklim yang sejuk. Ditambah lagi matahari minim menyinari desa ini utamanya di Prampelan. Mungkin arti dari Magelang kota sejuta bunga bisa juga merujuk pada perempuan. Kadang aku berpikir apakah perlu berminat untuk hidup dan menikahi salah satu gadis di sini.

Ketujuh, Magelang itu kota wali. Di sini kita akan menjumpai banyak wali yang disarekan di kota yang pernah disinggahi Pangeran Diponegoro tersebut di antaranya di Mangli ada Mbah Hasan Mangli, Mbah Hamid Kajoran, Mbah Chudori Tegalrejo, Mbah Dalhar Watucongol, Sunan Raden Santri Gunung Pring, Mbah Abdul Ghoni, Mbah Syeikh Subakir Tidar, Mbah Jogorekso, Mbah Siroj Payaman, Mbah Kiai Langgeng, Mbah Umar Mangkuyudan, Mbah Maksum, Mbah Subkhi Parakan dll. Tidak hanya wali sebenarnya di sini juga banyak tokoh besar yang ternyata lahir di sini seperti Ali Sostroamidjoyo, Kurniawan Dwi Yulianto, Jacob Oetama, Damardjati Supadjar, Timbul Srimulat, Katon Bagaskara, Wafiq Azizah, Prof Komaruddin Hidayat dll.

Kisah lain tentu banyak aku sampai tidak mencatat yang lainnya. Yang ku ingat hanya ketika di angkot menuju terminal di mana kami melaju bersama iringan musik Ebiet G Ade. Setelah itu aku harus puas menunggu bus dengan sangat lama. Setelahnya justru berebutan naik bus bahkan sampai berdiri tak kebagian tempat duduk karena memang sedang arus balik para pemudik dari Jakarta.




Dalam perjalanan pulang tentu aku membawa pelajaran dan ilmu serta pengalaman mengesankan. Selain tidur di trotoar, berdesakan dengan penumpang bus, menyaksikan para pegiat jalanan, aku juga harus pandai bertanya dengan orang lain. Selain itu kita harus berani terutama ketika oper bus dan lainya. Di sinilah aku akan mengingat betapa perjalanan kali ini sangatlah istimewa. Semoga esok akan ku ulangi lagi dalam keadaan yang lebih baik.

the woks institute l rumah peradaban 6 Syawal 1443 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...