Langsung ke konten utama

Pernak-pernik Hari Raya 1443 Hijriyah




Woks

Hari raya Idul Fitri tahun ini sungguh luar biasa. Alhamdulillah setelah lebih dari 3 kali kita berjauhan kini lebaran bisa berdekatan kembali. Sudah 3 tahun lebih dunia diguncang pandemi akibatnya banyak tatanan sosial berubah salah satunya tradisi berlebaran. Tradisi lebaran yang paling unik tentu kupatan dan halal bi halal.

Jika saya di posisi sebagai peneliti Barat tentu akan merasa terpukau dengan kondisi geo sosial masyarakat yang unik. Bisa dibayangkan utamanya masyarakat desa dipaksa untuk hidup anonim ala orang kota tentu tak akan mampu. Tradisi saling kunjung ke sanak famili merupakan warisan sejak lama. Hal itu yang terus diuri-uri karena telah dicontohkan oleh generasi para sesepuh.

Walaupun memang akibat pandemi masyarakat perlu menata ulang tradisi tersebut. Karena ada sebagian kecil yang terkikis utamanya orang enggan untuk memohonkan maaf. Padahal jika dilihat tradisi ini begitu kaya makna. Orang-orang sejak awal sudah menyiapkan banyak makanan dan membukakan pintu tanda kelapangan memberi maaf. Sungguh tradisi memohonkan maaf tersebut harus dijaga kelestariannya.

Betapa tidak tradisi memohon maaf lebih dari apapun. Karena orang yang berada di rantau pun rela untuk pulang sejenak, keluar dari riuh hiruk-pikuk kota hanya demi saling halal bi halal. Memohon maaf sungguh mahal harganya. Jika seseorang diampuni dosanya dan mulai menata kehidupan dari nol maka hal itu lebih dari apapun. Bagaimana tidak dosa diampuni tidak bisa ditukar dengan uang sekalipun dan uang tak akan bisa membeli bahkan menghapus dosa walaupun sehari.

Untuk kesekian kalinya aku berlebaran di kota rantau. Tentu suasana di kampung halaman tidak jauh berbeda akan tetapi yang membuat berbeda hanya soal rasa. Sejak setelah shalat ied aku langsung berkunjung ke tetangga dekat pondok guna bersalam-salaman memohonkan maaf atas kesalahan selama setahun. Setelah itu aku lalu melakukan sungkeman online karena jarak yang memisahkan. Akan tetapi hal itu bisa diatasi karena adanya teknologi.

Sehari setelahnya aku bertolak menuju rumah teman dan guru yang terjangkau dengan motor Astrea ku. Sepanjang jalan ku lihat pemandangan yang luar biasa. Orang-orang di setiap perempatan menjaga sekaligus mengatur lalulintas. Nampaknya di sana ada acara halal bi halal secara massal. Mereka para petugas dengan kaos kuning turut serta dalam kelancaran perjalanan pengendara. Yang unik dari mereka adalah mengenakan kaos yang bertuliskan #save tradisi silaturahmi. Tulisan tersebut tentu menyiratkan bahwa tradisi halal bi halal tersebut tak boleh luntur.

Sudah saatnya tradisi penuh makna tersebut sudah menjadi bagian dari masyarakat utamanya anak muda. Lebih utama lagi tradisi tersebut menjadi icon dari keluhuran adat budaya agama di Indonesia. Sehingga citra Islam di Indonesia memang bisa menjadi tauladan bagi bangsa lainnya. Islam bisa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat karena ajarannya yang membumi.

Selain itu sepanjang jalan aku juga melihat motor-motor terparkir di setiap rumah. Selain pintu-pintu terbuka masyarakat juga sangat antusias berkonvoi ria mengunjungi sanak saudara. Walaupun udara cukup panas akan tetapi hal itu tidak menghalangi mereka untuk berkunjung kepada yang lebih tua. Tentu keberkahan tergeletak di mana-mana. Hal itu terasa bagi anak-anak yang senang menerima amplop dari saudara. Tidak hanya itu para pedagang kecil seperti bunga, baju lebaran, kembang api dan makanan ikut kebanjiran berkahnya.

Sepanjang jalan, depan rumah hingga makam semua ramai. Pertokoan juga ikut tutup demi menghormati tradisi di momen lebaran tersebut. Maka dari itu aku kadang berpikir di hari nan fitri tersebut terlihat jagat ikut menyejukan. Selain itu maghfirah Tuhan begitu nampak jelas dan terasa. Semua tidak ada yang bermuram durja, semua orang senang sekaligus merasa diri banyak dosa. Perlulah memang di hari itu semua lebur, yang ada hanya cinta dan kasing sayang. Selamat lebaran, mohon maaf lahir batin.

the woks institute l rumah peradaban 2 Syawal 1443 H

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...