Woks
Hari raya Idul Fitri tahun ini sungguh luar biasa. Alhamdulillah setelah lebih dari 3 kali kita berjauhan kini lebaran bisa berdekatan kembali. Sudah 3 tahun lebih dunia diguncang pandemi akibatnya banyak tatanan sosial berubah salah satunya tradisi berlebaran. Tradisi lebaran yang paling unik tentu kupatan dan halal bi halal.
Jika saya di posisi sebagai peneliti Barat tentu akan merasa terpukau dengan kondisi geo sosial masyarakat yang unik. Bisa dibayangkan utamanya masyarakat desa dipaksa untuk hidup anonim ala orang kota tentu tak akan mampu. Tradisi saling kunjung ke sanak famili merupakan warisan sejak lama. Hal itu yang terus diuri-uri karena telah dicontohkan oleh generasi para sesepuh.
Walaupun memang akibat pandemi masyarakat perlu menata ulang tradisi tersebut. Karena ada sebagian kecil yang terkikis utamanya orang enggan untuk memohonkan maaf. Padahal jika dilihat tradisi ini begitu kaya makna. Orang-orang sejak awal sudah menyiapkan banyak makanan dan membukakan pintu tanda kelapangan memberi maaf. Sungguh tradisi memohonkan maaf tersebut harus dijaga kelestariannya.
Betapa tidak tradisi memohon maaf lebih dari apapun. Karena orang yang berada di rantau pun rela untuk pulang sejenak, keluar dari riuh hiruk-pikuk kota hanya demi saling halal bi halal. Memohon maaf sungguh mahal harganya. Jika seseorang diampuni dosanya dan mulai menata kehidupan dari nol maka hal itu lebih dari apapun. Bagaimana tidak dosa diampuni tidak bisa ditukar dengan uang sekalipun dan uang tak akan bisa membeli bahkan menghapus dosa walaupun sehari.
Untuk kesekian kalinya aku berlebaran di kota rantau. Tentu suasana di kampung halaman tidak jauh berbeda akan tetapi yang membuat berbeda hanya soal rasa. Sejak setelah shalat ied aku langsung berkunjung ke tetangga dekat pondok guna bersalam-salaman memohonkan maaf atas kesalahan selama setahun. Setelah itu aku lalu melakukan sungkeman online karena jarak yang memisahkan. Akan tetapi hal itu bisa diatasi karena adanya teknologi.
Sehari setelahnya aku bertolak menuju rumah teman dan guru yang terjangkau dengan motor Astrea ku. Sepanjang jalan ku lihat pemandangan yang luar biasa. Orang-orang di setiap perempatan menjaga sekaligus mengatur lalulintas. Nampaknya di sana ada acara halal bi halal secara massal. Mereka para petugas dengan kaos kuning turut serta dalam kelancaran perjalanan pengendara. Yang unik dari mereka adalah mengenakan kaos yang bertuliskan #save tradisi silaturahmi. Tulisan tersebut tentu menyiratkan bahwa tradisi halal bi halal tersebut tak boleh luntur.
Sudah saatnya tradisi penuh makna tersebut sudah menjadi bagian dari masyarakat utamanya anak muda. Lebih utama lagi tradisi tersebut menjadi icon dari keluhuran adat budaya agama di Indonesia. Sehingga citra Islam di Indonesia memang bisa menjadi tauladan bagi bangsa lainnya. Islam bisa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat karena ajarannya yang membumi.
Selain itu sepanjang jalan aku juga melihat motor-motor terparkir di setiap rumah. Selain pintu-pintu terbuka masyarakat juga sangat antusias berkonvoi ria mengunjungi sanak saudara. Walaupun udara cukup panas akan tetapi hal itu tidak menghalangi mereka untuk berkunjung kepada yang lebih tua. Tentu keberkahan tergeletak di mana-mana. Hal itu terasa bagi anak-anak yang senang menerima amplop dari saudara. Tidak hanya itu para pedagang kecil seperti bunga, baju lebaran, kembang api dan makanan ikut kebanjiran berkahnya.
Sepanjang jalan, depan rumah hingga makam semua ramai. Pertokoan juga ikut tutup demi menghormati tradisi di momen lebaran tersebut. Maka dari itu aku kadang berpikir di hari nan fitri tersebut terlihat jagat ikut menyejukan. Selain itu maghfirah Tuhan begitu nampak jelas dan terasa. Semua tidak ada yang bermuram durja, semua orang senang sekaligus merasa diri banyak dosa. Perlulah memang di hari itu semua lebur, yang ada hanya cinta dan kasing sayang. Selamat lebaran, mohon maaf lahir batin.
the woks institute l rumah peradaban 2 Syawal 1443 H
Tops woks👍👍👍👍
BalasHapus