Langsung ke konten utama

Kiai Penyair




Woks

Saya selalu merasa senang ketika ada kiai yang cara penyampaiannya saat mengaji mengena kepada jamaah. Salah satunya lewat metode dakwah dengan perantaraan syair. Senandung syair menjadi bumbu utama selain bacaan Qur'an dan hadits. Di sanalah letak keunikannya sehingga orang kadang mudah terbuai. Bahkan tidak sedikit pula yang ketagihan.

Dalam tulisan ini kiai penyair saya bagi dua kategori pertama mereka yang mendendangkan lagu dan kedua mereka yang menyenandungkan syair. Untuk kategori pertama tentu tidak kalah banyaknya apalagi di era kekinian lagu bisa menjadi sihir agar menarik hati jamaah. Lagu juga bisa menjadi sarana agar ceramah tidak terkesan monoton dan menjadi obat ngantuk. Apalagi kini disertai perangkat alat musik baik tradisional maupun modern guna menunjang sarana dakwah.

Kita tentu tahu jika ingat guyonannya Gus Dur bahwa para tukang pidato akan kalah jika persoalan membuat jamaahnya tidak ngantuk yaitu oleh supir. Bayangkan saja jamaah mendengar khutbah kiai pasti tertidur, mendengar pidato pastor juga tidur hanya supirlah ketika memulai,"Persiapkan diri anda, mari kita berdo'a semoga diberi keselamatan oleh Tuhan" seketika itu pula jamaah penumpang langsung sigap dan tak jadi mengantuk. hehe

Satu hal lagi melalui lagu dalam ceramah juga sebagai media agar kiai dalam penyampaian pada jamaahnya secara komunikatif terjalin baik. Dengan begitu pesan dakwah bisa tersampaikan. Tipe-tipe kiai dengan ragam dakwah lagu di antaranya, KH. Jujun Junaedi, KH. Salimul Apip dengan lagu-lagu khas Sundanya, KH. Zainuddin MZ dai sejuta umat dengan lagu Rhoma Irama nya, hingga era kekinian ada Gus Ali Gondrong, Gus Miftah dengan lagu anak milenial, Gus Ulinnuha dengan lagu khas Jawanya serta Ustadzah Mumpuni dengan lagu khas Ngapaknya.

Kedua, kiai dengan syair yang disenandungkan ketika penyampaian ceramahnya tentu belum banyak. Di sini tipe kiai yang syairnya diambil dari kitab maupun syair Arab bukan lagu seperti dalam tipe pertama. Biasanya saya sangat senang ketika KH. Said Aqil Siradj menyenandungkan syair Burdah Ka'ab bin Zuhair bin Abi Salma, syair Burdah Imam Syarafuddin Abu Said al Bushri dan beberapa cuplikan dari kitab Syaraful Anam.

Soal syair tersebut tentu Kiai Said tidak diragukan lagi kapasitasnya. Kendati beliau bukan penyair akan tetapi diakui oleh Gus Mus bahwa Kiai Said satu diantara orang Indonesia yang ahli dengan syair utamanya karya Ka'ab bin Zuhair. Hal itu disampaikan Gus Mus ketika silaturahmi para penyair ke ndalem beliau di antaranya, Usman Arrumy, Sujiwo Tejo dan KH. Budi Hardjono. Soal syair Kiai Said memang pandai bahkan suaranya yang merdu menambah syahdu suasana lebih lagi beliau hafal semua syair itu.

Selain Kiai Said tentu ada kiai lainya yang sering memadahkan syair dalam ceramahnya di antaranya KH. Fuad Hasyim Buntet Pesantren lewat syair Nahdlatul Ulamanya, KH. Budi Hardjono lewat syair Jawa dan KH. Kuswaidi Syafi'i lewat syair Ruminya. Yang terbaru tentu ada KH. Zulfa Mustofa lewat karya syair yang memuji ulama dan khususnya untuk NU dengan bahar basith, rajaz, khafifnya. Tentu penceramah dengan metode syair belum banyak ditemui karena memang perlu ilmu khusus lebih lagi yang menciptakan sendiri syairnya. Mereka harus memahami disiplin ilmu Arudh ala Syeikh Ibrahim Kholil bin Ahmad al Farahidi, atau Nahdjul Balaghoh Sayyidina Ali, atau karya linguistik lainya seperti karya Imam Sibawaih dll.

Sebenarnya masih ada lagi kiai yang sering membacakan syair dalam ceramahnya seperti Gus Ulil dan Gus Baha. Gus Baha sering menukil syair tapi dengan tidak menyenandungkannya. Beliau sering membaca syair dengan istilah Jawa, kiai syiir seperti dalam bait (bet) Ta'lim Muta'allim, Ibnu Aqil hingga Ithaf syarah Ihya dan Hilyatul Auliya. Ada satu lagi yang menarik dalam metode dakwah berbeda dari dua kategori yang telah disebutkan yaitu Kiai Abdul Adjib. Kiai Abdul Adjib terkenal sebagai maestro Tarling Cerbon cum seniman, budayawan dan pendakwah. Dalam dakwahnya beliau justru menggabungkan keduanya yaitu dengan cara wangsalan.

Wangsalan hampir mirip dengan cangkriman dan parikan. Akan tetapi ketiganya berbeda dari segi jawaban, bahkan parikan tidak memerlukan jawaban. Wangsalan adalah sejenis pantun beruntun plus dengan jawabannya. Biasanya dibacakan dengan cara improvisasi dan disesuaikan menurut ritme musik. Dalam hal ini genre musik yang cocok untuk wangsalan adalah tarling. Kiai Abdul Adjib memang sengaja melakukan revolusi dari seni tarling menuju teater utamanya seni tarik suara. Bagi beliau yang terpenting adalah seni itu memuat ajaran kebaikan utamanya transfer dari petuah hidup Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

the woks institute l rumah peradaban 27/5/22

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...