Langsung ke konten utama

Dari Terminal ke Terminal


Terminal Tidar Kota Magelang suatu ketika


Woks

Ini adalah catatan perjalanan ku menuju kota Magelang. Setelah sekian purnama tak pulang kini aku memberanikan diri mengunjungi rumah Mbah atau tempat kelahiran ku semasa kecil. Perjalanan ku kali ini ditempuh lewat jalur darat menggunakan transportasi Bus Indah Jaya. Dalam catatan ini aku akan menuliskan cerita pemberhentian selama dari terminal ke terminal.

Pertama, start dari terminal Gayatri Tulungagung. Di sini aku menunggu bus sejak pagi hingga siang hari. Alangkah penatnya akan tetapi mau bagaimana lagi semua harus dilalui. Di terminal ini ku lihat banyak orang berseragam biru menjajakan rute sambil teriak kota tujuan, "Ayo Surabaya, Surabaya, patas, lewat tol dll".

Di sini pedagang asongan sedikit kita jumpai hanya beberapa saja seperti pedagang yang menjual minuman. Tapi ada yang unik yaitu kehadiran para kernet dan porter perempuan yang juga tak kalah sigapnya dari laki-laki. Di terminal ini armada bus dikuasai oleh PO. Harapan Jaya karena memang di sinilah pusatnya. PO ini termasuk yang terbesar dan melayani berbagai perjalanan dan tujuan termasuk jarak jauh AKDP/AKAP.

Kedua, di terminal Kediri suasana lebih sepi lagi. Di terminal ini masih belum nampak lalu lalang kendaraan padahal suasana lebaran masih belum usai. Hanya di sepanjang jalan menuju terminal ini yang ramai lancar. Kendaraan begitu padat merayap dan terurai sedikit demi sedikit. Terminal dekat Pondok Pesantren Lirboyo tersebut akan nampak ramai ketika banyak bus transit dari arah Surabaya.

Ketiga, di terminal Anjuk Ladang Nganjuk suasana berbeda lagi. Mungkin karena dekat dengan Stasiun Kertosono hingga Tol Nganjuk suasana begitu ramai. Di sini para paguyuban pedagang asongan nampak bergeliat menjajakan barangnya seperti minuman dingin, tahu goreng, lumpia, kacang klitik, kerupuk ikan tengiri, gethuk pisang hingga nasi bungkus.

Di terminal ini walaupun terasa begitu panas akan tetapi di pemberhentian ini tidak lama. Hanya sesaat setelah itu berjalan kembali menuju tempat tujuan yaitu Magelang dan sekitarnya. Ada yang unik ketika bus yang kami tumpangi ternyata kesulitan berbelok akibatnya bus menabrak marka jalan. Beberapa penumpang berdesas-desus ini pertanda ada sesuatu katanya. Sebelumnya malah kami menjumpai ada gadis muda yang melepas celana jeansnya di muka umum entah apa penyebabnya.

Selang beberapa saat ketika bus masuk tol Nganjuk kami merasa bus ini begitu tua. Berjalan tidak cepat seperti mbah sepuh. Ternyata benar saja memasuki rest area Madiun bus ini mogok karena terjadi kerusakan kecil pada mesin. Akhirnya dengan sigap para crew langsung membereskannya. Dari kejadian inilah setidaknya perjalanan kami menjadi terlambat beberapa jam. Selama menunggu itu aku hanya menghabiskan beberapa batang rokok bersama penumpang lain yang ternyata dari Tulungagung.

Keempat, masuk di terminal Purbaya Madiun kita diingatkan lagu hits Deni Caknan, terminal Madiun Ngawi menjadi kenangan tersendiri. Di sini aku melihat strategi marketing dari para pedagang asongan yang mayoritas dijajakan oleh ibu-ibu paruhbaya. Tidak hanya itu aku sendiri langsung berpikir jika ada pengemis, pedagang asongan dan pengamen mana yang lebih menarik hati penumpang. Ternyata orang lebih menghargai seni ya walaupun hanya sebatas bermain gitar ukulele dengan suara pas-pasan.

Kelima, aku hanya lewat di terminal Maospati Magetan. Di sini corak bangunan rerata biru dan begitu sepi. Hingga akhirnya aku menuju terminal selanjutnya.

Keenam, terminal Kertonegoro Ngawi. Di sini merusak kelanjutan dari lagu Deni Caknan yang hits itu. Sampai-sampai pengamen di sini pun begitu hits dan terinspirasi dari Deni Cak Nan. Di sini kita mengenal arem-arem yang dijajakan seperti di Jawa tengah. Sajian sederhana yang disantap dengan lauk berupa tempe dan tahu.

Setelah dari Ngawi aku langsung bertolak menuju Karanganyar hingga sampai di terminal Tirtonadi Solo. Kita tahu terminal Tirtonadi Solo merupakan napak tilas sang Presiden Sobat Ambyar Alm Mas Didi Kempot. Di terminal inilah the Godfather of Broken Heart menciptakan salah satu lagu ter-hitsnya. Sesudah ke terminal tersebut aku langsung naik Sugeng Rahayu melewati Sukoharjo, Terminal Ir. Soekarno Klaten, Yogyakarta, hingga sampai di Magelang tepat pukul 02:00 dinihari. Di Magelang aku melewati terminal Tidar Kota dan Salaman yang sebelumnya lewat Jombor-Giwangan. Di sana lalu aku turun di Kebonpolo bersama siswa Taruna Nusantara Akmil Magelang lalu ngojek hingga ke Masjid Agung Kauman Magelang.

Malam dinihari itu aku tidak menghubungi saudara karena khawatir mengganggu mereka. Akhirnya aku tidur di emperan masjid agung hingga pagi hari. Ketika pagi tiba barulah aku dijemput saudara putra dari pamanku sesudah shalat shubuh. Suasana alun-alun Magelang begitu syahdu dan terasa sejuk. Dari sini aku lalu menuju Klegen dan Drepan Kecamatan Kaliangkrik yang sebelumnya melewati Indrokilo tempat saudara juga di sini.

Dalam panjangnya perjalanan aku selalu mendapat pelajaran setidaknya ada dua hal pertama, intinya dari setiap asongan yang ku temui di terminal mereka tidak ingin mengemis. Lebih baik mendapatkan seribu dua ribu asalkan dari usaha keringat sendiri daripada harus merelakan harga diri diinjak-injak kerasnya dunia. Kedua, di perjalanan kali ini dan yang sudah lalu aku pun selalu diberi rahmat Tuhan berupa kawan penumpang yang baik. Penumpang yang baik adalah rezeki selain mendapat ilmu, pengalaman dan pastinya jajan.

Barangkali sekian catatan perjalanan sederhana ku. Semoga saja esok akan selalu jadi pelajaran dan kenangan. Tanpa pertemuan dan perpisahan sungguh kerinduan tak akan pernah terlahir.

the woks institute l rumah peradaban 5 Syawal 1443 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...