Woks
Alhamdulillah kemarin kami beserta rombongan santri PP. Himmatus Salamah Srigading Tulungagung telah melaksanakan kegiatan ziarah wali Jatim plus Madura dengan sukses. Abah Sholeh dan keluarga ndalem selaku imam juga merasa senang karena antusiasnya para peserta dalam mengikuti agenda tahunan ini.
Acara ziarah pada kali ini bertepatan yang kedua kalinya. Karena di dua tahun sebelumnya agenda ini vakum sebab pandemi yang belum usai. Pada kesempatan kali ini kita dibawa oleh armada Bus HR Tour dari Kediri yaitu supir Bapak Jumadi dan Kernet Mas Riyadi. Kedua beliau sangat humoris dan menyenangkan selama perjalanan berlangsung. Kebetulan Pak Jumadi sendiri dulu sebelum pindah ke Kediri beliau berdomisili lama di Plosokandang.
Rute ziarah awal kami adalah Syeikh KH. Chamim Djazuli (Gus Miek) akan tetapi karena jembatan Jeli yang menghubungkan ke Mojo masih perbaikan maka ziarah pertama kita berganti ke makam Syeikh Syamsuddin Al Wasil Setonogedong. Walaupun sempat diguyur hujan akan tetapi ziarah pertama kami berlangsung khidmat.
Hujan masih mengguyur sepanjang perjalanan akan tetapi deru laju kendaraan masih stabil membawa kami ke tempat selanjutnya yaitu makam Syeikh Ikhsan bin Dahlan Jampes. Syeikh Ikhsan Jampes tentu hampir setiap orang tau beliau adalah ulama besar pengarang kitab Sirajuth Thalibin pensyarah kitab Minhajul Abidin karya Imam Ghazali at Thusi.
Setelah doa dilangsungkan kami pun shalat magrib isya dengan jama' tadhim lalu barulah kita bertolak menuju Jombang. Jombang di sini lebih tepatnya yaitu dari arah Peterongan menuju ke Jogoroto tepatnya di rumah saudara Muhammad Aminuddin. Di sini kita melaksanakan santap malam bersama rombongan sekaligus berdoa khususon buat keluarga Mas Amin. Di sini kami dijamu makanan tradisional dengan menu utama nasi goreng. Alhamdulillah walaupun diwarnai dengan berjalan kaki setidaknya kami merasa puas karena juga dapat membungkus nasi goreng tersebut.
Dari Jombang kita langsung menuju ke makam Mbah Sunan Ampel Surabaya atau nama lainya Raden Rahmat, Syeikh Sayyid Ali Rahmatullah. Walaupun di sana tiba dinihari sekitar pukul 02:00 kami pun masih tetap semangat. Seperti yang sudah-sudah di makam Mbah Ampel tak hentinya para peziarah. Mereka terus membumbungkan doa-doa ke langit wasilah kekasih Allah Mbah Sunan Ampel. Mereka datang dari penjuru negeri demi hanya memperoleh keberkahan hidup dan sambung silaturahmi ruhani dengan shohibul maqbarah.
Masih sekitar pukul 03:00 dinihari atau satu jam setelah dari Surabaya kami langsung menuju ke Bangkalan Madura. Dengan melewati jembatan Suramadu akhirnya rombongan tiba di makam Syaikhona Kholil bin Abdul Latif Al Bangkalani maha guru ulama Nusantara. Kita tahu di sini Mbah Kholil adalah ulama besar yang jasanya luar biasa khususnya bagi NU dan keilmuan pesantren. Banyak ulama lahir dan tabarukan di sini salah satunya Mbah Hasyim Asy'ari, Mbah Bisri Mustofa, Mbah Ma'sum Lasem, Mbah Abdul Karim Lirboyo dan masih banyak lagi lainnya.
Dari Bangkalan kami langsung menuju makam Raden Ainul Yaqin atau Mbah Sunan Giri di Kebomas Gresik, tapi sayang Mbah Syeikh Jumadil Qubro (Troloyo) dan Sunan Maulana Malik Ibrahim tidak tertuju karena cuaca gerimis dan armada ojek yang berbayar. Di sini sebelum ziarah kami juga melaksanakan shalat shubuh berjamaah. Jika berziarah ke mari anda akan disuguhkan dengan pemandangan pegunungan dan ojek dokar yang berjajar rapi.
Pagi telah tiba setelah menghabiskan sebatang rokok di parkiran Makam Giri kami langsung menuju makam Syeikh Maulana Ishaq di Paciran Lamongan. Di sini suasana begitu nyaman karena luas dan tentunya berhadapan langsung dengan lepas pantai. Kami juga setelah ziarah langsung sarapan pagi dengan lesehan. Tidak hanya itu rokokan dan ngopi sebagai pelengkap seni jalanan. Kami juga tak lupa di setiap makam selalu ngalap berkah minum air karomah peninggalan auliya Allah tersebut.
Masih di Paciran hanya sekitar 15 menit kami sampai di makam Raden Qosim atau Sunan Drajat. Di sini kami langsung berziarah secukupnya dan tak lupa masuk ke museum Drajat. Di museum Drajat anda akan disuguhkan benda-benda peninggalan era kuno seperti al Qur'an, tembikar, ukiran kayu hingga ajaran. Sebelum sampai kami teringat dengan peninggalan Mbah Sunan Drajat yaitu pesantrenya yang kini di asuh oleh Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur dan di baratnya ada pesantren Sunan Sendang Dhuwur yang diasuh oleh KH. Salim Azhar (Rais Syuriah PCNU Lamongan dan ketua MUI Lamongan). Jika ziarah ke makam Mbah Drajat pasti peziarah akan disuguhkan oleh para pengemis yang berjajar sepanjang pintu keluar makam.
Setelah usai dari Paciran kami langsung menuju ke makam Syeikh Ibrahim Asmoro Qondi (ayah Sunan Ampel) yang ada di Palang Tuban. Di sini pula makamnnya tidak jauh dari suasana ombak pantai utara. Suasananya juga tak kalah ramainya dari makam putranya di Surabaya. Di sini kami juga melaksanakan shalat dhuhur asyar di jama' tadhim.
Masih di Tuban kami langsung menuju ke makam Raden Maqdum Ibrahim atau Mbah Sunan Bonang. Makam beliau percis di belakang masjid agung Tuban yang sebelah timurnya alun-alun kota Tuban. Di sini pemandangan para tukang becak sangat banyak dijumpai karena menarik pelanggan. Akan tetapi kami rombongan pemuda lebih memilih berjalan kaki. haha. Setelah usai ziarah tak lupa kami berwisata oleh-oleh di antaranya aku membeli dodol, jenang hingga wingko. Tak lupa sepanjang jalan orang berjualan buah siwalan, sari siwalan dan tuak juga tersedia. Ohh iya tradisi nithik atau minum tuak di Tuban sudah tidak aneh. Maka dari itu harap maklum saja jika kita tahu soal ini.
Perjalanan kami pulang sekitar pukul 17:00 sore padahal tujuan masih ada satu lagi yaitu makam Gus Dur. Akan tetapi amat disayngkan selain sempat macet karena ada laka lantas, di Gunung Pegat Lamongan pun terjadi macet karena ada mobil mogok. Akibatnya ke makam Gus Dur kami urungkan. Sebelum itu pula ke makam Sayyid Sulaiman Mojoagung dan Raden Alif pun tidak sempat kami ziarahi karena waktu terbatas. Akhirnya perjalanan ziarah kali ini finish pada pukul 22:15 dan sampai di pondok dengan selamat. Semoga esok kita berkesempatan lagi sowan, silaturahmi kepada para kekasih Allah tersebut.
the woks institute l rumah peradaban 26-27/5/22
Galeri Foto:
Rumah Mas Aminuddin Jombang
Makam Raden Ainul Yaqin, Sunan Giri
Makam Syeikh Maulana Ishaq Lamongan
Komentar
Posting Komentar