Langsung ke konten utama

Filsuf Itu Akhirnya Merantau




Woko Utoro

"Satu persatu sahabat pergi, dan takan pernah kembali..." Iwan Fals.

Penggalan lagu Ujung Aspal Pondok Gede milik Iwan Fals tersebut sepertinya cocok untuk menggambarkan suasana malam itu. Malam terakhir kita berjumpa di Tulungagung dan entah kapan akan terulang lagi. Malam yang sebenarnya selalu saya hindari. Atau lebih tepatnya momen perpisahan yang saya sadari semua begitu berat. Sesekali saya bertanya mengapa ada istilah pisah kenang jika benar-benar harus berpisah. Mengapa tidak cukup mengenang dan tak usah berpisah. Nyatanya memang susah.

Malam itu setelah dikabari bahwa salah seorang teman kami akan pamitan tentu saya bergegas. Angkringan Otomotif menjadi saksi pertemuan terakhir tersebut sebelum ia bertolak ke negeri Ginseng, Korea. Ya, Ahmad Asrori atau kami biasa memanggilnya Kak Aas malam itu mengajak ngopi Heru dan saya. Katanya itung-itung pamit kepada kawan yang telah lama menjadi lawan diskusi. Tentu momen ini amat langka dan mahal maka saya secara pribadi langsung menuju ke sana.

Sesampainya di sana kami bertegur sapa, cipika-cipiki, ngobrol ngalor ngidul. Dengan sajian wedang bajigur dan suasana yang hening kami pun menikmati malam singkat itu. Entah apa yang dirasakan kawan saya Heru atau Kak Aas di momen pamitan tersebut. Tentu saya secara pribadi bahagia sekaligus sedih. Bahagia pastinya karena Kak Aas telah mendapatkan apa yang dicita-citakannya. Sedih tak lain karena saya kehilangan teman ngopi dan diskusi. Teman yang sebenarnya tak sekadar teman biasa melainkan saya menyebutnya filsuf nan sufistik.

Tapi bagaimanapun juga ini kehidupan. Hidup itu terus dinamis. Karena ciri kehidupan adalah bergerak, berjuang dan berubah. Dari itu saya selalu ingat pertengahan 2019 di mana kami berlima yang menyebut dirinya WAHAI menulis sebuah harapan. Di sana tertulis jika 5 tahun ke depan pasca pertemuan akhir itu kami akan mewujudkan 50% dari cita-cita. Hari ini tepat 5 tahun itu beberapa kawan kami telah memenuhinya. Misalnya mereka ada yang menikah, memiliki anak, ada yang lulus magister, ada yang lulus dari kursusan Bahasa Inggris dan Kak Aas mampu menembus Korea.

Apa yang menjadi pilihan Kak Aas tentu bagian sejarah hidupnya. Hal itu tentu akan dikenang sebagai sebuah proses yang panjang. Begitu pula dengan saya yang pastinya akan merindukannya. Saya akan terus mengingat betapa Kak Aas adalah orang yang asyik sekaligus ceplas-ceplos. Ia senang membaca dan mentadaburi al Qur'an. Ia berjuang di dunia pertanian, suka membaca dan pastinya berpikir rasional.

Saya tentu akan selalu mengingat ketika keresahan kita di saat membincang asmara. Ketika kita ngopi bersama topik tentang perempuan tak pernah dilupa. Termasuk kita diskusi seputar budaya, agama dan negara. Intinya di momen itulah yang akan selalu saya rindui. Maka di malam itu sebenarnya saya ingin menangis. Cuma tidak bisa. Sepertinya saya juga memang harus bersikap seperti Kak Aas yang tak usah risau dengan hidup formalistik. Kita seharusnya melakukan sesuatu dengan biasa-biasa saja.

Tapi bagi Kak Aas jika berkaitan dengan prinsip maka pegang erat dan gapailah. Tentu pilihannya bekerja ke Korea bukan utama tapi sebuah hal yang menjadi keharusan. Walaupun ia menyadari materi bukan segala-galanya. Akan tetapi atas dasar kebahagiaan terhadap Ibu, ia rela menembus sekat-sekat itu. Kak Aas tentu akan bertaruh atas apa yang menjadi pilihannya. Dan saya yakin pasti ia akan memenangkannya.

Lewat catatan kecil ini saya tentu menyelipkan doa semoga Kak Aas baik-baik saja. Jika pun dunia merubahnya apa mau dikata. Kita sebagai teman tak kuasa apapun selain berdoa. Bahkan dalam nada guyonan kita tak berharap apapun darinya. Cuma jika ada sesuatu yang menjadi percik keuntungan bolehlah kami diajak. Mungkin untuk sekadar minum kopi atau menuntaskan sebatang rokok dengan asap membumbung ke langit. Selamat berjuang Kak Aas, kesuksesan menantimu.[]

the woks institute l rumah peradaban 13/11/23


Komentar

  1. Perpisahan dengan orang yg dekat dengan kehidupan kita, tentu membuat gejolak pada jiwa. Semoga pertemanan tetap terjalin terus. Walau terpisah oleh negara dan kesibukan yang berbeda

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...