Langsung ke konten utama

Relasi Pesantren dan Keberkahan


Sore itu di Pondok Ngunut yang asri (Foto Dokri)

Woko Utoro

Entah sejak kapan istilah berkah ditemukan. Termasuk apakah keberkahan hanya dikenal di dunia pesantren. Tentu ini akan menjadi pembahasan yang menarik. Berkah atau barokah dalam bahasa Arab dikenal dengan ziadah al khair yang berarti bertambahnya kebaikan. Istilah tersebut sangat populer dan bahkan diyakini oleh banyak orang sebagai kata magis.

Di masyarakat kita keberkahan sangat kental dengan tradisi yang berkembang. Utamanya tradisi keagamaan seperti tahlilan, haul, manaqiban, sholawatan hingga asmaan. Tentu hal itu sangat dekat dengan dunia pesantren. Maka dari itu ada opini jika pesantren mati maka keberkahan pun turut mati. Secara sederhana bisa jadi mungkin karena pesantren dikenal dengan rumah keberkahan.

Tidak sedikit orang tua yang menginginkan anaknya mondok atas nama ngalap berkah. Mereka rela bekerja keras asalkan anaknya mau mondok. Tentu persepsi lama sudah berkembang bahwa ada perbedaan antara memondokan anak dengan sekadar menitipkannya di sekolah formal. Bagi orang tua pondok bukan sekadar lembaga pendidikan biasa. Melainkan lembaga tafaqquh fiddin yang mendidik anak mereka 24 jam nonstop.

Berbicara pesantren dan berkah beberapa hari lalu saya mendengar kisah-kisah berkaitan hal yang dianggap magis itu. Ada tiga orang santri masing-masing berkisah seputar keberkahan yang dialami. Santri pertama berkisah bahwa ia sejak lama diminta ibunya untuk rajin mengaji. Usut punya usut jangankan ngaji ia sendiri jarang berada di pondok dan lebih memilih di kosan bersama temannya.

Singkat cerita sang ibu memberi kabar bahwa hasil pertanian di rumah mengalami resiko gagal panen. Kata sang ibu intinya berkaitan dengan rumah juga berkaitan dengan anaknya. Sang anak pun sadar jika apa yang dilakukannya salah ketika tidak menuruti kemauan ibunya untuk berada di pondok. Akhirnya sang anak tersebut kembali aktif di pondok. Ia rajin mengaji dan berjamaah shalat 5 waktu. Dua minggu kemudian sang ibu menelpon kembali bahwa pertaniannya bisa diselamatkan. Ia bisa memanen hasil taninya walaupun tidak begitu besar. Tapi bersyukur intinya masih bisa panen.

Cerita kedua, seorang santri sedikit menyepelekan ketika kiai memberikan makna pada kitab. Katanya kiai banyak yang kurang tepat dalam memberikan ta'bir pada kitab kajian tersebut. Sang santri berpikir demikian dan hanya dibatin dalam hati. Sekitar seminggu dari peristiwa itu ia bermimpi sang kiai hadir dalam mimpinya. Ia pun kaget bukan kepalang dan keesokan harinya langsung meluncur menuju pondok untuk sowan. Ia takut jika apa yang dilakukan berdampak pada kehidupannya. Ia khawatir suul adab dan tidak menuai berkah.

Cerita ketiga, seorang santri berkisah bahwa rerata mereka yang menyepelekan pondok akan sengsara hidupnya. Ia mencontohkan beberapa santri yang pernah mondok di sini di mana saat ini mereka mengalami pailit dalam hidup. Salah satu contohnya yaitu mereka kesulitan dalam menyelesaikan tugas akhir atau selalu sial dalam banyak hal seperti ekonomi dan pertemanan. Mungkin hal itu yang disebut hilangnya keberkahan. Intinya jangan sampai menjadi santri yang kualat atau tidak mendapatkan ridho guru.

Demikian catatan singkat bahwa keberkahan itu ada, di manapun dan kapanpun. Kadang kita memang tidak menyadari karena hidup diatur oleh akal rasional. Padahal justru hal yang irasional pun sejatinya rasional. Ini bukan soal nyata atau tipun. Tapi lebih tepatnya bertumpu pada akal yang diyakini.

"Barang siapa yang menyakiti hati gurunya maka dia tidak akan mendapatkan keberkahan ilmunya, dan tidak bermanfaat ilmunya kecuali sangat sedikit". (Dalam Kitab Ta'lim Mutaalim karangan Syeikh Burhanuddin Az Zarnuji).[]

the woks institute l rumah peradaban 20/11/23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...