Langsung ke konten utama

Teteh Nurul Sosok Inspiratif dan Bersahaja




Woko Utoro


Ketika Teh Nurul memasuki ruangan diskusi aura secepatnya berubah. Terlebih ketika beliau memulai kisahnya saya langsung panas dingin. Saya hanya bisa tertunduk lesu. Saya seperti sedang ditampar oleh angin sepoi namun begitu sakit. Saya mengibaratkan kisah Teh Nurul bagai padang tandus ribuan tahun basah seketika oleh tetesan hujan.


Apa yang disampaikan Teh Nurul nampaknya membuat saya secara pribadi seperti kesambar petir. Terlalu banyak teoritis yang saya sampaikan sedangkan Teh Nurul begitu aplikatif. Tentu di sesi ini saya belajar banyak hal utamanya soal niat, motivasi, usaha, doa dan tawakal. Sepanjang perjalanan saya hanya bisa mematung mengapa Teh Nurul bisa seluwes itu dalam penyampaiannya. Bahkan mayoritas audiens pun dibuat terkagum oleh beliau.


Saya lantas ingat. Dalam keheningan seketika itu. Teh Nurul pernah saya melihatnya dulu ketika ayahnya, Ustadz Misbahuddin (Guru Fikih) sering membonceng menggunakan motor Honda di saat masih mengajar di MTs NH Gantar. Saat itu Teh Nurul masih kecil dan imut. Dan saat ini kami bertemu kembali, saya pangling beliau begitu dewasa. Dunia memang begitu cepat dan saya yang begitu terlambat. Satu hal yang membuat Teh Nurul begitu inspiratif adalah gaya penyampaiannya yang khas dan rendah hati. Di sana saya melihat aura ayahnya begitu melekat kental. Sosok yang pastinya dihormati di daerah kami.


Alumnus MAN 1 Manonjaya hingga ke Al Azhar Mesir tersebut tentu menginspirasi banyak orang. Apalagi beliau adalah sosok perempuan bertubuh kecil. Mungkin saja pastinya di Gantar akan sulit menemukan sosok seperti beliau. Sosok yang langka dan seharusnya menjadi teladan kita kawula muda. Tentu kita berpikir bahwa menyelesaikan kuliah di Al Azhar bukan perkara mudah. Ada banyak rintangan yang menghadang dan itu sudah dipastikan telah ditaklukkan oleh Teh Nurul.


Yang membuat saya tak akan lupa dari banyak hal yang disampaikan beliau adalah bentuk keyakinannya pada Allah. Teh Nurul berkata bahwa jika semua telah diserahkan pada Allah pasti akan ada kemudahan. Hal itu pula yang menjadi prinsip Teh Nurul mengapa bisa mantap menimba ilmu ke negeri Nabi Musa tersebut. Negeri nun jauh pastinya dari orang tercinta dan beliau sendiri mengakui bahwa problem utama seorang perantau adalah "home sick".


Bagi Teh Nurul sesuai pesan orang tuanya bahwa pendidikan itu bukan untuk keren-kerenan. Bukan untuk agar orang menyanjung, memberi pujian. Tapi pendidikan itu memang sebagai jalan agar manusia sadar bahwa ilmu Allah itu luas. Dalam hal ini Teh Nurul mengembalikan semuanya pada niat. Karena niat adalah otak dari segala amal. Termasuk jangan bosan untuk terus berdoa. Karena doa adalah induk dari segala ibadah. Terlebih bagi ibu-ibu seringlah berdoa kebaikan untuk anaknya. Karena doa seorang ibu untuk anaknya sama dengan doa nabi untuk umatnya.


Teh Nurul juga berpesan ala Sayyidina Ali untuk semua bahwa kita jangan bersandar pada harta yang mudah habis. Jangan bersandar pada manusia nanti mudah kecewa. Tapi bersandarlah pada sang maha segalanya. Termasuk setinggi apapun pendidikan kita jangan sampai merasa tinggi di hadapan orang tua. Sungguh kita dibandingkan dengan orang tua tak ada apa-apanya.


Demikianlah kesan saya bertemu dengan Teh Nurul yang begitu luar biasa. Sosok yang ketika memulai sesuatu pasti baca Bismillah. Sosok yang bersahaja lagi berwawasan dan pastinya menambah energi untuk saya terus semangat melangkah meraih cita-cita. Terakhir dalam pertemuan singkat itu saya menghadiahi Teh Nurul buku tipis berjudul Cengker Ramadhan. Semoga saja buku tersebut adalah wasilah bahwa saya pernah bertemu sosok yang luar biasa walaupun dalam pengakuan beliau suka tidur.[]


the woks institute l rumah peradaban 27/12/23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...