Langsung ke konten utama

Postingan

Do'a Orang Kepepet

Woko Utoro  Mbah Nun pernah berkisah apa faktor kejatuhan rezim Soeharto? demo besar-besaran mahasiswa, atau gedung kura-kura dikuasai mahasiswa. Bukan itu. Kata Mbah Nun, Pak Harto tak bisa digulingkan sekalipun misalnya jutaan orang mengepungnya. Satu-satunya alasan Pak Harto mundur alias berhenti jadi presiden adalah karena rakyat sudah ada yang menjarah. Bagi Pak Harto jika rakyat sudah di level menjarah ini bahaya. Orang jika sudah sampai menjarah berarti berada di posisi kepepet. Mbah Moen juga punya kisah tentang orang yang menipu atas nama beliau. Kata Mbah Moen, orang mencuri atau sampai menipu atas nama orang lain itu sudah ditahap kepepet. Orang seperti itu memang masuk kategori sangat bodoh. Karena tidak didasari ilmu maka sudah tak ada pikiran lain selain melakukan kriminal tersebut. Maka dari itu ilmu adalah petunjuk jalan. Ilmu adalah cahaya di saat orang gelap gulita. Ilmu adalah kompas ketika orang kehilangan arah. Ilmu adalah jembatan yang menyeberangi...

Dari Esais ke Cerpenis

Woko Utoro  Dua bulan terakhir saya gandrung dengan bacaan sastra. Baik itu novel maupun cerpen saya lahap habis. Entah saya kerasukan apa yang jelas bacaan itu berpengaruh terhadap dunia kepenulisan yang saya geluti. Hingga akhirnya saya berpikir ingin mengubah haluan dari genre esai ke sastra terutama cerpen. Saya terlalu percaya diri padahal siapa juga yang menyebut saya ini esais. Padahal untuk menyebut diri itu syaratnya harus ada kesaksian dari orang lain. Misalnya Ebiet G Ade tidak hanya musisi kata Eyang Sapardi tapi juga penyair. Atau dunia tahu bahwa Pramoedya Ananta Toer adalah satu dari sekian novelis terbaik milik Indonesia.  Walaupun tidak ada yang mengatakan saya esais tapi saya jalan saja, toh apalah arti pengakuan jika mudah puas. Bukankah titik temu seorang penulis adalah tetap menulis. Karya adalah jawaban atas segala ragam pengakuan. Sebab dewasa ini banyak orang justru stug setelah banyak pujian. Karena pujian itu sebenarnya racun maka kita har...

Hati dan Lidah

Woko Utoro  Dalam sesi khutbah Jum'at, KH Fakhruddin Al Bantani menjelaskan sebuah kisah di Kitab Dalilus Sailin karangan Syeikh Muhammad Anas. Di kitab tersebut dikisahkan tentang riwayat Lukman Al Hakim. Seperti kita tahu Lukman Al Hakim adalah salah satu dari 114 surah yang namanya diabadikan dalam Al Qur'an. Menurut jumhur ulama tafsir Lukman Al Hakim adalah orang biasa bukan dari kalangan anbiya. Tapi karena wisdomnya ia menjadi teladan dan melegenda dalam Al Qur'an. Lukman diketahui hanya orang biasa, budak dan penggembala kambing tapi ia seorang yang shaleh. Salah satu dari banyak kisahnya yaitu tentang hati dan lidah. Suatu hari tuanya memerintahkan kepada Lukman untuk memotong kambing dan membawanya bagian terenak dari kambing tersebut. Singkat kisah Lukman membawakan hati dan lidah kambing untuk majikanya. Beberapa hari kemudian Lukman diminta lagi oleh sang tuan untuk memotong kambing. Kali ini sang tua menyuruh Lukman membawakan bagian paling tidak e...

Ikutilah Jalan Kekasih

Woko Utoro  Kawan inilah risalah kecil tentang kekasih. Mari kita hayati dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun terasa berat akan tetapi kita diperintahkan mengikutinya sesuai kemampuan. Sungguh mengikuti jalan kekasih adalah obat mujarab tiada tara. Kawan jangan merasa sendiri. Sebab kekasih pernah sendiri saat awal-awal dakwah di Mekah. Jangan merasa paling menderita. Karena kekasih pernah lebih dari itu. Beliau pernah diludahi, dipukul hingga dihujani batu. Jangan pernah merasa takut sebab kekasih pernah diintimidasi, diancam hingga akan dibunuh ketika memproklamirkan Islam. Kata beliau jalan dakwah memang selalu terjal, bergelombang, keras cadas dan penuh tantangan. Kawan jangan merasa paling mulia. Sebab kekasih selalu menjadi teladan tentang kesederhanaan. Jangan merasa paling tinggi. Padahal kekasih selalu mencontohkan tentang rendah hati. Jangan merasa berat ibadah. Padahal kekasih sudah dijamin masuk surga tapi tetap saja beribadah dengan banyaknya. ...

Belajar Mendengarkan

Woko Utoro  Ning Inayah Wahid memberi pesan sederhana tapi mengena tentang warisan Gus Dur. Pesan tersebut beliau sampaikan dalam acara Majelis Nyala Purnama Makara Art UI. Kata Ning Inayah, sekian banyak yang kita pelajari dari Gus Dur ada satu pesan menarik dan relevan hingga hari ini yaitu belajar mendengar. Ning Inayah tersadar dengan pesan tersebut mengapa dulu Gus Dur berpesan agar sering mendengarkan lagu dangdut. Kata Ning Inayah lagu dangdut adalah simbol suara rakyat. Lirik dan musiknya begitu lahir dari keresahan dan kesederhanaan. Di era ini orang yang seharusnya mendengar justru pura-pura tuli. Orang yang dianggap mewakili rakyat justru paling abai dan membisu. Dari itulah maka kita perlu belajar dari Gus Dur tentang hal yang sederhana yaitu mendengar. Semakin banyak mendengar maka semakin banyak pula kita melihat. Itulah yang dilakukan Gus Dur sejak lama yaitu mendengarkan mereka suara-suara rakyat cilik. Suara yang harusnya dibela tanpa melihat latar bela...

Menghadapi Masalah III

Woko Utoro  Orang sudah hidup saja bermasalah. Akan tetapi selama kita tidak berbuat masalah maka aman saya begitu kata bapak. Yang jelas manusia itu tempatnya salah, lupa dan dosa. Sehingga dari itu kita hanya perlu mengerti dan mempelajari. Bahwa terkadang di setiap masalah selalu terselip hikmah. Kata bapak selama masih hidup di dunia masalah itu selalu ada. Bahkan jika sudah di hadapkan urusan dunia maka masalah tak ada habisnya. Masalah itu seperti rezeki dan akan berakhir ketika pemiliknya pergi. Pemilik tersebut adalah kita yaitu hamba yang diberi. Maka dari itu sebelum semua berlalu hadapi dan nikmati saja masalah apapun. Bahwa masalah hadir agar kita tahu hidup tidak sendirian. Hidup adalah ladang perkawanan yang hadir untuk memberi ruang pendewasaan. Kata bapak perlombaan yang tak ada garis finisnya adalah lomba mencari dunia. Dunia itu semakin dikejar justru melelahkan dan tak berujung. Maka dari itu cari dunia sewajarnya saja. Tapi walaupun demikian dunia da...

Dunia Dalam Tulisan

Woko Utoro  Saya sering digoda oleh teman mengapa hingga kini masih sering menulis. Katanya penulis itu lucu dan lebih lucu lagi yang mencetak buku. Baginya orang masih menulis di era serba kelimpahan adalah hal aneh. Lebih aneh lagi para pengarang buku, mereka masih setia dengan sesuatu yang mulai ditinggalkan. Seperti kita tahu buku makin ditinggalkan pembacanya. Apa yang dikatakan teman saya tersebut tentu ada benarnya. Tapi bagi saya tidak perlu untuk dimasukkan ke dalam hati. Kita hanya perlu menyadarkan bahwa setiap orang memiliki pilihan untuk berproses. Salah satu dari proses itu adalah dengan terus menulis. Teman saya mungkin lupa bahwa setelah kalam lisan maka proses selanjutnya adalah tulisan. Bukankah dunia tercipta dari kata-kata "kun fayakun" dan setelah itu menjadi tulisan (baca: teks kitab suci). Teman saya mungkin juga tidak ingat bahwa menulis tidak semudah bicara. Sebab menulis itu kecerdasan keempat setelah mendengar, bicara dan membaca. Setiap...