Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Kembali Ke Diri

Woko Utoro  Anda mungkin pernah atau terlampau sering jika selepas kerja badan terasa penat. Setelah itu scrol medsos di smartphone untuk sekadar cari hiburan. Lambat laun bukannya badan terasa ringan justru sebaliknya. Tengkuk di leher terasa berat dan badan terasa malas untuk bergerak. Apalagi jika sudah dihadapkan dengan ibadah rasanya seperti ada setan yang menunggangi. Padahal semua hanya soal mindset kita saja. Dari problem itu sebenarnya kita sadar. Tapi sayang kesadaran itu terbelenggu. Seperti banyak petuah mengingatkan bahwa semakin banyak aktivitas di depan gawai justru kita makin tersesat. Kita mudah terbawa arus informasi yang begitu deras. Kita mudah tenggelam dalam lautan yang tak bisa dibendung di dunia digital. Akhirnya kita berpikir mengapa hiburan dan segala informasi di gawai tidak membuat kita puas. Justru medsos dan gawai hanya membuat kita kehilangan arah. Hidup seperti tersesat dan entah mengapa terjebak di lubang yang sama. Salah satu hal yang p...

Resep Panjang Umur

Woko Utoro  Seminggu lalu saya dan istri mudik ke kampung halaman, Indramayu Jabar. Singkat kisah ada banyak hal yang kami dapat dalam perjalanan pulang tersebut. Selain dapat bernostalgia kampung halaman kami juga mendapat petuah luar biasa terutama dari ibu, saya memanggil beliau mama. Ketika melihat bapak dan mama saya langsung teringat pesan jika ingin hidup bahagia maka lakukanlah kiat berikut: Pertama, dalam rumah tangga pasti ada perselisihan atau salah paham. Maka dari itu selalu mengalah adalah kunci. Mengalah bukan berarti kalah tapi justru sebuah pilihan untuk bijaksana. Kedua, dalam bersosial jangan mudah sakit hati apalagi menyimpan dendam. Dendam tidak akan memadamkan api dan justru sebaliknya membakar diri sendiri. Ketiga, hidup itu sederhana, jangan dibuat pusing dan kita menghindari stres. Selama ada jalur positif tempuhlah karena itu obat agar hati dan pikiran fresh. Keempat, dalam berbagai situasi tetaplah sabar, jangan mudah gegabah, jangan ceroboh d...

Lebaran dan Pulang

Woko Utoro  Kata bapak saya, "Untung kita punya tradisi lebaran. Coba bayangkan di negeri Eropa mungkin tidak mengerti bagaimana cara mereka pulang". Dari apa yang dikatakan bapak itu tentu terasa sangat eksistensial. Betapa pun gagahnya dunia modern toh masih menyisakan lubang menganga pada batin. Percis apa yang disampaikan bapak tempo hari tentang tradisi pulang kampung. Seperti kita tahu lebaran hanya terjadi setahun sekali. Momen itu sangat langka sekaligus sakral. Orang bisa saja memaknai dengan pikiran apapun. Tapi satu hal yang tak boleh dilupakan adalah perjalanan pulang. Dalam makna fisik tentu kepulangan adalah proses perjalanan dari tanah rantau menuju kampung halaman. Tapi secara lebih maknawi, pulang adalah kembali ke kampung ruhani. Tempat di mana kita mengerti akan muasal. Tempat di mana kita menimba ulang pertanyaan dari mana, mau apa dan hendak kemana? Itulah barangkali yang tak pernah ditanyakan oleh sebagian orang dan bapak merujuk pada Eropa. ...

Masjid dan Perpustakaan

  Woko Utoro  Kemarin malam Senin saya dan istri kembali ke Tulungagung dalam perjalanan dari Probolinggo. Kami naik motor dari Probolinggo ke Tulungagung dan singgah di Malang sekitar pukul 24:00 WIB. Di Malang ini kami istirahat sejenak selepas perjalanan jauh Probolinggo - Tulungagung untuk menjenguk Simbah yang sakit. Singkat kisah kami rehat di Masjid Besar Al Ihsan Pakisaji Malang. Masjid Besar Al-Ihsan Pakisaji terdapat di Jalan Raya Pakisaji No. 118 RT 01 RW 03 Kabupaten Malang Jawa Timur. Kebetulan masjid ini merupakan salah satu titik rest area tempat ramah pemudik. Tempat di mana lebih nyaman dari posko milik polisi yang formalitas itu. Tanpa sengaja saya dan istri singgah di masjid ini untuk shalat dan menikmati camilan. Di masjid Al Ihsan ini kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Ornamen masjid dan kaligrafinya membuat orang segera angkat kamera untuk selfie. Terdapat coffee break, teh dan jajanan gratis. Belum lagi karpet nan empuk ...

Teras Gua Hira

Woko Utoro  Beberapa waktu lalu saya nobar film Budi Pekerti (2023) karya Wregas Bhanuteja. Di waktu itu pula saya membaca kembali kisah diturunkannya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Dua momen tersebut ternyata tidak sengaja saling berelasi dan saya belajar memaknai itu semua. Titik temu pada dua momen itu adalah tentang kebisingan media sosial. Pertama, film Budi Pekerti berkisah tentang seorang guru bernama Bu Prani yang hidupnya dibuat gusar oleh fenomena konten di media sosial. Bu Prani dikisahkan terkena framing akibat dianggap misuh (mengumpat) ketika mengantri kue putu di Pasar Beringharjo. Singkat kisah framing medsos dan segala klarifikasi justru semakin memperkeruh suasana. Pada akhirnya dari segala benturan di dunia digital saya menemukan jawaban dari kasus Bu Prani yaitu : problem perundungan, salah paham, dan ocehan netizen tak akan pernah selesai jika kita terus berkubang di dalamnya. Solusinya hanya satu yaitu temukan kedamaian, tutup telinga dan ...

Puasa Untuk Mencetak Pribadi Yang Bertakwa

Woko Utoro  Jika ada yang tanya apa makna puasa dan apa yang ingin dicapai dalam ritual ibadah ini. Jawabannya jelas sejak dulu hingga kini puasa adalah menggapai ketakwaan manusia. Puasa tidak hanya bermakna menahan tapi lebih dari itu. Puasa adalah kondisi di mana seseorang mengetahui batas dirinya. Sedangkan yang ingin digapai puasa adalah menjadikan manusia bertakwa. Karena puasa adalah medan ruhani yang menempa kita menjadi pribadi berbudi luhur. Puasa adalah madrasah ruhani yang mendidik jiwa dan bukan sekadar fisik. Lantas bagaimana kerja puasa untuk menggapai ketakwaan. Sebelum itu kita harus tahu makna takwa itu sendiri. Kata Sayyidina Ali takwa itu takut kepada Allah SWT. Sesuai asal katanya, takwa berasal dari ittaqo, yattaqi, al woqoyah atau hati-hati. Artinya hidup ini harus hati-hati dan jangan sampai ceroboh. Ketakutan kepada Allah SWT harus lebih tinggi daripada takut menghadapi mahluk. Kehati-hatian juga bagian dari ajaran utama agar orang tidak merasa ...

BPJS dan Kisah Sulaiman

Woko Utoro  Jagat maya tengah ramai membahas pemberhentian PBI BPJS kesehatan. Pemberian Bantuan Iuran BPJS tersebut dinonaktifkan oleh pemerintah tidak tanggung-tanggung ada sekitar 11 juta pemilik. Alasannya sederhana karena ada indikasi perbaikan data di Kemensos. Jika bicara BPJS saya jadi ingat dulu tentang apakah perlu bersandar pada kebaikan pemerintah. Sehingga seolah-olah kita berharap untuk mendapatkan bantuan. Atau dengan BPJS kita berharap ditanggung misalnya ketika terkena musibah. Di wilayah ini rasanya tipis sekali antara kemampuan bersandar pada mahluk dan Tuhan.  Bagi orang yang punya BPJS seolah-olah hidup tenang. Jika terjadi sesuatu misalnya sakit atau kecelakaan kerja maka BPJS dan asuransi sejenis dapat membantu. Di sinilah kadang kita berpikir Allah dulu baru BPJS. Atau dalam bahasa sederhana jangan mempertahankan BPJS dengan kehendak Tuhan. Karena bagaimanapun juga BPJS hanya sekadar wasilah dan bukan tujuan. Saya jadi ingat ketika kekuasaan...

Membaca Panjang

Woko Utoro  Tradisi membaca harus terus dibudayakan. Dalam budaya yang silih berganti, membaca akan selalu relevan. Selain karena wahyu Tuhan, membaca adalah cara agar manusia tidak tersesat. Membaca adalah wasilah petunjuk manusia dari perbedaan dan problem. Membaca di sini terfokus pada buku. Lebih fokus lagi pada buku dengan banyak halaman. Di era serba cepat, membaca tidak dituntut cepat. Pembacaan dalam kondisi apapun hanya menuntut konsisten, sederhana dan jujur. Terutama membaca buku tebal kita sejatinya sedang dilatih. Mengapa sering ditemukan kasus mudah tersinggung, salah paham, konflik digital, caci maki hingga termakan hoaks. Salah satu penyebab konflik tersebut adalah karena meninggalkan membaca. Terutama bacaan panjang sangat diperlukan agar kita terus berhati-hati, tetap tenang, fokus dan disiplin. Bacaan panjang membuat kita tahu kapan batas dan mengerti apa yang perlu dilakukan. Melalui bacaan panjang kita akan mudah menguasai bacaan pendek. Seperti yan...

Kerja Batin Adalah Membaca

Woko Utoro  Sejak kapan membaca buku tak lagi menarik hati. Padahal dalam tradisi membaca ada banyak hal yang kita dapatkan terutama soal kondisi batin dan pikiran. Dulu buku adalah primadona terutama ketika menunggu waktu berbuka, menanti bus tiba hingga sedang dalam antrian. Bazar-bazar buku jadi perburuan terutama ketika ongkos tengah menipis. Tapi kini dunia secepat kilat berubah buku masih tetap banyak tapi pembaca sepi peminat. Saya jadi ingat mengapa buku tidak dilirik apalagi dirayakan sebagai tradisi yang menggugah kesadaran. Sejak logika kapitalisme merebak buku bukan lagi pilihan utama orang memacu otak. Sebab membaca buku hanya membuat orang bosan, malas, pusing hingga putus asa karena tak kunjung paham. Sederhananya logika kapitalis yaitu, "Untuk apa baca buku buang-buang waktu dan tak menghasilkan uang". Buku kalah dengan media sosial yang menjanjikan banyak hal. Paling kentara adalah ruang hiburan dan angan-angan keuntungan. Di sinilah logika pasar ...

Bukan Sekadar Ngobrol Warung Kopi

Woko Utoro  Spongebob Squarepants pernah bilang ke Squidward, jika ingin jadi seniman gunakanlah imajinasi. Sambil membentuk setengah lingkaran imajinasi itu berbentuk pelangi. Dari adegan itu saya sering bilang ke teman-teman bahwa imajinasi mahal harganya. Pikiran dan imajinasi adalah senjata kata Einstein. Orang bisa menjadi apa saja dengan the power of mind. Di suatu pagi seorang anak menghadang saya. Ia hanya ingin saya mendengarkan ceritanya. Kebetulan cerita itu sudah ia tulis dalam beberapa lembar buku. Katanya cerita itu ia dapat saat berkunjung ke pasar tempo hari. Ia bercerita tentang kucing yang terlantar. Katanya kucing itu berjumlah lebih dari dua. Mereka dibuang dan kondisinya sangat memprihatikan. Ia memberi kucing itu dialog yang intinya kasihan bahwa di terlantarkan itu tidak enak. Kucing merasa kesakitan ketika ditendang, kedinginan saat disiram dan lapar ketika belum makan. Lalu beberapa saat kucing itu diambil orang, kata si anak kucing itu diadopsi...

Ayat Terpanjang Itu Tentang Hutang Piutang

Woko Utoro  Saya tergelitik ketika Gus Baha menjelaskan bahwa ayat terpanjang dalam Al Qur'an tidak bicara tentang shalat, puasa, zakat atau haji. Justru ayat terpanjang dalam Al Qur'an malah bicara tentang hutang piutang dan muamalah. Ayat terpanjang tersebut yaitu terdapat dalam Surah Al Baqarah ayat 282. Dalam ayat tersebut gamblang dijelaskan bagaimana hutang piutang bisa menyelamatkan sekaligus ancaman. Sederhananya ayat terpanjang yang terdiri 128 kalimat dan 540 huruf tersebut jelas menyinggung hubungan orang yang berhutang dan yang dihutangi (piutang). Ayat tersebut langsung bilang bahwa sangat besar kemungkinan jika persaudaraan bisa bubrah hanya karena hutang piutang. Itu sebabnya ayat tersebut berpesan jika hutang piutang harus ada sanksi, pencatatan serta ragam perjanjian pelunasan.  Tidak peduli besar atau kecil nominalnya hutang tetaplah hutang dan akan ada sesi pertanggungjawaban. Dalam ayat tersebut juga dijelaskan bahwa banyak orang yang menyepelek...

Menyelami Dunia Pedagang Kecil

Woko Utoro  Beberapa minggu kami menikmati menjadi pedagang kecil. Tentu kecil di sini yaitu ambil keuntungan sedikit. Selain juga menjajakan jualan dengan dititipkan ke kantin sekolah. Tapi walaupun demikian kami merasa senang. Awalnya mungkin lelah tapi lambat laun kita tersadar bahwa kerja keras itu perlu. Mungkin keuntungan tidak seberapa tapi yang kami cari adalah bagaimana proses itu bekerja. Sebelum bicara keuntungan dan modal hal yang kami dapat adalah saat jualan tidak laku. Ini bukan rugi tapi justru keuntungan dalam bentuk lain. Saya selalu bilang ke istri bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Mungkin yang kita lakukan terasa melelahkan tapi faktanya terselip pelajaran. Seperti rumus bahwa di balik kerja keras selalu ada kebahagiaan dan putus asa. Di sanalah kita bekerja untuk bersiap atas segala sesuatunya. Kata orang tua bersyukurlah masih mampu berpikir hingga ke sana. Karena dengan begitu kita ditempa menjadi dewasa. Kita dididik langsung oleh keadaan...

Menulis Mengubah Hidup

Woko Utoro  Warga UIN SATU atau bahkan di dunia literasi, siapa yang tak kenal dengan Prof Ngainun Naim. Nama yang sangat familiar dan lekat dengan dunia tulis menulis. Jika dengan nama beliau kita langsung terpukau terutama dalam hal kepenulisan, "ini orang luar biasa energi menulisnya tak pernah habis". Tapi di balik itu semua kata Prof Naim tidak selalu mudah. Prof Naim selalu berbagi kisah bahwa rekam jejak kepenulisannya tidak selalu mulus. Jangan dikira saat ini beliau langsung sukses. Beliau telah melewati pahit getirnya ditolak oleh penerbit, dicemooh teman-temannya hingga frustasi. Tapi karena sudah menjadi niat akhirnya beliau percaya bahwa menulis dapat mengubah hidup. Dulu bahkan kini dari tulisan bisa mendapat cuan. Tinggal bagaimana kita mengolah kata sesuai kebutuhan pasar. Selama tidak melanggar hukum tulisan sejatinya dapat dijual. Terpenting bukan reward yang didapat melainkan proses panjang nan melelahkan. Kata Prof Naim, menulis itu ada kepuasa...

Dunia Tanpa Buku

Woko Utoro  Istri saya kurang tertarik soal dunia literasi terutama buku. Tapi bukan berarti tak peduli. Justru ia paling peduli. Ketika saya punya ide menjual beberapa buku untuk kebutuhan harian ia bilang, "Jangan, itu sejarah hidup. Sekarang aku hadir di antara halamannya". Ketika buku-buku diserang semut merah ia yang paling risau. Katanya, "Segera evakuasi, karena buku bukan sekadar tumpukan kertas tapi kumpulan pengetahuan". Dari kepedulian istri saya belajar bahwa buku bukan sekadar kertas berisi tulisan. Tapi buku adalah rekam jejak kehidupan. Di sana ribuan pemikiran lahir dan tinggal. Apalagi katanya buku itu sudah saya kumpulkan sejak awal kuliah. Maka dari itu apa susahnya untuk merawat dan membacanya kembali. Dari sanalah saya pun insyaf bahwa ide menjual buku adalah hal gila. Kata istri jangan sekali lagi buku jadi biang kerok atas kekurangan. Justru buku itu harus jadi pondasi karena esok kita akan mendidik generasi baru. Dari sini pula sa...

Sinau Srawung

Woko Utoro  Ada istilah "srawung hamengku ono" atau bahasa sederhananya bersosial maka kamu ada. Tentu srawung di sini bisa bermakna bertemu, silaturahmi, kebersamaan, diskusi dll. Siapa saja boleh mengartikan srawung demikian tapi yang jelas maknanya bisa terbagi menjadi dua. Pertama, secara jasadi srawung berarti pertemuan dua orang atau lebih dalam sebuah majelis. Kedua, terkoneksinya seseorang dengan makna srawung itu sendiri. Bagi orang introvert atau yang menyukai kenyamanan, keheningan dan kesendirian tentu makna srawung pertama tidak cocok. Sebab srawung dalam arti fisik akan sangat kesulitan bagi mereka yang tak terbiasa. Tapi bagi orang yang terbiasa atau membiasakan diri pertemuan adalah ladang pengetahuan. Jika memakai srawung dalam arti kedua niscaya siapa saja bisa menggunakannya. Srawung kedua lebih bermakna batiniah. Artinya selain meminta pertemuan fisik juga sekaligus menanam koneksi lebih dalam. Dalam bahasa sederhana apa guna pertemuan di satu ...

Mbah Ridho dan Kisah-kisah Kehidupan

Woko Utoro  Saya selalu punya kesan mendalam ketika sowan ke ndalem Pak Ridho Al Qadri. Sudah lama sekali mungkin sekitar setahun lebih saya tidak berkunjung ke sana. Sampai saat ini anak-anak beliau sudah besar dan rumahnya juga berpindah. Waktu berjalan begitu cepat dan Alhamdulillah saya bersama istri bisa kembali ke sana. Malam itu lepas shalat isya kita langsung bertolak ke Pucung Kidul arah Sanggrahan atau beberapa meter dekat Goa Selomanggleng. Kami berbincang hangat dan tak lupa secangkir kopi telah tersaji nikmati. Kami mendapatkan wejangan yang luar biasa terutama tentang kehidupan. Pertama, istri saya diminta agar saya tetap berpikir positif, jangan rendah diri dan optimisme. Pesan tersebut memang sangat cocok sekali buat saya yang sering nampak berkeluh kesah. Kedua, kalian itu tidak memiliki tanah air di Tulungagung. Jadi bagaimana sekarang berpikir untuk bekerja lebih keras. Setelah itu berusaha untuk investasi tanah. Karena bagaimanapun hidup itu dinamis ...

Amal Shaleh

Woko Utoro  Saya senang ketika Mbah Nun bilang bahwa amal shaleh itu kerja keras. Dari Mbah Nun lah saya belajar bahwa amal shaleh tidak selalu berkaitan dengan ritual keagamaan. Bahkan bekerja itu juga bagian dari agama. Hanya saja di dunia materi yang serba kompetitif kita sering terjebak oleh kalangan motivator. Bukan saya benci motivator tapi seringkali saya skip ketika ada kata-kata mutiara dari mulut mereka. Terutama banyak konten berkaitan kesuksesan usaha maka saya jarang menonton. Alasannya sederhana terkadang para motivator tersebut tidak relate dengan fakta di lapangan. Mereka dengan mudah memperlihatkan hasil tanpa tahu di balik layar. Bahwa keberhasilan selalu tidak gratis. Bahwa kesuksesan selalu dibayar oleh perjuangan nan gigih. Inilah sebabnya saya setuju dengan Mbah Nun bahwa kerja keraslah dan itu adalah jendela kesuksesan. Mbah Nun sering dawuh bahwa tidak peduli apa pekerjaan kita. Selama itu baik, halal dan bermanfaat maka perjuangkanlah. Bagi Mbah...