Langsung ke konten utama

Mengapa Memilih Jurusan Tasawuf Psikoterapi? Bagian (2)




Pod-Writes bersama Bang Woks (Cah Angon di the woks institute & alumni TP IAIN Tulungagung)

Kali ini kita akan membahas tentang HMJ TP & Keorganisasian

Jurnalis TWI: Ok Bang Woks, kita jumpa lagi di Pod-writes. Kali ini kita bahas tentang organisasi. Menurut Bang Woks organisasi itu seperti apa dan bagaimana dengan HMJ TA?

Bang Woks: Oh iya sampai bersua lagi. Menurut saya organisasi adalah wadah atau tempat kita menempa diri, berproses, saling kerjasama, saling mengisi dan berbagi. Dari organisasi kita menjalankan roda bersama tanpa merasa diri paling mampu, justru lewat organisasi kita merasa tidak bisa apa-apa selain belajar dan belajar. Saya teringat pesan Mbah Wahab Hasbullah dalam sebuah buku bahwa "tidak ada obat yang paling manjur selain persatuan". Dengan bersatu lewat organisasi itulah kita bisa menggapai tujuan bersama. Jika pun berbeda toh di situlah seninya berorganisasi, maka kata Gus Dur "semakin berbeda justru semakin nampaklah kesamaanya".

Nah kebetulan ketika awal jadi mahasiswa organisasi Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) adalah tempat pertama berlabuh. Ibarat OSIS di sekolah dulu, HMJ sangat berperan aktif dalam memajukan jurusanya.

Jurnalis TWI: Sejarahnya dulu gmana Bang HMJ TP itu?

Bang Woks: Ya setau saya dulu karena masih satu fakultas yaitu Ushuluddin maka SMJ lah istilah yang dipakai yaitu Senat Mahasiswa Jurusan. Sekarang sudah HMJ dan yang saya ketahui sejak 2010 hingga hari ini masih eksis. Kebetulan saya hidup di zaman ketua HMJ nya Mas Hammam Defa. Sebelumnya ada Mas Syaiful, Mas Rizal, Mas Tri, Mas Mundzir dan seterusnya. Kini tentu HMJ telah bertransformasi sesuai dengan kebutuhan zamanya.

Jurnalis TWI: Bagaimana corak di HMJ TP?

Bang Woks: Sebenarnya sama ya dengan organisasi yang lain. Akan tetapi yang membedakan tentu program, budaya dan visi misi di dalamnya termasuk juga setiap generasi pasti memiliki coraknya tersendiri. Tapi yang jelas di HMJ TP wajib membangun organisasi yang berideologi "kekeluargaan".

Jurnalis TWI: Terus yang Bang Woks ingat ketika berproses di HMJ itu seperti apa?

Bang Woks: Terus terang saya banyak mengenang dari HMJ TP ini, mulai dari fase mengenal, agak cupu, tertutup hingga merasa tidak menjadi apa-apa. Terus fase berikutnya ketika saya masuk di salah satu divisi di sanalah akhirnya saya menemukan gairah berorganisasi. Gairah tersebut muncul karena saya menyelami latar belakang jurusan hingga upaya ke depan apa yang dipersiapkan yaitu menghadapi segala tantangan.

Oh iya, dari HMJ pun atau organisasi pada umumnya saya mendapat banyak pelajaran seperti seni leadership, memanajemen waktu, saling menghargai, disiplin, komitmen, tanggungjawab, relasi, pengalaman baru, serta banyak lagi hal lain yang tidak bisa dijumpai di balik tembok kelas perkuliahan.

Jurnalis TWI: Program apa saja yang paling menarik dari ingatan tersebut?

Bang Woks: Sebenarnya banyak ya, namun yang paling berkesan adalah program yang kaitanya sosial seperti memberikan motivasi & santunan ke panti asuhan, kunjungan ke rumah sakit jiwa, penggalangan dana, membuat acara untuk anak berkebutuhan khusus, hingga forling (forum diskusi keliling). Selanjutnya program yang berkaitan dengan usaha meningkatkan kemampuan intelektual seperti diskusi, kajian, sharing, workshop, seminar hingga menulis buletin.

Jurnalis TWI: Apa sih arti organisasi bagi Bang Woks sendiri?

Bang Woks: Ya sebenarnya organisasi itu adalah sebuah kerja-kerja yang melibatkan banyak hal. Artinya organisasi adalah sebuah cara untuk bertindak secara kerjasama. Jika kita tau mudahnya organisasi adalah ibarat satu tubuh di mana setiap anggota memiliki tugas fungsi dan peranannya masing-masing. Sehingga dari sana kita paham bahwa organisasi itu penting bahkan berawal dari tubuh kita sendiri.

Jurnalis TWI: Terakhir, apa pesan atau tips untuk mahasiswa baru ketika sudah aktif di kampus?

Bang Woks: Ya pesan saya;
Pertama, kita harus mengingat visi apa yang dibawa sejak di rumah. Jika dari rumah kita dipesani orang tua untuk fokus kuliah maka fokuslah. Akan tetapi jika kita ingin mendapat wawasan baru berorganisasi lah. Namun ada lagi yang mengkolaborasikan keduanya yaitu mendapatkan pengetahuan sekaligus pengalaman. Di sinilah kita pahami untuk mengerti bagaimana caranya menjadi aktivis dan akademis.

Kedua, karena dunia kampus amat sangat terbatas maka galilah potensi kita dengan maksimal. Lakukan atau ikuti organisasi yang sesuai dengan minat kita. Tujuannya tak lain untuk mewadahi, mengembangkan dan menempa potensi diri. Jika ditanya apa manfaatnya? nanti kita akan tau ketika sudah terjun di masyarakat.

Ketiga, buang rasa malas dan bersemangatlah. Karena dengan begitu kita telah selangkah maju untuk menjadi manusia visioner. Jangan sampai kepercayaan dari orang tua kita sia-siakan begitu saja.

Keempat, pandai-pandailah menempatkan diri karena dewasa ini tantangan ke depan semakin keras. Jika tidak kuat secara mental dan iman kita akan terseok oleh segala macam godaan. Tetaplah tenang dan pupuklah rasa ingin tahu dengan rajin membaca. Dengan cara itu kita tidak mudah terkecoh atau dalam term Jawa aja gumunan, getunan, gupuhan dll.

Kelima, rawatlah pertemanan dengan baik. Karena teman adalah aset berharga yang kita temukan. Ia ibarat mutiara harus dirawat dengan penuh rasa kasih dan saling menghormati. Ingat bahwa lewat teman kita bisa belajar karena setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah.

the woks institute l rumah peradaban 3/3/21


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...