Langsung ke konten utama

Pesan Kyai Sholeh: Disiplin dan Rajin Shodaqoh




Woks

Catatan ini disarikan dari mauidhoh hasanah yang di sampaikan beliau al Mukarrom Kiai Mohammad Sholeh pengasuh PP Himmatus Salamah Srigading Tulungagung dalam acara Peringatan Isra Mi'raj dan Haflah Akhirussanah. Acara yang bertepatan dengan 29 rajab 1442 H tersebut dirasa sangat penting diingat oleh para santri karena ada beberapa point yang harus kita catat sebagai ilmu bekal kehidupan.

Setidaknya ada dua hal yang perlu diingat pada acara itu yaitu tentang kedisiplinan dan shodaqoh. Kata beliau santri itu harus disiplin baik dalam pikiran maupun perbuatan. Disiplin sangat penting diajarkan di pesantren karena akan melahirkan sikap mental yang tangguh, tidak cengeng dan mudah mengeluh. Kedisiplinan ditempa secara tegas guna menciptakan habitus sehari-hari. Tanpa sikap disiplin, santri hanya akan menjadi pribadi yang formal dan kaku. Segala sesuatu dilakukan hanya karena ada orang lain yang melihat dan menilai. Di luar itu mereka menampakkan sikap aslinya maka yang demikian itu adalah ciri orang munafiq.

Pesantren diharapkan dapat menjadi wadah sekaligus tempat efektif untuk menempa santri menjadi pribadi yang disiplin. Misalnya saja kedisiplinan dalam shalat berjamaah, mengaji kitab kuning, amaliah shalawat, bersih diri lingkungan, dan adabiyah selalu dibiasakan. Jika sejak di pesantren santri telah disiplin maka ketika pulang nanti ia telah siap menyambut perbedaan di masyarakat. Kita tau banyak santri yang luntur kesantrianya karena saat mondok dulu tidak serius dengan sikap disiplin. Mereka lebih banyak tergoda dengan hal-hal yang bersifat kesenangan sedangkan amaliyah dan ubudiyah pesantren tidak mendisiplinkan dirinya. Maka dari itu ayo disiplin sejak dini dan rasakan manfaatnya.

Beliau juga dawuh tentang shodaqoh. Bagi para santri jangan sampai berniat shodaqoh jika nanti sudah tertata hartanya alias kaya. Shodaqoh menunggu kaya sampai kapanpun tak akan sampai. Berapa banyak orang kaya yang secara duniawi telah bergelimang harta tapi nyatanya sangat minim shodaqoh. Shodaqoh bagi sebagian orang masih dimaknai sebagai hal yang mengurangi dan memberatkan padahal kebalikannya. Hal inilah yang disebut sebagai orang munafiq yaitu mereka ahlu shodaqoh dengan jalan terpaksa atau karena status gengsi di masyarakat.

Beliau juga membacakan kalam dalam tafasir Jalalayn yang berisi cerita Abu Tsalabah yang tidak mau mengeluarkan zakat, padahal pada saat itu hartanya berupa kambing sangatlah banyak. Singkatnya Tsalabah terkena warning dari Rasulullah bahkan beliau tidak menerima zakatnya. Lantas Tsalabah datang kepada Abu Bakar, Umar bin Khattab, hingga Usman bin Affan untuk sudi menerima zakatnya tapi para sahabat itu juga tidak mau menerimanya. Dalam riwayat Tsalabah wafat di zaman khalifah Usman bin Affan.

Tsalabah adalah gambaran orang kaya yang mau mengeluarkan zakat cuma karena sudah dipaksa sehingga ia dinilai sebagai orang munafiq. Maka dari itu berzakat atau shodaqohlah sedari dini dan biasakanlah. Kita tentu paham dalam setiap harta ada 2,5%nya milik orang lain sehingga perlulah diperhatikan masalah yang satu ini pesan beliau kepada santri.

Kata beliau orang shodaqoh itu seperti orang buta membawa senter dan tongkat di malam hari. Lantas ada orang bertanya, "orang buta saja bawa senter apa gunanya?" padahal jika tahu itu dia (orang buta) sedang menerangi orang lain. Artinya bahwa shodaqoh yang kita tunaikan itu akan kembali kepada yang memberikan. Logika shodaqoh memang akan selalu terbalik sebab dalam pandangan manusia harta yang dikeluarkan akan berkurang padahal dalam pandangan Allah harta itu akan terus bertambah berkembang. Karena zakat itu artinya tumbuh berkembang dan mensucikan harta.

the woks institute l rumah peradaban 15/3/21

Komentar

  1. Sikap disiplin dan berbagi sesama orang lain harus dilatih sejak dini. Agar kedua sikap tersebut sudah tertanam dalam hati. Salah satunya adalah dengan berproses di pondok. Karena di lembaga tersebut, santri di biasakan sikap disiplin dan tahu akan kewajiban maupun keharusan umat muslim untuk sedekah

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...