Langsung ke konten utama

Manusia Tembok




Woks

Dulu kita pernah mendengar ada manusia kardus. Manusia tipe ini bukan manusia yang terbuat atau tinggal di dalam kardus melainkan tipe manusia yang punya intrik dan propaganda dengan mengelabui orang lain lewat media kardus. Kita tentu harus puas dengan orang-orang semacam itu tapi di saat yang bersamaan kita juga merasa miris mendengarnya. Makna lain dari manusia kardus adalah mereka yang diabaikan karena kardus itu selepas dipakai langsung dibuang. Manusia kardus juga adalah tipe manusia yang tidak memiliki integritas di mana ia mudah terombang-ambing oleh hembusan angin orang lain. Sehingga pendirian manusia tipe ini sangat mudah goyah.

Manusia memang unik dan banyak jenisnya salah satunya selain manusia kardus ada lagi yaitu, manusia tembok. Manusia tembok adalah tipe orang yang percaya diri berlebihan bahwa yang ia lakukan adalah sebuah kebenaran. Manusia jenis ini sering kita jumpai apalagi saat ini era media sosial manusia tembok berjamuran di mana-mana. Yang paling mudah kita jumpai yaitu di tempat umum seperti kasir swalayan, teller tiket bus, penunggu kotak amal, juru parkir hingga di seisi warkop.

Sebenarnya apa yang mereka lakukan sehingga mendapat julukan the wall man. Sebenarnya yang dilakukan sangat sederhana yaitu tidak responsif terhadap orang lain. Mereka cenderung acuh tak acuh terhadap lawan bicaranya. Manusia tembok selalu beraksi dan tampak fokus hanya di depan gadget. Apalagi saat ini untuk sekadar memandang orang lain pun tak lebih penting ketimbang fokus di depat layar hp dengan game yang mengasyikkan itu. Bahkan dalam taraf ekstrim Budayawan Sudjiwo Tedjo mengistilahkan mereka dengan tidak berpancasila. Kata Mbah Tedjo orang yang berpancasila itu selalu ramah dengan lawan bicaranya sekalipun bertemu musuh. Orang yang juga menaruh perhatian kepada lawan bicaranya.

Saat kita bertemu manusia tembok apa yang akan dilakukan? tentu beragam ekspresi yang diberikan kepada mereka. Ada yang cenderung acuh saja tapi ada pula yang memberikan bentakan dengan tujuan agar mereka bisa belajar. Sikap demikian itu memang perlu perhatian khusus apalagi jika berurusan dengan pelayanan. Customer jika dihadapkan dengan pelayanan tentu berharap mendapatkan pelayanan terbaik tapi di lapangan masih saja ada orang dengan tipe manusia tembok. Mereka bisa sangat mungkin karena dulu pola asuhnya bermasalah termasuk juga dikondisikan oleh lingkungan.

Kadang arogansi pelanggan sering memuncak salah satunya karena si pramusaji bermental tembok. Mereka tidak memposisikan pepatah bahwa pelanggan adalah raja. Seharusnya di antara keduanya bisa saling mengerti dan memahami bahwa antar satu dengan lainya harus menaruh hormat. Si pelanggan tidak merasa tinggi dan si pelayang tidak merasa rendah diri. Maka tidak salah jika soal sikap dan pelayanan harus diutamakan. Kita mencontoh kasir atau petugas di stasiun pengisian bahan bakar mereka melakukan standarisasi kerja dengan SOP untuk bersikap ramah dengan pelanggan. Mereka harus menyapa di awal dan berterima kasih di akhir. Hal-hal yang demikian itu walau kecil akan tetapi dampaknya luar biasa. Sehingga dari itu kita harus bisa memposisikan bahwa manusia itu unik dan berbeda.

the woks institute l rumah peradaban 23/3/21

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...