Langsung ke konten utama

Pod-Writes bersama Bang Woks: Literasi Santri Membangun Negeri




Acara bincang santai ini membahas tentang urgensinya santri untuk berkontribusi lewat media tulis menulis.

Moderator: Mengapa sih tema santri dan literasi dipilih dalam acara ini?

Bang Woks: Sebenarnya tema literasi sudah lama digeluti santri cuma kita baru paham hari ini karena adanya teknologi. Secara historis literasi santri begitu subur terutama kalangan pesantren yang banyak melahirkan karya tulis. Kitab-kitab yang menjelaskan tentang berbagai macam keilmuan lahir dari dunia pesantren kita ambil contoh karya Syeikh Nawawi al Bantani, Syeikh Mahfudz Termas, Syeikh Ihsan Jampes, KH. Hasyim Asy'ari, KH. Bisri Mustofa, hingga KH. Maimun Zubair. Karya-karya tersebut selain bermanfaat hingaa kini kita juga perlu berbangga karena karya tersebut dikaji di berbagai majelis ilmu di dunia bahkan di Al Azhaar Mesir.

Di era modern literasi tentu lebih bergeliat lagi. Santri tidak hanya bergelut dengan turats justru santri harus mampu menjawab tantangan zaman lewat literasi digital dan teknologi. Maka dari itu tema literasi akan tetap relevan hingga kapanpun. Yang terpenting identitas kesantrian tidak luntur sekalipun zaman silih berganti.

Moderator: Bagaimana sih awalnya kok suka menulis?

Bang Woks: Awalnya mungkin karena dipengaruhi oleh bapak sejak kecil. Pada saat itu bapak sering memberikan klipingan koran dan majalah lama. Entah bagaimana akhirnya klipingan tersebut menjadi bacaan wajib. Karena saya tahu sejak saat itu buku belum begitu familiar di kalangan orang desa. Setelah itu puncaknya pada 2016 saya terinspirasi dari seorang teman yang menulis tentang filsafat hingga satu bulan berturut-turut tanpa pernah putus.

Darisanalah saya berkomitmen untuk turun gelanggang dalam hal menulis. Saya belajar dengan banyak orang yang ditemui dan gabung bersama komunitas menulis. Sejak saat itulah saya mulai asyik menulis dan menuliskan apa saja dari mulai yang sederhana hingga karya ilmiah.

Moderator: Ngomong-ngomong apa sih manfaat menulis itu?

Bang Woks: Banyak ya, cuma saya suguhkan beberapa saja seperti memperkaya wawasan kita. Karena dengan menulis berarti kita berproses belajar tiada henti. Hal itu pula yang berkorelasi dengan merawat pikiran kita agar tetap waras. Selanjutnya menulis bermanfaat karena kita turut berkontribusi dalam mengembangkan sekaligus menyampaikan pengetahuan kepada masyarakat.

Manfaat bagi diri sendiri tentu menulis dapat mengelola emosi dan bisa mengeluarkan toxin atau racun yang mengendap dalam diri. Dengan menulis kita akan terus merasa sehat.

Moderator: Apa pengalaman paling berkesan selama bergulat dalam dunia menulis?

Bang Woks: Semua pengalaman yang saya lalui bagi saya sangat berkesan. Akan tetapi jika boleh saya pilih setidaknya ada dua; pertama, ketika bisa mengikuti event menulis dan ternyata bisa juara. Hal itu menjadi pertanda bahwa perjuangan kita yang keras tidak pernah membohongi hasilnya. Selanjutnya saya merasa senang ketika mampu berjejaring dan bisa bertemu dengan mereka yang seiman dalam hal kepenulisan.

Kedua, adanya daya spiritual yang tidak bisa saya jelaskan. Yang jelas pada saat itu kegalauan saya bisa teratasi karena menulis. Saya merasa ada dorongan yang kuat ketika menyelesaikan tugas menulis tersebut. Pada akhirnya sesulit apapun tulisan kita akan selesai.

Moderator: Sebenarnya sepenting apa sih menulis itu bagi seorang santri?

Bang Woks: Wah menurut saya ini subjektif ya, karena tidak setiap orang merasa bahwa menulis itu penting. Bagi saya menulis itu bukan tentang kepentingan orang lain melainkan kepentingan sejarah. Jika kita paham dengan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain maka menulis adalah salah satu cara kita berkontribusi kepada masyarakat. 

Bahkan pentingnya menulis itu ibarat bernapas jika sehari tidak menulis hidup terasa hampa bahkan mati. 
Maka untuk menghidupkan dan melejitkan potensi diri ya salah satunya lewat jalan kesunyian alias menulis. Apalagi dunia santri banyak hal unik dan kaya di dalamnya lantas apakah kekayaan itu kita biarkan begitu saja. Tulislah.

Moderator: Mengapa harus menulis? apa tidak ada jalan lain selain menulis?

Bang Woks: Ya, karena kita di ranah akademik maka menulis menjadi ruh utama yang harus kita hidupkan setelah membaca. Bukankah hampir dari sebagian tugas kampus didominasi oleh tulisan baik berupa makalah, resume, jurnal hingga karya ilmiah. Mengapa harus menulis? karena itu sebagai tanggungjawab kita sebagai insan akademik apalagi santri Ma'had itu doble status ya santri ya mahasiswa maka tanggungjawab nya lebih besar hehe. Karena bagaimanapun juga kita ini orang pilihan. Tidak semua orang bisa beruntung dapat kuliah, maka saat kita mendapat pengetahuan lebih di sanalah urgensinya menulis.

Menulis juga sebagai sarana menzakati pikiran kita yang telah diamanahkan dari Allah. Maka berbagi itu tidak melulu soal uang, harta berupa pengetahuan dari berbagai hal yang kita dapatkan juga harus dikeluarkan zakatnya. Selanjutnya dengan menulis kita ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Setelah kita paham dengan hakikat menulis maka di sanalah kita tau mengapa kita harus menulis.

Moderator: Tips dan trik agar kita mau menulis?

Bang Woks: Sederhana saja ya pertama berawal dari diri kita memiliki niat dan tekad kuat apa tidak untuk berkomitmen menulis. Tidak usah banyak-banyak, cukup 1-3 paragraf setiap hari tujuanya untuk menciptakan habbit. Setelah merasa nyaman dengan metode menulis bebas maka selanjutnya adalah dengan menulis yang lebih mendalam.

Menulis lah akan hal-hal yang sederhana yang ada di sekeliling mu, tidak usah banyak alasan nulis ya nulis saja. Anggap semua adalah pembelajaran, tidak usah menganggap jika ada penilaian buruk dari orang lain. Toh kita paham tidak ada bajak laut yang dilahirkan dari ombak yang tenang. Maka dari itu percaya diri saja dan teruslah menulis tiada henti.

*Acara ini juga disiarkan melalui akun IG Ma'had Al Jami'ah IAIN Tulungagung.

the woks institute l rumah peradaban 29/3/21

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...