Langsung ke konten utama

Menghadapi Masalah II

Woko Utoro 

Hidup itu memiliki dinamika. Perjalanan menemukan problem menjadi hal biasa. Kata bijak bestari orang hidup itu akan bertemu masalah. Jika tidak ingin berhadapan dengan masalah maka jangan hidup. Semua hal dalam hidup adalah dalam rangka mendewasakan diri termasuk adanya masalah.

KH Anwar Zahid sering pidato terhadap masalah orang terbagi atas yang menghadapi, menghindari dan menikmati masalah. Semua hanya soal sudut pandang atau cara kita membaca problem tersebut. Bagi orang buta gajah itu kecil saat mereka memegang ekor. Gajah itu lebar ketika mereka meraba kuping. Dan gajah itu seperti ular meliuk-liuk saat mereka memegang belalai. Jadi intinya masalah apapun itu pertama yang harus kita siapkan adalah mental dan kedua mindset.

Dalam hidup kata KH Ahmad Asrori Al Ishaqi selalu menemukan masalah atau tantangan. Tapi pointnya pada pikiran dan hati. Kata beliau masalah itu tidak ada istilah besar kecil, semua sama. Atau bahkan yang dianggap kecil nampak besar dan sebaliknya masalah besar dianggap kecil. Lagi-lagi semua menguji bagaimana cara kita memperlakukannya. Jika kita dewasa maka masalah hanya serupa kanak-kanak. Sebaliknya ketika kita seperti anak-anak maka masalah itu seperti orang dewasa.

Intinya masalah apapun itu hadapi saja atau bahkan jangan dihindari. Saat kita yang menjadi akar masalah maka carilah jalan keluar, evaluasi diri dan berani tanggung jawab. Tapi ketika masalah terjadi pada diri orang lain jadilah bijak. Sikap bijak inilah yang memungkinkan kita bisa menikmati masalah. Pointnya yang terpenting kita jangan jadi sumber masalah. Syukur-syukur kitalah sosok problem solver atas masalah sendiri atau orang lain. Mari kita bertanya bahwa bukankah kita tidak sendiri. Sehingga masalah apapun pasti ada solusinya kecuali ketika kita pamit untuk "menyerah".[]

the woks institute l rumah peradaban 15/9/25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...