Langsung ke konten utama

Bahaya Ghibah




Woks

Syeikh : Lha kamu kok di sini?

Oi : Iya Syeikh

Syeikh : Kamu kan hmzz

Oi : Iya Syeikh benar saya tidak pernah ibadah selama hidup. Trus saya tanya malaikat mengapa bisa ditempatkan di surga

Syeikh : Trus kenapa katanya?

Oi : Itu Syeikh saya dapat longsoran pahala dari tetangga yang suka ghibah kepada saya padahal dia seorang abid (ahli ibadah)

Dari percakapan singkat tersebut amat jelas bahwa ghibah atau bergunjing sangat berbahaya. Bahkan agama sudah menyebutkan di Al Qur'an bahwa ghibah dapat merontokkan amal. Ghibah diibaratkan seperti api yang melahap pagar kayu hingga habis.

Orang yang suka ghibah sangat enak memang dan sangat tidak terasa. Saking enaknya seseorang sampai lupa hingga akhirnya amal telah habis diberikan kepada objek ghibah. Tapi ironisnya penyakit ghibah ini justru menjadi program televisi yaitu infotainment gosip. Sehingga kita menjadi pesimis karena penyakit ini terus disebar di tengah masyarakat.

Kapan kita akan dewasa jika orang lain masih menjadi konsumsi sedangkan diri sendiri tidak dipikirkan. Maka dari itu membicarakan aib orang lain sebenarnya sangat menjijikkan. Dalam Al Qur'an disebutkan seperti memakai bangkai saudara sendiri. Tapi apa boleh buat pekerjaan renyah tersebut sudah menjadi konsumsi publik. Terlebih baik di desa maupun kota aktivitas desas-desus antar tetangga tidak bisa dihindarkan. Lebih lagi pada mereka yang hidupnya tidak jelas, penuh rumor, mencurigakan dan lainya.

Maka dari itu menurut saya sebaik-baik ghibah atau ngrasani adalah berbicara seputar keilmuan, teoritik, pemikiran, analisis, buku dan lainya. Dengan cara itu orang-orang akan mengira bahwa ada ghibah positif yaitu membicarakan tokoh dan keilmuannya. Jika sudah begitu orang lain dan aibnya tidak menjadi topik utama melainkan bicara ilmu, bicara masa depan.[]

the woks institute l rumah peradaban 6/1/23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...