Langsung ke konten utama

Tikus Berdasi dan Petani




Woks

Setelah kemarin membahas tikus sebagai hama kini dalam tulisan ini akan membahas tentang tikus berdasi. Tikus berdasi sebuah istilah yang sangat familiar sebagai tokoh intelektual pemeras uang rakyat. Tikus berdasi juga bermakna orang berpendidikan tapi sukanya menggerogoti proyek di atas kesengsaraan rakyat. Salah satu korban tikus berdasi adalah petani.

Di desa tentu petani menjadi warga kelas dua padahal sejatinya petani adalah aset utama penyumbang APBN. Selama ini petani memang selalu menjadi korban pengkhianatan tikus berdasi. Padahal riil di lapangan mereka mengirimkan wakilnya (DPR) untuk memperjuangkan kesejahteraan bukan memperkaya individu. Cuma fakta di lapangan petani memang demikian karena faktor pendidikan rendah sehingga mereka selalu jadi korban tikus tersebut.

Kejahatan kerah putih memang ada di mana-mana. Bahkan di tingkat desa sekalipun hal-hal busuk demikian sudah bukan rahasia umum. Lebih lagi bagi petani berhadapan dengan tikus berdasi dan turunannya sudah keseharian. Misalnya petani juga tak jarang terlibat dengan lintah darat alias orang yang suka meminjamkan uang dengan bunga selangit. Maka tak aneh jika saat panen petani menjerit karena harus membayar hutang dengan nominal yang fantastis. Belum lagi ongkos produksi yang semakin mahal membuat petani sudah jatuh tertimpa tangga.

Tikus berdasi dan anak turunya memang momok bagi petani. Karena mereka menggerogoti aset negara maka tak ayal jika sistem perpolitikan sejak lama selalu belum memuaskan hati. Perpolitikan sampai suksesi kepemimpinan masih belum dipercaya sepenuhnya. Masyarakat sudah kehilangan kepercayaan karena sebenarnya kepercayaan itu dikonstruk oleh mereka sendiri. Selama ini masyarakat juga senang dengan konsep demokrasi bobrok ala desa misalnya KKN, jual beli jabatan, money politics dll. Masyarakat alih-alih menghindari dan mencetak pemimpin justru malah berharap akan uang-uang curang tersebut. Sehingga lingkaran setan tersebut sulit diputus.

Jika bicara tikus berdasi dan petani tentu yang menarik adalah analisis D.N Aidit. Salah satu pendiri Partai Komunis Indonesia itu mengistilahkan tikus berdasi dengan setan-setan desa atau kaum penghisap. Hal itu ia munculkan dalam sebuah risalah kecil tahun 1964 berjudul "Kaum Tani Mengganyang Setan-setan Desa 1964" diterbitkan oleh Yayasan Pembaruan Jakarta. Setan desa yang ia maksud adalah tuan tanah, lintah darat, tukang ijon, tengkulak, kapitalis birokrat, dan tani kaya. Tentu analisis Aidit tersebut dilatarbelakangi oleh ideologi partai yang menekankan pada persamaan rasa-rasa.

Bagi hanyak kalangan petani memang elemen yang mesti harus dibela. Salah satunya Bung Karno dengan gagasan Marhaenismenya. Bagi Bung Karno ketimpangan kelas ekonomi sangat pahit dialami oleh petani. Padahal kontribusi petani bagi negeri sangatlah besar. Tidak salah ketika Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy'ari mengapresiasi pekerjaan tani sebagai penolong negeri. Akan tetapi kedepannya bagaimana petani dapat berdaya saing dan terhindar dari jerat tikus berdasi tersebut itu yang penting.

Bagaimana petani dapat tumbuh kesadarannya serta keluar dari lingkaran setan. Petani harus memulai dari dirinya sendiri dan cara itu lewat pendidikan. Dengan pendidikan petani menjadi tercerahkan bahwa problematika berada dekat di sekitar mereka. Jika sudah tahu demikian tinggal mengatur strategi untuk bersama-sama membasmi tikus berdasi paling sederhana adalah menginsyafi pikiran sendiri yang ternyata masih terjajah segala kepentingan pribadi.[]

the woks institute l rumah peradaban 22/1/23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...