Langsung ke konten utama

Santri Bicara Abad Baru NU




Oleh : Woko Utoro

Saya sangat beruntung pernah dibentuk dalam lembaga pendidikan di bawah NU. Suatu kebanggaan sekaligus menjadi motor penggerak dalam melangkah dan mengambil keputusan. Di tempat saya tinggal menjadi NU itu masih malu-malu kucing. Saya tentu maklum karena dulu daerah tempat saya tinggal jangankan NU sebagai jama'ah dan jam'iyyah, agama dan pendidikan pun masih belum terjamah. Akan tetapi dunia begitu cepat berubah dan kini NU seolah menjadi basis terkuat di masyarakat.

KH. Said Aqil Siradj pernah mengatakan bahwa kekuatan terbesar NU di kalangan akar rumput adalah bersatunya tradisi dengan agama. Sehingga tanpa disadari segala macam amaliyah yang berkembang adalah hasil warisan para walisongo, masyayikh, kiai, ulama, sesepuh NU. NU, Islam dan sosial yang ada justru menjadi identitas nyata berkembang hingga kini. Keislaman dan ke NU an justru tidak saling berkonfrontasi melainkan berintegrasi. Bahkan Islam dan Sunda seolah telah menyatu jika menyebut Sunda sudah pasti Islam dan sebaliknya. Hal inilah yang dalam bahasa KH. Said Aqil Siradj sebagai modal social capital.

Saat ini NU akan menghadapi abad keduanya pada 16 rajab 1444 atau 7 Februari 2023 mendatang di mana awalnya NU didirikan pada 16 rajab 1344. Momen seremonial dan resepsi sudah dipersiapkan bahkan kick off sudah dimulai sejak KH. Yahya Cholil Staquf menjabat sebagai ketua umum PBNU. Sebuah momentum kebangkitan yang harus disyukuri. Salah satu hal menarik untuk menyongsong satu abad NU adalah berkaitan dengan peradaban, teknologi, ekonomi, kaderisasi, perempuan dan kebudayaan.

NU menyasar banyak hal karena memang zaman dan medanya telah berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana qadim ash sholih wa jadid al ashlah serta spirit khittah 26 masih dipegang teguh. Dengan begitu perubahan zaman seperti apapun bisa dikendalikan. NU yang sejak lama oleh banyak peneliti dikategorikan sebagai organisasi tradisional kini justru bertransformasi begitu cepat. NU dikenal adaptif walaupun pergerakannya masih cenderung lambat. Akan tetapi sejak lama NU justru banyak menghasilkan keputusan yang luar biasa dalam bidang agama, politik, kebangsaan dan kewarganegaraan.

Perubahan di tubuh NU dapat dirasakan setidaknya dalam dua aspek yaitu tradisionalitas dan modernitas. Pada aspek tradisional sebenarnya tidak terlalu signifikan hanya saja saya melihat amaliyah NU semakin nampak ke permukaan. Termasuk sarung seperti menjadi identitas khas kaum pesantren. Sarung menjadi identitas nasional yang sama dengan kopiah. Bahkan saat tahun politik siapa saja bisa mengaku NU dengan gaya khasnya bersarung, berkopiah.

Begitulah NU kata para kiai organisasi ini laiknya tebu jika sudah diperas sari patinya maka setelah itu dibuang. Atau dalam bahasa Gus Miftah NU itu seperti lengkuas pada sayuran awalnya dicari setelah sayur masak lengkuas akan dipinggirkan pertama kali. Tapi tentu fenomena itu tidak aneh sudah sejak lama. Bahkan dalam berbagai macam permasalahan kebangsaan NU selalu disuruh di garda depan. Ketika suasana sudah kondusif orang lain akan merapat kembali dan NU dicampakkan.

Soal perubahan pada aspek modernitas tentu NU sudah dirasakan saat ini. Aspek ini barangkali sudah dimulai sejak KH. Abdul Wahid Hasyim dan puncaknya oleh KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Modernisasi di tubuh NU sangat nampak apalagi di era digitalisasi. Dalam pembukaan launching NUtech, Nyai Yeni Wahid mengatakan bahwa NU itu semakin aneh ketika banyak orang menyebut organisasi tradisional tapi mampu bicara teknologi. Dalam hal pemikiran pun era saat ini NU melalui Gus Yahya dan Gus Ulil tengah getol mendiskusikan halaqah peradaban ke berbagai pesantren. Hal itu bertujuan untuk menguatkan jaringan bahwa pesantren memiliki peran vital dalam upaya pemecahan permasalahan baik skala lokal maupun global. Jika sudah demikian apakah NU masih layak disebut organisasi tradisional?

Bagi Gus Dur NU adalah pesantren besar dan pesantren adalah NU kecil. Sehingga cita-cita NU sebagai gerakan agama dan sosial dapat menjadi perahu yang menghantar penumpangnya ke dalam keselamatan. Tidak salah juga jika NU segera menggagas perhelatan akbar berupa perkumpulan pemuka agama dunia lewat Religion 20 (R20) yang sebelumnya NU juga sukses mengadakan muktamar ulama sufi dunia di Pekalongan. Bagi NU sebuah organisasi masyarakat yang tujuannya tidak hanya kesejahteraan anggota, peradaban, perkhidmatan akan tetapi agama sebagai solusi. Jadi kontribusi agama justru menjadi soko guru dalam pergerakan organisasi. Dengan agama organisasi dapat terkendali dan mampu mengontrol syahwat politik. Yang jelas dalam bahasa Gus Dur jangan sampai agama diformalismekan ke dalam sebuah tatanan negara. Negara hanya cukup menjadikan agama sebagai sumber ajaran hidup dan sumber inspirasi.

Ke depan NU tentu akan menghadapi suatu zaman yang tak menentu lebih lagi arus digitalisasi yang sulit dibendung. NU harus benar-benar berkomitmen membawa jamaahnya bertransformasi secara hati-hati. Karena organisasi besar rawan untuk dimanfaatkan oleh berbagai pihak. NU harus kokoh dan mandiri. Kunci bertahannya NU hingga 1 abad ini kata Gus Yusuf Chudori tak lain karena organisasi ini diridhoi oleh Allah. Termasuk kata Mahfud MD karena konsistensi NU dalam berdakwah secara luwes maka NU masih eksis di usia yang sepuh ini.[]

the woks institute l rumah peradaban 24/1/23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...