Langsung ke konten utama

Kisah Seorang Sekretaris Desa




Woks

Kemarin saya mendapat pelajaran berharga dari seorang teman. Ia adalah teman sejak di MTs sampai ke tingkat Aliyah. Kini profesinya adalah sebagai seorang sekretaris BumDes, namanya Ang Irfan Ependi. Sejak memutuskan keluar dari pekerjaan di salah satu toko aksesoris ia memilih jalan masuk dalam pemerintahan.

Kata Ang Irfan semua hal yang dilakukan harus didasari dengan rasa ingin tahu, mau belajar dan suka tantangan. Tapi menurut pengakuannya pembelajaran terjun di masyarakat adalah pengalaman berharga sedangkan hal-hal teknis lainnya dipelajari secara otodidak. Ang Irfan memulai kisahnya dari pertama bertugas yaitu membentuk keanggotaan, menyusun program BumDes, mengalokasikan dana dll.

Cerita berlanjut mengenai survei ekonomi di masyarakat atau disebut Resosreg. Survei ini adalah salah satu cara mengetahui keadaan ekonomi penduduk di suatu wilayah selain sensus penduduk, pertanian dan lainya. Kata Ang Irfan dengan terjun ke masyarakat kita jadi tahu kondisi riil di lapangan. Memang benar bahwa masyarakat itu sangat beragam ada yang kaya, miskin, sederhana. Ada yang cuek, ramah, dermawan, pelit, keras, kritis, datar dan ragam ekspresi lainnya. Begitulah masyarakat tidak bisa disimpulkan secara merata dalam hal apapun.

Ang Irfan juga bercerita kerasnya hidup dalam pemerintahan. Bukan rahasia umum lagi jika di pusat kekuasaan selalu ada orang dalam, bagi-bagi aset, bagi-bagi proyek, mencari keuntungan, saling tilep, pencitraan, pungutan liar, mahar-mahar, jatah politik, dll. Akan tetapi tanpa kita masuk ke dalam pusat kekuasaan tidak akan tahu bobroknya. Maka dari itu untuk memperbaiki keadaan itu perlu kita juga turun ke lapangan. Ang Irfan selalu menekankan optimisme jika ingin merubah keadaan perlu dari dalam diri kita sendiri.

Bagaimana pun juga desa tetap desa. Ada sebagian yang masih belum tersentuh pendidikan memadai. Sehingga hal itu mempengaruhi pola berpikir dan menentukan kebijakan. Rerata orang-orang yang kerja di desa justru masih didominasi kaum tua dengan pikiran khasnya yaitu kolot. Maka dari itu ada pemuda yang masuk ke dalam sistem guna menjadi penyeimbang.

Di desa itu lucu kata Ang Irfan. Misalnya soal bantuan jika di sini (Desa Gantar Indramayu) orang itu cenderung ingin mendapat bantuan. Sedangkan secara fakta mereka tidak berkaca diri bahwa sudah jelas bantuan diberikan pada orang dengan ekonomi ke bawah. Tapi nyatanya orang-orang kaya di sini juga tak luput dari meminta bantuan tersebut. Soal bantuan PKH, BPNT, BPI, subsidi beras, subsidi pupuk, orang-orang justru tidak ada bedanya dan semua menginginkannya.

Kata Ang Irfan menutup kisahnya. Jika belum kuat iman jangan berani masuk ke dalam pusat kekuasaan sekalipun itu di desa. Praktek saling jegal, saling sikut, penjilat, makan gaji buta, desas-desus, pencemaran nama baik dll akan sangat familiar kita temui. Maka dari itu bersiaplah untuk mengatakan "No" dalam praktek apapun lebih-lebih soal risywah (suap).

Tapi walaupun desa banyak boroknya kita harus menanamkan optimisme bahwa di sana juga ada perjuangan. Orang-orang kerja di desa itu 24 jam terus melayani masyarakat bahkan kadangkala mereka datang ke rumah secara pribadi. Demikianlah desa dan kita sesungguhnya hanyalah seorang pelayan. Maka dari itu dalam konteks apapun jika bekerja niatkan untuk ibadah dan untuk masyarakat bukan pribadi.[]

the woks institute l rumah peradaban 5/1/23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...