Langsung ke konten utama

Tikus dan Petani




Woks

Awal Januari 2023 ketika saya pulang kampung ada satu kisah menarik yang akan saya catat dalam tulisan ini. Kisah itu tentu berkaitan dengan kebudayaan agraris yaitu petani vs hama dalam hal ini adalah tikus. Kisah petani dan tikus sangat santer di dengar khususnya di tahun ini. Atau dalam pendapat bapak saya hama tikus menyerang luar biasa mengikuti siklus 5 tahunan. Entah hitungan dari mana yang jelas petani memiliki pandangan tersendiri terhadap shio (Cina), horoskop, weton, musim, astronomi atau segala macam perhitungan dll.

Cerita itu begitu khas dan mengkhawatirkan ketika saya mendengar langsung dalam sebuah acara tahlilan di tetangga barat rumah. Ada petani yang bercerita bahwa hama tikus tahun ini mengingatkan tahun 70an atau awal tahun 2000. Di mana dulu petani kewalahan melawan hama tikus yang merusak segala macam tanaman. Tidak sedikit pula petani yang stres atau pingsan di sawah karena melihat padinya tidak bisa panen alias gagal. Dulu ada perbedaan hasil antara sawah di desa (baca: pemukiman) dan di hutan. Akan tetapi saat ini keganasan tikus membuat petani menyerah.

Saya mendengar langsung bahwa tikus di sawah maupun di rumah sudah seperti kartun Tom dan Jerry. Mereka saling kejar mengejar demi merebutkan makanan. Bahkan tidak sedikit petani yang menyebutkan bahwa hama tersebut merupakan tikus siluman. Saya kadang ingin tertawa mendengar kisah petani yang katanya tikusnya seperti meledek, tikus tidak takut senjata maupun insektisida jenis apapun. Bahkan ada yang menyaksikan jika tikus-tikus tersebut saling bercakap-cakap, bermusyawarah menyusun strategi penyerangan, hingga menarik sesamanya yang menjadi korban amukan petani.

Bagaimanapun benar atau tidaknya yang jelas cerita itu riil dan banyak petani mempercayainya. Hingga akhirnya paling jauh petani hanya bisa berpasrah kepada Tuhan. Jika misalnya tanaman mereka panen tentu zakat dan rasa syukur akan tetap dikeluarkan. Jika tidak panen apa mau dikata semua sudah memiliki bagiannya tersendiri. Kata petani dibandingkan dengan keong, burung, kepiting (yuyu), sundep beluk, hama tikuslah yang paling ganas.

Menjadi petani memang susah-susah gampang. Petani harus sabar dan konsisten karena tani adalah pekerjaan sepanjang musim. Alias pekerjaan yang hanya mengandalkan musim, musim hujan (rendeng), tanam, kemarau (ketiga). Akan tetapi kontribusi petani bagi bangsa tidak bisa dianggap remeh. Karena petani adalah pondasi dasar masyarakat dapat mempertahankan kehidupan. Salah satunya lewat mengolah tanah tersebut.

Kita kembali ke topik tikus. Pernah saya bertanya apakah tidak ada cara petani untuk merekayasa misalnya alat tangkap tikus. Atau misalnya membuat jebakan dengan media makanan yang dilumuri racun. Ternyata sudah banyak cara dilakukan untuk mengurangi hama tikus bahkan petani rela membeli seng sebagai penutup tapi hasilnya tetap nihil. Cuma di beberapa wilayah ada petani yang menggunakan bom rakitan untuk mengusir tikus. Atau juga di berbagai wilayah seperti di Lamongan, Majalengka, Cilacap, Bojonegoro dan Demak ada tradisi gropyokan alias membasmi tikus secara gotong royong. Dari sanalah masyarakat justru melahirkan kearifan lokal yang tentunya ramah lingkungan.[]

the woks institute l rumah peradaban 21/1/23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...